《[Indonesian] Great world traveler》chapter lima
Advertisement
~
Pernah ada yang mengatakan,
'jangan buat seorang gadis menunggu'.
Kalimat itu tentunya di tujukan bagi sepasang kekasih. Banyak cabang makna dalam kalimat itu. Jika berpikir dari cabang negatif, maka yang terpikirkan adalah untuk tidak membuat si gadis menunggu terlalu lama untuk kedatangan lelakinya di ranjang. Sedangkan cabang positifnya adalah untuk tidak membuat si gadis menunggu terlalu lama akan kepulangan lelakinya.
Dan situasiku ada di cabang positif.
Bagaimana pun aku akan berusaha secepat mungkin mencapai tujuanku. Walaupun waktu normal tercepat untuk kesana adalah 2 bulan, aku akan melampauinya. Kerinduanku mengalahkan batasku.
Setelah check out dari penginapan, aku mendapat sedikit informasi tambahan dari pemilik penginapan. Mungkin ini karena aksiku tadi malam, yang membuat seisi ruangan ribut.
"Kamu terlalu berani untuk menerima taruhannya, nak. " ujar pemilik penginapan dengan santai.
"Aku sangat yakin dengan kemenanganku! " jawabku deangan yakin.
"Haha... Aku tidak tau dengan pasti dimana Academy town itu. Tapi kalau mungkin aku bisa membantumu sedikit," [pemilik penginapan]
Ibu pemilik penginapan ini ingin membantuku tentang sesuatu. Itu mungkin tentang academy town, tapi bantuan semacam apa itu?
"Ya... Boleh saja. Apa itu? " [Armil]
Lalu ia mengambil selembar kertas dari bawah meja resepsionis. Itu...
Selembaran pengumuman.
"Ini... "
Aku di berikan selembaran kertas berisikan tentang academy town yang membuka penerimaan murid baru. Disana juga di jelaskan rute untuk ke Academy town. Sebenarnya meskipun tanpa menggunakan ini aku sudah tau di mana Academy town itu. Tapi supaya tidak menimbulkan masalah lebih banyak, menggunakan ini mungkin lebih baik.
"Semoga perjalananmu lancar, nak."
"Ya, Terimakasih... sampai jumpa. "
Dia orang yang baik.
Aku tidak banyak bicara pagi ini. Setelah mengucapkan "sampai jumpa" dan memberikan senyuman, aku meninggalkan penginapan. Selembaran tadi kulipat dan kumasukan kekantong jubahku.
Untuk penyimpanan barang dalam jumlah besar aku memiliki semacam 'item room', dimensi hampa yang hanya berfungsi sebagai penyimpanan benda mati. Sayangnya aku tidak memilikinya saat ini. Aku meninggalkannya bersama Felis.
Mencari tempat yang sesuai aku memanjat gedung tertinggi di kota. Dari atas sana aku melihat ke kejauhan.
(Masih sangat jauh)
Aku melihat ke kejauhan, dimana tempat matahari terbit, yang mana disanalah tujuanku. Seperti yang kukatakan sebelumnya, normalnya waktu yang di butuhkan untuk ke Academy town adalah 2 bulan menggunakan kuda. Aku akan membuatnya menjadi 3 hari paling lambat.
Mungkin aku akan melewatkan banyak pemukiman setelah ini, yah aku tidak peduli. Kecepatan kuda biasanya berkisar antara 40-70 km/jam. Menurut perhitunganku jika mereka berjalan fulltime ke Academy town dan mungkin akan mengurangi menjadi 1 bulan , maka kira-kira jaraknya adalah sekitar 40000 km lebih, itu termasuk perjalanan memutari pegunungan dan hutan-hutan berbahaya, tapi karena mereka tidak berjalan fulltime pasti jaraknya kurang dari itu. Sedangkan untuk saat ini kecepatan penuhku adalah 1000 km/jam menyamai kecepatan suara. Maka kira-kira paling cepat aku akan sampai dalam 2 hari, tapi karena aku butuh istirahat maka akan jadi 3 hari.
Saat ini aku belum mampu untuk mencapai kecepatan cahaya, hanya sekali saat penyebrangan antar dunia. Itu karena aku menitipkan sisanya pada Felis.
Aku juga punya taruhan dengan si Raja taruhan Cordy. Apa ia memang mau membunuhku? Waktu tenggang taruhannya adalah 1 Bulan sedangkan waktu yang dibutuhkan untuk ke academy juga 1 Bulan. Kenapa ia tidak memperpanjang waktunya sedikit. Tapi terserah, aku akan mencapai academy dalam waktu 3 hari.
Jadi tujuan utamaku saat ini adalah Academy town. Tanpa memperpanjang waktu, sebaiknya aku segera berangkat.
"Baiklah, ayo berangkat"
Setelah mengatakan itu, aku menghilang dari kota Jerkin.
~~~
Berjam-jam aku berlari, melewati banyak hal, hutan, kota dan desa. Beberapa kali aku mengejutkan para petani, dengan wujud sesosok hitam yang bergerak cepat. Dan beberapa kali juga aku menghajar dan mengahancurkan, monster dan pohon yang menghalangi jalanku.
Hanya ada sekali aku singgah di sebuah kota dan menyempatkan diriku untuk membeli makanan untuk makan malam, makanan hangat yang lezat. Kemudian aku melanjutkan perjalanan setelah memastikan makanan terbungkus dan tersimpan kehangatannya.
Advertisement
Hari menjelang malam dan aku harus segera mencari tempat beristirahat. Aku tidak tau sudah berapa jauh perjalananku, aku malas menghitungnya secara numerik.
'Tempat beristirahat', pada saat aku menggumamkan itu, saat itulah aku menemukannya. Aku mendeteksinya dengan mataku, kemampuan melihat jarak jauh. Dan mendeteksi benar keberadaannya dengan kemampuan persepsi, yang bagaikan radar, mendeteksi pada radius 10 km lebih.
Desa yang terbengkalai, atau mungkin desa yang hancur, itu kesimpulan awalku. Suasana disini benar-benar menyeramkan, tapi tidak jika aku tidur dengan memandang keindahan cahaya bintang dilangit malam.
Aku tau desa ini awalnya milik manusia dengan melihat peralatan dan perabotan mereka. Namun sekarang sepertinya sudah di tempati oleh mahluk yang berbeda. Tidak ada cahaya selain cahaya bintang malam ini, aku heran kemana perginya Bulan. Sia-sia saja jika adanya desa tapi tak ada cahaya, yah... Aku tau ini adalah desa mati, tapi... memiliki suara bising desahan menjijikan? itu Aneh untuk sebuah desa mati.
Itu membuatku tidak bisa tidur, sehingga aku harus melakukan sesuatu tentang hal itu. Tapi nanti setelah aku kenyang, jadi untuk saat ini aku harus menganggap itu hanyalah musik penghibur dimalam hari.
Saat ini aku sedang berada di bangunan tertinggi yang seperti menara, hanya saja tidak memiliki atap karena sudah rusak. Ada beberapa kain dan kapuk. Aku pun menatanya hingga dapat digunakan untuk bersantai sambil menatap Bintang. Setelah itu aku mengeluarkan makan malamku dari bungkusan kain, berupa daging panas dengan sayur rebus. Hanya sebuah makanan yang sederhana, tapi perut laparku membuatnya terasa istimewa.
"Ini lezat... " Gumamku.
Makan daging bercampur sayur, dengan sekantong air untuk minum, sambil memandang Bintang dilangit malam, dan dihibur dengan musik desahan dimalam hari.
Untuk bagian terakhir adalah hal yang ku paksa untuk dianggap sebagai 'indah'.
"Tapi sampai kapan musiknya akan berhenti... Aku terpaksa harus mematikannya nanti."
Aku benar-benar akan mematikannya nanti, karena aku tidak akan bisa tidur jika musik itu masih hidup.
.....
"Eeee.... "
Sendawa, tanda perutku sudah kenyang dan makananku pun sudah habis.
"Kenyangnya.... "
Aku mengabaikan makan siang dan hanya makan malam saja. Meski tadi siang aku tak merasa lapar tapi sekarang laparnya dua kali lipat. Aku menahan sarafku tadi sehingga aku tak merasakannya. Yang penting sekarang aku sudah kenyang, dan setelah istirahat sebentar, aku akan beraksi kemudian.
"Hua.... Aku masih penasaran dimana Bulan bersembunyi, hanya ada Bintang saja tak membuat malam menjadi terang. Tapi Indah. "
Di sekitar ruangan bobrok ini aku menemukan beberapa belati dan pisau meski tidak begitu tapi masih bisa di gunakan.
"Kurasa ini cukup. "
Dua belati dikedua tanganku dan beberapa pisau di kantongku. Ini cukup untuk pertempuran sederhana. Aku tidak tau berapa jumlah musuh, mungkin ratusan. Tapi tugasku hanya mematikan musik, itu saja.
Berdiri di jendela yang bobrok, aku memandang kebawah. Sekitar 7 meter ketanah dari tempat aku berdiri. Bukan masalah jika aku lompat ke bawah, malahan tanah itu yang mungkin tidak akan kuat menahannya.
"... Baiklah, ayo lompat. "
Sampai saat ini, aku hanya bergumam sendiri. Itu adalah kebiasaan burukku saat sendiri, jika ada yang melihatnya aku akan dianggap Gila...
Aku pun mencapai tanah, dengan lubang jejak kakiku yang tercetak di tanah. Jika orang normal ia akan langsung patah kaki ketika meniru adeganku barusan. Dalam artian aku bukanlah orang normal, lebih tepatnya abnormal.
Tak kusangka respon musuh begitu cepat. Baru saja aku berusaha melihat apa yang ada di depanku, aku langsung disambut oleh banyak musuh. Musuh alami para petualang, Goblin.
Aku malas menghitung mereka dan memperkirakan jumlah mereka. Lagi pula kuantitas tak berlaku bagiku, yang hanya kualitas. Aturan perang 'kemenangan ditentukan oleh jumlah', aku sudah lama mematahkan sistem itu terhadap diriku. Mungkin aku memang sombong, tapi itulah kenyataannya.
Mereka semua waspada terhadapku. Aku juga memperhatikan genggaman yang semakin erat pada senjata mereka masing-masing. Sebegitu berbahayanya kah diriku?.
Advertisement
Aku lupa, insting mereka seperti hewan. Sehingga dapat mengantisipasi musuh.
"Ada yang mau maju duluan? "
Ya ampun kenapa aku masih bercanda disaat seperti ini.
"GUGAA.... "
Satu goblin maju sambil mengangkat pedangnya.
""Guga.... Guga..... ""
Dan diikuti oleh yang lainnya.
"Wuw... "
Mereka menyerang berkelompok. Ini sama sekali tidak adil. Tapi tunggu, aku tidak perlu takutkan? Ya sudahlah.
Tanpa ragu aku juga maju, menuju ke goblin itu. Dan memakai penutup kepalaku.
……
sret
Aku tak merasakannya.
sret sret
Ini masih lembut.
sret sret sret
Ini terlalu cepat.
Tepat saat aku bergerak, memposisikan dua belati dengan kuda-kuda bela diri. Menebas goblin pertama dengan lembut tepat dileher. Lanjut dengan gerakan memutar menebas lima goblin dalam satu waktu. Ayunan belatiku yang serupa tarian pisau, menciptakan angin tajam yang juga menebas goblin yang tidak dalam jangkauan belatiku. Dan tak kusadari aku sudah menyelesaikan semuanya.
Aku menyesal melupakan sesuatu. Aku baru saja membuat jubahku kotor, dengan darah dan daging yang menjijikkan.
(Sialan! Huft... Ya sudah apa boleh buat)
Ini sudah terlanjur, jadi aku berniat untuk melanjutkannya saja. Aku akan membersihkan nya di sungai nanti.
Suara musik masih terdengar, aku beruntung itu mempermudahku untuk mencapai asalnya.
Terimakasih sekali lagi kepada Zelioth. Berkat jubah ini seragam sekolah yang kugunakan masih bersih. Meski tidak untuk sepatuku. Harusnya aku mengganti pakaian dulu saat akan kedunia ini. Aku menyesal, aku terlalu berantusias akan ke dunia ini kemarin. Yah, salahku.
Sambil mengikuti suara itu, aku bergerak dan menebas setiap goblin yang mendekat, kadang aku menendang kadang memukul. Namun sekali lagi aku dibuat lupa akan kekuatanku.
Saat aku menendang satu dari mereka, satu itu terpelanting menembus rumah-rumah, atau saat mengenai kepalanya, kepala itu hancur menjadi serpihan daging.
Saat aku memukul mereka, jika itu didada maka akan tembus sampai mengenai goblin lain yang dibelakangnya. Saat aku memukul kepala, kepala itu hancur.
Dan pilihan terbaik adalah menebas mereka, sehingga hanya akan menghasilkan irisan-irisan daging saja.
Hasilnya sekarang adalah tangan dan kakiku yang berlumuran darah, dan jubahku yang diselimuti darah. Bukan darahku. Mungkin sudah lebih dari seratus goblin yang kubunuh saat ini.
Aku pun sampai.
Suara itu berasal dari sebuah rumah besar yang disana terdapat lorong kebawah tanah. Kurasa mereka membuat tempat dibawah tanah sebagai tempat spesial untuk melindungi barang spesial. Sekarang percuma, aku akan melakukan sesuatu dengan itu dan barang spesial itu.
Aku masuk, sambil melangkah pelan.
slash slash slash
Lima goblin mati, lalu berdatangan lagi dan lagi. Semuanya kutebas.
Hingga aku sampai dipengakhir, tempat dimana musik menyala, dari suara desahan perempuan manusia.
.....
"Aah... "
"Uh, uh... Ah..."
"Arhg... Aaah... Ah.. "
"Astaga"
Begitu menjijikan.
Apa yang kulihat begitu menjijikan. Dan sambil diwaspadai oleh dua goblin yang aneh.
Perut buncit, telanjang, sambil dimainkan oleh goblin.
(Oi, apa kalian tak menyadari ada aku disini!!)
Aku ingin mengatakan itu, melihat mereka yang tak peduli akan kehadiran ku.
Beberapa ada yang berlinangan air mata, tapi raut wajah senang, juga dengan perut buncit, telanjang. Dan keluar sesuatu menjijikkan dari kelamin nya. Menggeliat dan berlumuran lendir putih, memiliki dua tangan dan dua kaki, kulit putih kehijauan, juga botak.
Itu bayi goblin, dari perut manusia.
"Bagaimana bisa?! "Tak sengaja aku terkejut.
Hal yang sama juga terjadi pada perempuan lainnya.
"Berhenti!... Manusia... "
(Eh? Dia bicara?)
Satu goblin yang masih mewaspadaiku, bicara sambil tetap menodongkan tombaknya.
Aku tidak tau ada goblin yang bisa bicara di dunia ini di dunia ini mereka tidak tergolong mahluk yang berakal, yah aku sudah melewatkan banyak waktu. Tapi goblin ini juga aneh, perawakannya lebih seperti manusia.
"Menjauhlah!... Dari ibu...! "
(Ibu? Siapa yang berperan sebagai ibumu disini ?)
Mereka mengatakan 'menjauh dari ibu', aku tidak paham, masih banyak hal yang membuatku bingung, aku akan berpikir sebentar.
...
(... Ah aku paham, siapa ibu mereka. Dan juga Monster seperti goblin bahkan dapat dewasa dalam waktu satu minggu.)
Ibu mereka adalah gadis-gadis manusia itu, para perempuan yang menjadi mainan para goblin itu. Sungguh mengejutkan.
Dan mereka lahir dari perempuan manusia, kemudian mereka juga menggauli ibu mereka itu. Bagaimana menggelikannya itu?
Mereka merawat perempuan manusia, yang kini mereka sebut 'ibu'. Sebagai wadah untuk digauli, dan menghasilkan goblin baru, setengah manusia yang lebih cerdas. Sangat tabu, aku membenci situasi ini.
Bahkan di banyak tempat, menggauli ibu sendiri adalah tabu. Tempat dimana mereka lahir, disitu pula tempat yang juga mereka gauli. Ibu adalah orang tua yang harus dihormati, bukan untuk digauli. Dan disini 'ibu' hanyalah sebagai pemuas dan pabrik.
(Tch...)
Aku akan segera melenyapkan semua ini.
slap slap
Dua pisau kulemparkan dalam satu waktu, menembus kepala dua goblin setengah manusia ini.
Mereka mati.
"A... A-anakku!..."
Satu dari perempuan itu meneriakkan dua mayat goblin ini.
(Njiirrt!!... Kau masih mengaggap dua goblin ini anakmu?... Meski kenyataannya memang benar sih... tapi mereka juga udah menghamilimu, oi!! )
“Bodoh sekali!!”
(Sepertinya aku tak punya pilihan selain membersihkan mereka semua)
"Hiks.... Hiks.... "
"Hiks.... "
Bagaimana bisa ia menangisi goblin ini. Meskipun memang benar, ini anaknya. Tapi anak dari goblin yang bahkan ia tidak tau wajahnya, seekor monster mesum yang menyerangnya dan membuatnya menderita.
Aku benar-benar tidak tau perasaan seorang ibu. Namun setidaknya ia harus bisa merelakan anaknya yang merupakan monster perusak yang juga merusak dirinya sendiri.
"Gu... Aa..... "
"Manu... Sia... "
Beberapa demi-goblin muda yang tampaknya baru saja menggauli ibu mereka, terkejut akan kedatangan ku. Dalam pikiranku, 'Apa mereka baru menyadariku sekarang?'.
slap slap
Mereka mati dengan cara yang sama seperti dua demi-goblin sebelumnya.
slap slap slap
Lalu aku membunuh goblin dan demi-goblin yang tersisa. Aku tak peduli maupun itu muda, anak-anak, ataupun bayi. Aku membunuh semuanya hingga hanya tersisa para 'ibu', perempuan-perempuan manusia. Anehnya mereka menangis, meratapi demi-goblin itu, dan menatap marah padaku.
Bahkan dengan perut buncit mereka, mereka sulit untuk bergerak, apa yang bisa lakukan terhadapku emangnya?
Dan sekarang saatnya pembersihan.
Aku melepaskan dua belati ditanganku, lalu menengadahkan satu tangan, seperti berdoa. Bola cahaya kecil muncul disana, begitu terang. Kemudian bola itu membesar berkali-kali lipat, lalu terbagi menjadi sembilan buah dengan ukuran yang sama seperti sebelumnya.
Jumlahnya sembilan sesuai dengan jumlah perempuan manusia yang ada disini.
Kemudian bola cahaya itu melesat terbang ke sembilan perempuan manusia itu. Menembus dada mereka dan menyesak masuk ketubuh mereka.
"""Guah.... Argh....... Kya......"""
Teriakan tinggi melengking diteriakkan oleh masing-masing mereka. Aku yakin itu sangat sakit sekali, tapi hasilnya juga sepadan.
Ini adalah pembersihan yang kumaksud, kemampuan yang berasal dari unsur cahaya. Apa yang kubersihkan adalah jiwa dan raga mereka. Ini bukan hanya berasal dari unsur cahaya saja, tapi juga dari kemampuan manipulasi jiwa, dan manipulasi raga milikku.
Dari pada disebut pembersihan mungkin lebih tepat disebut, penyucian. Bukan penyucian biasa yang terasa menyenangkan seperti kemampuan pendeta di gereja, ini level yang lebih tinggi.
Hasil dari ini adalah mereka yang sudah diperkosa berkali-kali oleh goblin-goblin itu akan mendapatkan keperawanan mereka kembali. Sesuatu yang terdengar mustahil bukan?.
"""Uwarhg... """
Perut-perut buncit mereka mengecil, dan dari kelamin mereka tak henti-hentinya mengeluarkan cairan putih, darah, dan daging lembut. Kemampuan penyucianku juga sekaligus membunuh janin demi-goblin itu, mungkin itulah yang membuat sakit.
"Hiks.... urgh..."
Ada satu yang tak berperut buncit, masih seorang gadis belasan tahun. Ia menangis sambil menahan sakit, dan cairan putih tak henti-hentinya keluar dari sana, hanya cairan putih.
Hanya menunggu waktu, hingga kesakitan berubah menjadi kehangatan. Dan proses selesai.
~
(Huahm... Aku sudah ngantuk.)
Misi selesai, aku sudah mematikan musik. Menunggu proses selesai bukan kewajibanku. Aku ingin segera tidur.
Jadi aku keluar dari bekas markas bawah tanah goblin. Kini sudah menjadi 'bekas'
Saat aku akan keluar, lagi-lagi aku disambut oleh goblin dipintu masuk itu. Mereka lumayan banyak, dan marah. Tentu saja, aku baru saja memasuki markas mereka. Meski kini sudah bukan lagi markas.
(Ada berapa banyak goblin sih... Aku ngantuk)
Tanpa dapat dibaca oleh mata mereka, aku sudah ada di depan salah satu mereka dan menyentuh kepalanya. Kulit yang menjijikan, tapi aku ingin menyelesaikannya dalam satu aksi, ini terpaksa.
Aku berjalan menghindari mereka semua, aku tak ingin lari, aku ingin mereka semua mengikutiku.
"""Guga..... """
Dan mereka dengan mudah terpancing.
Tak lama aku sampai di bawah bangunan tempat aku makan malam sambil menatap Bintang. Diikuti dengan banyak goblin yang datang dari setiap arah, tanpa ada satupun yang menyerangku.
Itu Bagus.
"Huh... Saatnya pembersihan total. "
Bola cahaya kembali muncul di satu tangan ku yang mengarah kelangit, tangan yang sama saat menyentuh kepala goblin barusan. Bola cahaya itu semakin besar, besar, dan besar. Berkali-kali lipat dari ukuran manusia. Kamudian mengecil tiba-tiba dan kutembakkan ke langit, bagaikan peluru cahaya.
"Hoam... Huh... Harusnya aku tak melakukan ini, Felis akan marah nantinya. "
Cahaya juga memiliki kehangatan, dan bagaimana jika aku membuat kehangatan itu hingga dapat meleburkan mahluk hidup? Aku sudah menandainya hanya untuk goblin, jadi cahayaku akan meleburkan setiap jiwa dan raga goblin yang terkena olehnya.
Tsung
Pilar cahaya muncul dari langit dan jatuh tepat diatas diriku, lalu menyebar dalam sekejap mata hingga ke perbatasan desa mati ini.
Dapat di bayangkan apa yang terjadi dalam sekejap mata itu. Setiap goblin yang terkena cahaya lenyap tak berbekas, bahkan tak menyisakan secuil pun dari mereka. Cahaya yang begitu kuat, yang masih menarangi wilayah itu selang waktu 3 detik.
Setelah itu malam kembali seperti semula.
"Arh... Ngantuk sekali rasanya, aku mau tidur. "
Dan aku pun tertidur dikasur bekas bermandikan cahaya Bintang. Menganggap kejadian barusan, bukan sesuatu yang luar biasa.
Itu benar, ini hanya 1 % dari kekuatan penuhku.
~~~
Di balkon sebuah bagunan besar, seorang yang merupakan wujud keindahan untuk Armil berdiri disana. Elf paladin berambut pirang gelap, Felis Kelina.
"Uuh.... Kau mengundang banyak perhatian lagi sayang.... "
Ia terlihat kesal, dengan sebuah pilar cahaya raksasa yang muncul dari langit di kejauhan.
".... Kau masih belum berubah, aku senang. "
Tak sadar matanya sudah mengeluarkan air mata kebahagiaan.
"Aku tak sabar.... Bercinta denganmu, sayang. "
.
.
~~~~~
Tbc
Advertisement
- In Serial10 Chapters
Hybrid Summoner
All his life it seemed like the gods condemed his existence. One thing led to another in an endless spiral that would break nearly anyone, and yet it only taught him one thing. The strong make the rules and the weak get eaten by them. He never wanted power, fame, or glory. He wanted a happy life with a family that loved him and he finally thought he could get it. Until she slept with his best friend hours after his parents funeral. It took years to peice himself together again but he did it and just so the gods could get the last laugh and end the world. Now thrown into a world straight out of some fantasy VRMMORPG like he read about online the skills he created to combat depression will now combat monsters straight out of a story book. Follow Niko Bolas as he crawls through a world overflowing with monsters- and not the human kind either. Watch as he turns all the pain of his life into a strength that will make the world itself tremble. This is the journey of a man that finally is where he was always meant to be. Even it that is at the end of a world and the begining of another. Quick shout out to Deviant art cause they make so much awsome artwork. The cover is theirs and i just used it cause it felt in tune with the MC. Oh and this my first book so i'd appreciate some good solid constructive criticism, ENJOY.
8 67 - In Serial54 Chapters
Regarding The Life of A Certain Fallen Noble
.. ...Every paths leads to the same destination... Five Saints, five Kings, seven Sins. One entire plane in agony. ..Chaos must reign... In days long past, several Mage Kings cut a path of destruction everywhere they went. Cruel experimentation, the creation of monstrous creatures, the tearing apart of families and mass genocide...There were few crimes the mad Mage Kings didn't commit. As the Five Saints were summoned in desperation by the races of the world, everything was already at it's darkest hour. When the fighting was over, when the Mage Kings were gone and the Five Saints had returned to their planet of origin, a World Council was erected to keep the the delicate balance from falling apart. Many eras pass. Lyle Greyborne. Current heir to the powerful Greyborne family, the only son of Adarian and Alyssa Greyborne. With the maroon hair of his Greyborne ancestory and the exceedingly rare golden eyes of his mother's Bathory clan, Lyle's talents can only be described as terrifying. These, along with his personal status, make him desired by many. After a young Lyle begins a relationship with one Sophia Alderton, two years pass by. Then a lack of trust coupled with a certain misunderstanding leave the two estranged and left on a sour note. But Lyle even still retains his friendship with Cecelia, Sophia's sister. With Cecelia, his loving sister Iris and Melanie--A young woman who recieved his aid some time ago--Lyle is content to pass the days in peace and idleness. Well, when he's not completing harsh missions from his combat instructor, that is. But this peace is ruined when Lyle's father tells of a mysterious group hell-bent on causing war between the human and demon continents. Later, when his father involves him and his sister in an incident resulting in Iris being put in mortal danger, Lyle makes a decision which could very well cost him not his life... but instead his soul. His status, his loved ones, his dignity as a human being... All these may soon be lost. His life isn't his own. Not anymore. He can only brace himself for the things to come and hope he makes it out with his sanity intact. ******************* EDIT- Author Note: Another thing, the cover photo is not mine. Obviously. It's just a picture I found one day at DeviantArt and thought that the two shown in the picture looked like how I imagined Lyle and another character to be. Simply put, it was convenient in various way and I also loved the art. From my understanding is is from a collaboration between artists Chocobikies and Pinlin. Here is a link to where I found the original http://pinlin.deviantart.com/art/Linked-456655669
8 156 - In Serial7 Chapters
They Can't Stop Us All
Have you ever wondered if you made the right choices in life? If you could have done just one thing differently, would it have been enough to avoid this mess? That's what Grant Miles is thinking when an army of alien hunters, otakus and weebs descend on the base known as Area 51. Follow Grant Miles as he is thrown from his universe into a metaphorical wirlwind and a literal fantasy land.
8 85 - In Serial30 Chapters
Blind | The Blind Ninja: Book I | Naruto
Disclaimer: Written in the time of my early days of Wattpad. Full of cliches and cringe. Proceed with caution if you decide to read.The Blind Ninja: Book I::"I want to prove to people that I can be a awesome shinobi of the leaf, even if I'm blind! That's my Ninja Way!"Umiko Mikami is blind. She is the twelve-tailed jinchuuriki. She has been traveling when she was 3, when her clan was wiped out and found Konoha when she was 6. There, she lives her life, makes friends with everyone, and learn secrets. But she doesn't know what's gonna happen in the future.
8 182 - In Serial13 Chapters
Her Favorite Taste (W|W x Intersex)
She was her favorite sight, naked wrapped in white blankets and ready to be taken the way she knew her lover would. The candles were lit, her crystals in position as she crawled to the young woman with beaming purple irises that glowed in the dark. "Are you ready for eternity?" TRIGGER WARNING; 18+, mentions of witchcraft, magic, knife play, blood play, etc... just prepare yourselves.
8 161 - In Serial20 Chapters
Vento Aureo || Her Muse ||
No words can describe what she felt when she travels with Bruno Bucciarati and his team. In fact, she is silent - a mute. Even if she doesn't utter a word, she is a tricky young lady. Protecting the young Trish Una is her top mission but she doesn't mind interacting with the team. Let's hope they can understand her well. -- I don't own any of the characters, only my original characters.
8 248

