《TGS 1st - Silly Marriage》Chapter 5a - The Wedding (1)
Advertisement
Hai!!! Saya muncul lagi. Terima kasih atas saran, kritik dan komennya ya. Heheheh. Jangan lupa kasih kritik dan saran untuk chapter ini. Makasih.
xoxo - shamlia
--------------------------------------------------------------------------------------------------------
Chapter 5 - The wedding
Naya's Pov
Sepertinya memang aku harus berhenti berusaha menggagalkan rencana pernikahanku dan Alex. Tampaknya aku harus pasrah saja dengan semua takdirku. Tiga hari lagi statusku akan berubah menjadi Mrs. Davrio. Dan mau hujan, badai atau kemarau, pernikahan akan tetap berlangsung. Mama Alex yang sebentar lagi jadi mama mertuaku yang nampak sangat excited dengan pernikahan ini. Beliau benar-benar memberikan banyak bantuan kepada WO sehingga walaupun sederhana, pernikahan ini memiliki konsep yang apik. Pernikahanku dan Alex yang bertema garden party akan diselenggarakan di halaman villa milik keluarga Davrio yang berlokasi di puncak.
Yah...menghindari pemberitaan media memang paling tepat untuk saat-saat ini. Lucky for us, karena pernikahan diselenggarakan secara tertutup dan di lokasi yang jauh dari keramaian ibu kota.
"Nay??? Lo nggak apa kan? Ngelamun aja lo!"tegur Kikan saat aku berada di restorannya siang ini untuk mengurus menu yang akan disajikan di pernikahanku.
Melamun? Akhir-akhir ini aku memang cukup sering melamun. Apa yang kulamunkan? Tentu saja this wedding matters!
"Lo lagi nggak sehat, Nay?" Kikan menatapku khawatir. Aku menggeleng pelan.
"Gue agak kecapekan aja, Kan. This mess makes me tired,"ungkapku.
"Dari awal gue kan udah minta lo supaya nggak ngelakuin perjanjian ini, Nay. Masih ada tiga hari, Nay. Lo bisa cancel semuanya,"kata Kikan prihatin.
Aku tersenyum mendengar ucapannya. Andai saja semuanya bisa dibatalkan semudah kata-kata sahabatku itu. "Nggak bisa, Kan. Gue masih bisa kok nanggung semua ini. Demi masa depan perusahaan Papa. Lagian nggak semua tentang pesta ini adalah hal yang buruk. Gue jamin makanan di pernikahan gue pasti enak. Kan elo yang ngurus menu-menunya!"
Kikan akhirnua tersenyum tipis. "Kalo untuk masalah itu, lo nggak usah khawatir. Semuanya beres kok! Dan gue jamin, tamu-tamu bakal ketagihan,"kata Kikan semangat.
"Termasuk Enzo?"tanyaku.
Kulihat rona merah muncul di pipi Kikan. Bukannya mereka hanya sexualy involve, bukan romantically involve?
"Lo mulai suka ya sama Enzo?"tebakku.
"Nggak lah, Nay! Sejak awal kan hubungan gue sama dia bukan tentang cinta. Hanya kebutuhan fisik!"elak Kikan.
"Lo udah ngelakuin sama dia?"tanyaku menyelidik. Setauku Kikan hanya pernah satu kali berhubungan intim. Dan itu dengan mantan pacarnya beberapa tahun yang lalu.
"Udah,"jawab Kikan singkat.
Aku menatapnya curiga. Sepertinya ada sesuatu yang disembunyikan Kikan. Tapi aku tak tau apa.
"Jangan pernah melibatkan hati kalau berurusan dengan Alex dan teman-temannya, Kan. Gue nggak mau lo akhirnya sakit hati karena Enzo,"kataku.
"Lalu, hubungan lo dan Alex itu namanya apa? Apa enggak melibatkan hati?"tanya Kikan membuatku mengkerutkan kening.
"Oh kalau masalah itu sih tenang aja, Kan. Diantara gue dan Alex itu cuma ada bisnis. Mungkin bisa dibilang kami ada masing-masing kepentingan disini. Dan lebih banyak rugi di gue!"keluhku.
Kikan tertawa. "Watch out, Naraya! Lo tau kan dalam bisnis pun ada kemungkinan terlibat masalah hati,"ujar sahabatku itu.
Aku mencebikkan bibir. Aku kan sudah bertekad dari awal untuk tidak melibatkan hati atau cinta dalam pernikahan bisnisku dan alex. Pernikahan yang diawali dengan penandatanganan sejumlah pasal-pasal yang tercantum dalam selembar kertas putih.
"Hei Nay! Sepertinya ada seseorang yang terus menerus ngelihatin lo deh,"bisik Kikan menatap mataku tajam. Kemudian dia meremas tanganku agar aku tak langsung berbalik menatap orang yang dimaksud Kikan.
"Mana?"
"Arah jam tiga,"jawab Kikan masih dalam bisikan.
Aku jadi berdebat dalam bisikan dan desisan kecil dengan Kikan. Mauku aku langsung mendatangi orang yang itu dan menanyakan apa maksudnya sampai harus mengintai seperti itu. Tapi, Kikan ingin membiarkannya saja dan segera menyingkir mencari tempat yang lebih private di restaurannya. Dia takut kalau orang itu memiliki maksud tidak baik.
Advertisement
"Oo... he's getting closer. Gue harap ini bukan kode disaster 911 kita ya!"kata Kikan.
Aku terkekeh pelan mendengar kode itu. Disaster 911 adalah kode yang aku, Kikan dan Eve pakai untuk keadaan buruk atau membahayakan.
"Hai, ladies. Kenalin, gue Raka." Seorang lelaki menyodorkan tangannya padaku. Aku tak lantas menyambut tangannya. Mataku justru menatap lelaki itu dari atas ke bawah.
Kemeja formal warna biru muda, celana kain warna hitam, sepatu warna senada dengan celana yang dipakainya, dan sebuah jam tangan cartier. Aku menatapnya menilai.
"Ehem!"Kikan menyadarkanku lewat dehemannya.
Aku menjabat tangan lelaki bernama Raka itu. "Naraya,"kataku.
Kemudian lekaki itu juga bersalaman dengan Kikan.
"Boleh gue gabung dengan kalian?"tanyanya.
Kikan langsung mempersilahkan Raka duduk di satu kursi di antaraku dan Kikan.
"Well, ada urusan apa?"tanyaku.
"Nothing. Tapi sayang sekali kalau aku melewatkan kesempatan untuk menyapa wanita cantik seperti kalian kan?"
Picisan!
"Maaf gue nggak suka lelaki penyebar gombalan. Dan Kikan juga sudah punya pacar? Lo tau Lorenzo Baratha si pilot seksi itu? Dia pacar Kikan. Dan sebentar lagi gue juga akan menikah dengan lelaki paling tidak berperikemanusiaan, namanya Alex Davrio!"cetusku tanpa mencoba mengontrol kata-kata yang keluar dari mulutku.
Kikan melotot menatapku.
"Yeah, I heard about your wedding. Tapi, gue nggak tau kalau sahabat cantik lo ini pacarnya Lorenzo,"kata Raka.
"Yah...mereka baru aja jadian kok,"jawabku asal tanpa mempedulikan injakan kaki Kikan pada kakiku. Aku meringis menahan sakit.
"Anyway, congratulation ya, Naraya. Gue harap kita bisa semakin akrab. Mungkin kita bisa kerjasama bisnis lain kali,"ucap Raka.
"Maksud lo??"tanyaku.
Raka terkekeh. "Yah...gue berharap kita bisa berkerjasama kapan-kapan. Yuk, gue cabut dulu, Nay, Kan,"kata Raka berpamitan.
"Menurut lo dia aneh nggak sih?"tanyaku pada Kikan.
"Emang kenapa?"
"Yah nggak tau sih. Tapi kenapa dia jadi ngajakin kita kenalan?"
"Yah karena lo cantik mungkin?"
Aku mencibir mendengar jawaban Kikan yang benar-benar tak masuk akal itu. Aku masih merasa aneh dengan Raka. Tapi entah apa alasan dibalik keanehan yang kurasakan.
###
Aku berjalan beriringan dengan Kikan di jalan setapak kecil di antara makam-makam yang berjejer rapi dalam barisan. Aku sudah menatap lurus pada makam papa dan mama walaupun masih ada jarak lima belas meter diantara kami. Aku bisa merasakan hatiku menghangat ketika aku semakin dekat dengan tempat peristirahatan mereka.
Aku berhenti dan berdiri di antara kedua nisan orang tuaku. Perlahan aku melangkah mendekati nisan Papa dan membersihkan nisan yang mulai nampak kusam dengan air yang kubawa. Sementara Kikan membantuku membersihkan nisan mama.
Selesai membersihkan, aku menabur bunga dan menyiram air di dua kuburan itu. Kemudian aku duduk di pinggiran. Menatap kedua nisan itu dengan penuh rasa sayang.
"Hai Ma, Pa. Tiga hari lagi Naya akan menikah,"kataku pelan. Kurasa Papa Mamaku akan sangat tidak setuju dengan pernikahan ini jika mereka berdua masih ada di dunia. Aku selalu ingat kata-kata mereka bahwa pernikahan adalah sesuatu yang sakral yang tidak bisa didasari oleh keuntungan. Tapi, kali ini aku melanggar pesan mereka. Aku melakukan pernikahan ini untuk menyelamatkan perusahaan Papa. Kuharap mereka berdua bisa mengerti situasiku.
"Maaf ya, Ma, Pa, Naya nggak bisa menjaga perusahaan Papa. Salah Naya karena sejak dulu Naya tidak mau belajar dan hanya bisa merengek manja."
Sial! Airmataku mulai menetes. Biasanya aku tidak akan menangis di depan makam kedua orang tuaku. Aku tidak ingin menunjukkan kesedihanku pada mereka. Tapi kali ini sepertinya kelenjar airmataku sedang tidak bisa diajak bekerja sama. Aku tertunduk di depan kedua makam orang tuaku. Aku malu sekali sebenarnya untuk menunjukkan diriku di depan mereka.
"Doakan Naya ya, Ma, Pa. Naya harap Alex bukan orang jahat yang hanya bisa menyakiti Naya,"bisikku lirih.
Advertisement
Kemudian aku larut dalam isakan tangisku. Aku masih enggan beranjak dan menghapus airmataku. Sampai akhirnya Kikan merangkul bahuku dan mengajakku meninggalkan tempat itu.
###
Akhirnya hari malapetaka itu tiba. Hari ini aku dan Alex menyelenggarakan pernikahan kami di salah satu villa di puncak. Tadi pagi sudah berlangsung upacara keagamaan yang membuatku merasa bersalah pada Tuhan karena aku mengucapkan janji suci bukan untuk cinta.
Dan sekarang ini aku dan Alex tengah bersiap-siap untuk resepsi pernikahan kami. Sebenarnya, sudah sejak tadi aku ingin sekali melepas kebaya ketat yang membalut tubuhku ini. Ribet! Kebaya warna turqoise ini sebenarnya indah, tapi asal tau saja ya, aku sampai harus diet hebat untuk bisa masuk ke kebaya ini. Dan lagi-lagi Alex berhasil membuatku untuk diet, tentunya diiringi dengan ancamannya yang sepertinya tidak main-main itu.
"Breath... You'll be fine,"kata Alex yang berdiri di sebelahku. Saat ini kami tengah bersiap-siap membuka pintu di depan kami yang langsung terhubung dengan kebun yang jadi tempat resepsi kami.
Alex menyodorkan lengannya padaku. Aku menatapnya sebal. Tidak ada pilihan lain selain menggandeng mesra tangannya. Inhale...exhale Naraya and you'll be fine.
Perlahan kami bersama membuka pintu dan kemudian terdengar tepukan tangan dan sorak sorai dari para tamu yang telah menunggu kami. Aku terpaksa tersenyum lebar yang seolah-olah menunjukkan kebahagiaanku. And, what's the best from garden party? You don't need to just sit in chair. Jadi aku nggak perlu terus terusan pasang senyum lebar.
But what's the worst from garden party? You need to blend with guests. Dan kain jarik ketat ini membuatku sulit melangkah.
"Jalan yang pelan, Lex! Gue sulit jalan!"bisikku ketika kami untuk sekian kalinya harus menghampiri tamu penting Alex. Ingatkan aku bahwa aku masih harus menyapa relasi bisnisku dan jajaran investor di perusahaanku. Membayangkannya saja sudah membuatku ingin pingsan.
"Bisa bahasanya diganti yang lebih halus? Lebih baik ditambah sapaan mesra juga,"bisik Alex di telingaku. Kalau saja beberapa tamu tidak sedang menatap kami kagum, mungkin aku akan langsung menginjak kakinya saat itu juga.
Dan setelah bergelut dengan kebaya ribet dan high heels killer ini, akhirnya kami selesai menyapa tamu-tamu penting. Untung ini private party, jadi undangannya terbatas.
"Wonderful acting!"puji Victor yang sudah berdiri di dekat kami.
"Yeah, seharusnya gue dapet oscar untuk akting gue yang benar-benar kelihatan pure ini,"komentarku. "and excuse me, kalau boleh gue mau menghampiri sahabat-sahabat gue. You two just enjoy the chat,"lanjutku sembari melepaskan genggaman tangan Alex dan menghampiri kedua sahabatku yang nampak berbincang di dekat meja minuman dengan Enzo dan Kevin.
"Wow! You look so georgeous, Nay!"puji Eve.
"So, kenapa lo berdua nggak gabung sama Alex dan Victor? Jadi gue bisa have a little time dengan sahabat gue?"usirku pada Enzo dan Kevin.
Enzo tertawa pelan. Tawanya terdengar begitu elegan. Memang, aku akui bahwa diantara keempat sahabat itu yang paling terlihat elegan adalah Enzo. Alex? Dari tampangnya saja sudah menunjukkan arogansi dan sok kuasa. Victor? Bulu-bulu halus yang tumbuh di bagian bawah wajahnya membuatku geli setiap melihatnya. Tapi, kata Eve justru itu yang membuat wanita terpukau dengan playboy kelas kakap satu itu. Kevin? Sebenarnya dia cukup oke kalau saja dia tidak lebay jika sedang pacaran dengan Eve. Kalau kudengar cerita dari Eve, Kevin terlalu posesif dan berlebihan.
"Hati-hati Nay dengan mulut lo yang tajam. Bisa-bisa nanti malam Alex harus memborgol lo biar lancar,"kata Kevin sebelum akhirnya dia dan Enzo menyingkir.
"Dasar gila!"umpatku.
"Hei! He's my boyfriend!"protes Eve tak terima.
"Diem deh Eve! Gue lagi nggak ingin membahas lo dan Kevin. Yang penting nanti malam lo berdua harus tolongin gue! Ajak gue ke tempat lain kek biar gue bisa menghindari Alex!"kataku memaksa.
"Sorry, Nay. Gue kayaknya nggak bisa deh. Nanti malam Kevin ngajakin gue ke satu tempat romantis. Mumpung kita lagi di puncak. Makan malam romantis gitu deh,"ucap Eve.
Aku melotot kepada Evelyn. Bisa-bisanya dia meninggalkanku sendirian dan asik dengan rencananya dan Kevin.
"Lo bisa bantu gue , Kan?"tanyaku beralih pada Kikan penuh harap.
Kikan meringis memamerkan deretan gigi putihnya. "Sorry, Nay. Enzo udah keburu bikin janji sama gue,"jawab Kikan.
What??? Bisa-bisanya kedua sahabatku ini meninggalkanku di dalam kandang singa bernama Alex.
"Ya ampun! Jahat banget sih lo berdua. Kalian tega nyerahin gue sama Alex???"
"Duh, jangan norak deh, Nay! Namanya orang udah nikah ya lanjutannya kawin alias manufacturing baby!"cetus Eve membuatku semakin cemberut.
"Gue kan masih betah perawan, Ev,"rengekku.
"Mau jadi perawan tua lo??? Udah bagus ada cowok hawt yang mau sama elo!"hardik Eve.
"Ih! Emang gue segitu nggak lakunya?"balasku kesal.
"Udah deh kalian berdua. Jangan malu-maluin!"hardik Kikan.
Dasar Evelyn! Dia sebenarnya temanku bukan sih? Rela banget dia mengorbankanku pada Alex.
"Hai, we meet again! Dan kali ini bertambah satu lagi wanita cantik,"sapa seseorang membuatku menoleh. Raka.
"Raka? Lo diundang juga?"tanyaku kaget. Perasaan aku tidak mencantumkan nama Raka dalam daftar undangan pernikahan. Mungkin Alex yang melakukannya.
Raka tidak menjawab pertanyaanku. "Well, pesta yang meriah, Nay. Tapi cukup sepi untuk sebuah pernikahan yang melibatkan pemilik dua perusahaan besar,"komentar Raka sambil mengedarkan pandangan ke pesta pernikahanku.
"Yeah...gue dan Alex cuma ngundang sedikit orang. Inti dari pernikahan kan bukan pestanya,"jawabku sekenanya.
"Yah, tapi dengan begini justru kalian berdua bisa tenang tanpa terganggu kehadiran media,"kata Raka.
"Lo sendirian, Ka?"tanya Kikan.
"Yah...gue terpaksa datang sendirian karena sepertinya stok wanita cantik di Jakarta sudah habis. Lo jadi pacarnay Enzo, Naya menikah dengan Alex, dan...,"Raka berbalik menatap Eve. "Kamu pasti Evelyn, model papan atas yang menjadi kekasih Kevin."
"Sayang sekali ya lo datang sendirian, Ka."
Aku terkejut dengan kehadiran Enzo tiba-tiba di sebelah Kikan dan langsung memeluk pinggang Kikan dengan posesif.
"Itu mungkin karena lo bajingan, Ka. Sehingga nggak ada satu pun wanita yang mau sama lo!"kata Alex yang tau-tau sudah berdiri di sampingku dan merangkulku erat-erat.
Ada apa dengan mereka? Setelah kedatangan Enzo dan Alex tiba-tiba saja atmosfer di antara kami berubah menjadi tegang. Aku bisa merasakan cengkeraman tangan Alex yang menguat di pinggangku.
"Kamu yang mengundang Raka, sayang?"tanya Alex membuatku tergagap dengan panggilan barunya untukku.
"Bukan. Aku pikir kamu,"jawabku.
"Relax. I got one!"kata Raka sambil menunjukkan undangan pernikahan yang terbatas itu.
"Cara kotor apa lagi yang lo pakai?"tanya Alex sinis.
"Well, sepertinya pertanyaan lo itu tanda buat gue untuk menyingkir. Sekali lagi selamat untuk pernikahan kalian berdua,"ucap Raka sebelum akhirnya pergi dari hadapan kami.
"Gue harap, lo jauh-jauh dari cowok itu!"desis Alex di telingaku.
Aku mengkerutkan keningku tak paham dengan maksud perkataannya. "Kenapa?"tanyaku.
"Pokoknya kalo gue bilang lo harus jauhin dia, itu berarti lo harus jauhin dia, Nay!"kali ini Alex sudah memerintahku dengan penuh penekanan.
Aku menatapnya tak mengerti. Meskipun masih penasaran dengan alasan dibalik perintah Alex, akhirnya aku hanya mengangguk mengiyakan perintah suami baruku itu.
###
Berkali-kali aku melirik jam dinding yang ada di kamar. Suara air dari kamar mandi semakin membuatku gugup dan takut jika sewaktu waktu Alex akan keluar dari kamar mandi. Aku mengacak-acak rambutku frustasi. Ugh! Aku benar-benar belum siap menghadapi Alex malam ini.
"Lho sanggulnya udah dilepas, Nay?"tanya Alex membuatku kaget. Aku terkesiap saat melihatnya bertelanjang dada dan hanya menggunakan boxershort. Badannya memang tidak sesempurna bintang L-men. Tapi cukup mengundang para wanita untuk mencari kenyamanan dalam dada bidang itu.
Hei! Hei! Aku mikir apaan sih!
"Nggak mandi?"tanya Alex lagi ketika aku masih saja terdiam.
"Oh-oh iya, gue mandi dulu!"cetusku segera berjalan ke kamar mandi.
"Nay! Bahasanya tolong diperhalus ya! Tolong lo-gue diganti aku-kamu karena kita udah menikah. Ngerti?"tanya Alex mengingatkanku.
Aku ingin muntah rasanya ketika lagi-lagi Alex menyuruhku menggunakan bahasa halus jika berbicara dengannya. Tapi aku hanya mengiyakan sekenaku dan berlalu ke kamar mandi.
Setelah membersihkan badanku, aku justru malah menatap diriku di cermin wastafel lama-lama. Belum siap untuk mengumpankan diriku ke buaya yang ada di luar. Aku terdiam cukup lama, sampai akhirnya aku memutuskan untuk menelepon Kikan. Mungkin dia masih bisa membantuku kalau aku memaksanya.
"Kikan! Please bantu gue, Kan!"mohonku begitu suara nada sambung menghilang.
"Hhhh... Maafhh Nayh...guehhh...,"suara Kikan terdengar aneh. Apa dia dalam bahaya? Kok suaranya kayak ngos-ngosan begitu?
"Hei Kikan! Kikan! Lo nggak apa-apa kan?"tanyaku panik.
"Ngggahh apah-apah kokh! Aaarrrggghhh!"teriakan Kikan terdengar mengerikan di telingaku.
"Kikan! Kikan! Jawab gue sekarang lo dimana???"tanyaku semakin tak sabar.
"Enzohh! Pelan-pelanh!"
Hahh?? Enzo?
Kalau memang ada Enzo , pasti cowok itu akan menolong Kikan kan kalau sahabatnya itu dalam bahaya? Kok malah disuruh pelan-pelan?
"Kikan? Ada Enzo disitu? Lo emang lagi ngapain?"tanyaku ragu-ragu.
Bukannya menjawab pertanyaanku, Kikan justru lagi-lagi mengerang dan nenyebutkan nama Enzo.
"Nay! Besok pagi aja deh lo telepon lagi! Ganggu aja lo!"kali ini suara Enzo yang terdengar. Sepertinya handphone Kikan direbut oleh Enzo dan secara sepihak cowok itu juga memutuskan sambungan.
Aku menatap jengkel ponselku. Aku tidak mencoba menelepon Eve karena aku tau itu akan percuma! Kalau sudah ada Kevin, Eve akan melupakan bahwa di dunia ini urusannya tidak hanya seputar Kevin!
Tuhan... tolong aku, please.
Akhirnya aku hanya bisa mengambil nafas panjang dan meraih handle pintu. Aku benar-benar hanya bisa memohon agar buaya yang menungguku di luar sana sudah tidur. Yah...mudah-mudahan saja.
####
Advertisement
- In Serial15 Chapters
My Girlfriend is a Bully
Adrian Taher was a lucky guy because his girlfriend is one of the four prettiest girls in Blue Rose High School. One day, he found out his girlfriend is a bully, and she never came to school ever since then. Feeling complicated and worried about his girlfriend, Adrian suddenly found his girlfriend living like a beggar in the street when he came home from school. This is a story about a normal boy with his bully girlfriend. Additional tag: Yandere Join my discord server too: https://discord.gg/KX9uDyQqRZ
8 190 - In Serial22 Chapters
Dil-e-Iztiraar
A story about saher and saim How they help each other with their past ,and decide to share their life with each other but will they over come their enemies and save their love?A story about furqaan How he mend the heart of his lady love, with his sacrifice and pure love,but will this cruel world will help him to do so?Give this story a try to know about them
8 129 - In Serial30 Chapters
Plan Of Seduction
"I hate you - so much Tripp."More confusion because, once more, wasn't this a good thing?"Why did you have to say that? What if," A little quieter, just above a whisper. "What if we mess up our friendship?""But what if we don't?""You don't know that," I bumped his nose with my finger. "And neither do you. So, why don't we give it a shot?" He bit down on his bottom lip, hesitation and worry filling his gaze. __This is literally a story that follows the plot of two best friends realizing their feelings for each other, yes, I know, very cliche, but I enjoyed writing it. There will be mature LGBT+ content, so if you don't want to read those chapters or this story > skip it.Highest Rankings (that I'm aware of): LGBT+: #3 , College Romance: #2 , Gay: #19
8 221 - In Serial33 Chapters
Saved
Isabella Rose RomanoA 13 year old to which love is something very unfamiliar to her. Having grown up in the foster system, it didn't come very often or in her case at all. She has a heart of pure gold, despite everything. So what happens when her current abusive foster family die. And she discovers she has a family. In that family she not only has a father but seven brothers! How is she supposed to adjust to this new environment while trying to overcome her past?________________________________________________Antonio Francesco RomanoHis only principessa was taken from him when she was a year old. 12 years later he gets a call that she is alive and he can take custody. His seven sons, of course, are over the moon about this along with himself. What happens when he discover that she didn't have the life she deserved? Can he and his sons teach her the meaning of love?Started: October 16, 2021Finished: September 24, 2022
8 206 - In Serial30 Chapters
Tigh Na Faol: House of Wolf (A Wulvers Prequel)
{Featured Story!}#71 in Romance #5 in Historical Fiction"They say at night, the howls of wolves echo across the land, and in the morning farmers find their animals missing or slaughtered. Keep your wits about you, my dearest friend."1561Alba - Scotland Màili is the only child of Catholic Lord, Seumas MacDhòmhnaill, and a daughter of Clan Donald. Most of her life has been spent hidden away in the Scottish countryside a few days ride from the capitol city of Edinburgh.Kept away from the rumours about her mother that are rife at court since her death, Màili knows one wrong word could bring those rumours at her feet too. Cries of witchcraft and gossip about her father's dwindling funds means Màili's future remains uncertain. Close to destitute, her dowry gone, her only chance - in the eyes of her father at least - comes in the form of an unexpected marriage match from a family willing to pay handsomely for Màili's hand. It's an offer her father dare not refuse.Quickly married to a man she doesn't know, he flouts Màili's every belief in what is expected from her as a wife on the night of their wedding. Torian seems uninterested in following Catholic marriage tradition, citing laws of his own Clan he must follow. Trapped amongst people so different from her, speaking a language she barely remembers from childhood, she's whisked away to her new home where she will live with her new husband and his family. The wild and mountain filled Highlands are a beautiful place where purple heather and thick forests covers the land, and mighty sea winds batter the waves against ancient rock. Myth and mystery swirl as thick as the grey mists in the glens; where creatures from old stories are said still to roam.And the Lyall family have secrets of their own. The only advice given to Màili is this:Beware of the wolves. . .
8 381 - In Serial16 Chapters
Ace of Clubs
8 96

