《TGS 1st - Silly Marriage》Chapter 6a - The Accident (1)
Advertisement
Lebih cepat satu hari nih. hehehe. Selamat membaca :)
xoxo- shamlia
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Alex's pov
Aku tidak pulang semalam. Aku menginap di apartement Victor. Temanku itu menatapku heran ketika aku muncul di depan pintu apartemennya pukul tujuh malam. Sebenarnya hari ini tidak begitu banyak pekerjaan di kantor dan seharusnya aku sudah bisa pulang sejak pukul empat sore. Tapi, aku sengaja pulang menjelang jam enam sore dan melajukan mobilku ke apartement Victor. Sepertinya pulang ke rumah bukan suatu opsi yang memungkinkan untuk keadaan seperti sekarang.
Dan untungnya Victor tidak bertanya macam-macam ketika aku mengatakan akan menginap di apartemennya semalam. Dia hanya menyodorkanku segelas alkohol dan kami minum bersama sambil mengomentari pertandingan sepak bola antara Arsenal dan Liverpool yang sedang tayang di televisi. Dan ketika pertandingan bola itu berakhir, aku dan Victor memilih bermain playstation untuk membunuh waktu.
Dan entah jam betapa akhirnya kami berdua tertidur di atas karpet di depan televisi yang masih menyala menampilkan game yang belum selesai kami mainkan.
"Lo nggak mandi?"tanya Victor pagi ini ketika aku baru saja keluar dari kamar mandi setelah membasuh mukaku dan gosok gigi.
"Nggak! Gue habis ini mau balik ke rumah dulu baru ke kantor. Gue mandi di rumah aja,"jawabku sambil duduk di hadapan Victor yang sudah menyiapkanku sepiring roti bakar hangat dan kopi.
"Kalau lo mau Naya tunduk, gue rasa lo perlu pakai cara keras,"ucap Victor membuatku berhenti mengunyah roriku. Sepertinya dia sudah bisa menduga apa masalahku hingga aku harus menginap di apartemennya.
"I've tried that one! Gue udah pernah pakai cara keras, tapi Naya justru berbalik nyerang gue. Makanya gue memilih diam,"jawabku.
"Yah, memang nggak semudah mantan-mantan lo yang lain, tapi Naya pasti bisa dijinakin,"kata Victor.
Yeah, Naya memang beda dengan mantan-mantanku yang pada dasarnya sudah jatuh cinta setengah mati denganku hingga apapun yang kukatakan, mereka selalu menurut. Naya memiliki karakter lebih agresif dan berprinsip tinggi. Harga diri dan egonya merupakan salah satu yang harus ditaklukan untuk mendapatkan dia.
"Ini yang bikin gue enggan berurusan dengan cewek-cewek mandiri seperti Naya. Mereka terlalu menjunjung tinggi ego dan harga dirinya. Mereka terlalu menjaga dirinya sendiri supaya nggak sakit hati,"lanjut Victor.
"Yeah her pride! Gue rasa itu yang membuat dia mati-matian mempertahankan keperawanannya,"ucapku.
Victor menatapku tak percaya. "Are you crazy??? Come on! Ini udah hari ketiga lo nikah sama dia. Lo tinggal ikat dia dan lakukan! Itu nggak sulit kan untuk seorang penakluk wanita seperti lo?"
"Itu lebih mirip memperkosa! Gue pengen dia sendiri yang menyerahkan dirinya ke gue!"
"Lo harus buat dia jatuh cinta sama lo!"
Aku menatap Victor. Jatuh cinta? Hell no! Bahkan aku nggak berpikir sekalipun untuk membuat Naya jatuh cinta. Cara yang terlintas di otakku selalu saja tak jauh-jauh dari pemaksaan, pemerkosaan, atau BSDM.
"Gue rasa itu sulit. You know where our relationship starts from. Gue aja nggak yakin gue bisa jatuh cinta sama dia,"kataku sangsi.
Victor menatapku tajam dan membuatku tak nyaman dengan tatapannya. "Dari awal aja sebenarnya kalian udah saling tertarik. Cuma kalian aja yang terlalu gengsi dan egois. Try to keep your ego in, dude. It's not really hard to open up your heart for her."
Aku mendesah panjang. Mungkin saran Victor itu akan mudah jika dijalankan oleh dua orang yang tidak memiliki pride dan ego yang tinggi seperti aku dan Naya. It's not gonna work for us. Aku dan Naya? Seems difficult. It's like trying to make sense from a non-sense thing.
Us? Yes, it seems so non-sense.
###
Kejutan!
Ketika aku sampai di rumah, aku melihat Naya masih terdiam di ruang keluarga. Matanya menatap layar televisi namun aku tau bahwa pikirannya sedang tidak fokus pada pembbaca berita yang membacakan warta mengenai pembukaan harga saham hari ini. Dari penampilannya, Naya tampaknya sudah siap berangkat ke kantor. Tapi dia sepertinya masih enggan beranjak dari sofa.
Advertisement
Untuk beberapa saat aku hanya terdiam di ambang pintu dan menatap istriku itu. Naya belum menyadari kejadiranku. Dia masih tetap menatap layar televisi. Setelah sekian lama terdiam, akhirnya aku memutuskan masuk ke kamarku tanpa menyapa Naya.
"Lex!"panggilan Naya terdengar ketika dia mendengat derap langkahku.
Aku tak menjawab panggilannya. Aku juga tak berhenti melangkahkan kakiku ke kamarku. Bisa kudengar langkah kaki Naya yang setengah berlari di belakangku.
"Semalem nginep dimana?"tanya Naya yang berdiri di sebelahku ketika aku sibuk menyiapkan pakaianku untuk bekerja. Kudnegar nafasnya yang memburu karena berlari mengejarku. Tapi aku masih enggan menjawab pertanyaannya.
"Kemeja dan celana kamu udah aku siapin di atas ranjang,"lanjut Naya lagi. Dia menyiapakan bajuku? She must be so damn guilty.
Tapi aku masih enggan mengeluarkan kata-kata. Aku segera menyambar handuk dan masuk ke kamar mandi. Selama di kamar mandi tidak banyak hal yang mampu mengubah pikiranku. Nyatanya air dingin yang mengguyur kepalaku masih saja tidak bisa membuat emosiku reda. Biar saja wanita itu merasakan bagaimana rasanya bersalah!
Damn you woman!
Dan ketika aku keluar dari kamar mandi, tidak kutemukan sosok Naya di kamar. Sepertinya dia sudah berangkat ke kantor terlebih dahulu. Tapi, aku menemukan secarik kertas di atas kemejaku yang terlipat rapi di atas tempat tidur.
maaf, Lex.
Aku mendesah panjang melihat tulisan tangan Naya. Entah apa yang membuatku begitu marah pada Naya. Seharusnya kalau hanya masalah sepele seperti kemarin kan aku tidak akan semarah ini. Bahkan aku sendiri pun bingung dengan diriku.
Kata-kata yang terlontar dari bibir Naya kemarin membuatku tercabik di dalam. Seperti ada ribuan paku yang menancap di sekujur tubuhku. Serendah itukah dia menatapku? Bahkan mungkin dalam otaknya aku tidak dianggap ada. Lalu untuk apa usahaku selama ini? Selama ini aku selalu memastikan keadaannya diam-diam. Menyuruh anak buahku yang mengawasinya. Aku tau saat dia benar-benar hancur ketika Papanya meninggal. Bahkan aku tau setiap perjuangannya untuk membuat perusahaan papanya tetap bertahan. Dan aku bersedia membantunya karena tak tahan dengan segala pemberitaan media yang menganggap bahwa kelangsungan Farian Pulp and Paper terancam. Aku tak sampai hati membayangkan jika Naya harus kehilangan satu-satunya peninggalan papanya.
Dan apa yang ku dapat sekarang?
It hurts, Nay!
Memikirkannya saja membuat darahku kembali mendidih. Lebih baik memang aku tidak kembali ke rumah dulu selama beberapa hari. Mungkin aku perlu menghubungi Victor nanti untuk memintanya menyediakan apartemennya untukku menumpang selama beberapa hari
###
Naya's POV
Darn!!
Selama seharian ini aku tidak dapat berkonsentrasi dengan semua pekerjaanku. Dan akhirnya kuputuskan untuk keluar sejenak dari kantor saat jam makan siang. Aku memilih kafe kecil di seberang kantor sebagai tempat menyendiri.
Kenyataan bahwa Alex belum menghubungiku maupun menemuiku hingga detik ini membuatku bertanya. Apakah dia membaca pesan yang kutinggalkan di secarik kertas? Atau dia masih tidak ingin memaafkanku?
Kenapa masalah sepele seperti kemarin bisa membuatnya menjadi marah sekali hingga melebihi wanita yang sedang PMS? Padahal kukira dia akan tetap seperti biasanya. Tertawa lebar walaupun aku berteriak atau memakinya. Aku tak menyangka bahwa dia akan marah sekali. Akan lebih baik untukku jika dia mengancamku seperti biasanya daripada mendiamkanku dan menganggapku tidak ada. You know... aku tak biasa dianggap invicible. Everyone must be noticing me wherever I am. Dan sekarang ketika permintaan maafku hanya dianggap angin sepoi-sepoi saja rasanya... memuakkan. Aku juga ingin marah. Tapi tidak mungkin aku marah pada Alex sementara aku berusaha meminta maaf padanya.
Sigh!
Aku menghembuskan nafasku panjang. Aku berusaha mengembalikan konsentrasi otakku pada laptop yang menyala di hadapanku. Sambil menyesap minumanku, aku menatap angka-angka yang terpampang di layar. Kemudian aku menggerakkan jemariku di atas keyboard. Sebuah laporan dari manager pemasaran terbuka di layar laptop. Perkembangan penjualan perusahaan akhir-akhir ini meningkat. Meskipun belum begitu pesat, tapi hal ini disambut baik oleh investor yang tadinya sudah mulai kepanasan karena melihat harga saham yang turun.
Advertisement
Tak bisa dipungkiri, ini semua berkat Alex. Lelaki itu bahkan memperbaiki SOP perusahaanku sehingga bisa meminimalisir kecurangan. Harus kuakui, Alex adalah pria yang pandai. Beda denganku yang sudah menghabiskan waktu tujuh tahun untuk menyelesaikan S1 dan S2-ku di jurusan Manajemen bisnis dan MBA, nyatanya malah masih saja gagal dan sempat membahayakan keadaan perusahaan. Kalau saja Papa masih hidup...bahkan mungkin Papa akan bangga sekali memiliki menantu seperti Alex.
"Sendirian, Nay?"tanya seseorang membuatku tersentak dan melepaskan pandangan dari layar laptop.
"Raka? Ngapain lo disini?"tanyaku sedikit kaget karena pria ini hadir di hadapanku.
"Boleh gue duduk disini?"tanya Raka menunjuk kursi kosong di hadapanku.
Aku menatapnya bimbang. Aku ingat kata Alex bahwa aku harus jaga jarak dengan lelaki ini. Tapi, apa alasannya? Aku tak mungkinkan menolak orang padahal aku tak tau masalahnya.
"Silahkan,"kataku pada akhirnya.
"Makan siang, Nay?"tanya Raka.
"Nggak. Cuma butuh refresh,"jawabku. "Lo sendiri nggak makan siang?"tanyaku.
"Kebetulan gue tadi ketemu salah satu investor di private room. Jadi gue udah makan tadi,"jawab Raka.
Aku mengangguk tanda mengerti. "Coffee?"aku menawarkan pada Raka.
"Mocca Frappucino,"kata Raka.
Aku memanggil salah satu waitress dan menyebutkan pesanan Raka dan memesan cheese cake untuk kami berdua. Tak lama kemudian pesanan kami datang.
"Gue lihat harga saham perusahaan lo naik kemarin? Closing price-nya cukup tinggi kalau dibandingkan dengan perusahaan lain dengan industri yang sama,"kata Raka.
Aku tersenyum. Ya! Kemarin Harga penutupan saham perusahaanku naik meskipun masih tipis dibanding harga pembukaan di pagi hari kemarin. Dan tadi pagi, perusahaanku menjadi sorotan media karena kenaikan yang cukup dramatis jika ditilik dari beberapa waktu yang lalu ketika harga saham sempat menurun.
"Itu gara-gara bantuan Alex,"jawabku spontan. Tapi kemudian aku menyesali jawaban yang kuberikan. Seharusnya aku tak menyebutkan nama Alex. Kalau begini bisa-bisa akan memperkuat spekulasi media bahwa pernikahan kami adalah pernikahan bisnis (walaupun itu faktanya, tapi paling enggak image pernikahan kami nggak terlihat seperti itu dimata publik).
"Alex ya... suami lo itu memang berbakat dalam dunia bisnis. Lihat aja kemajuan Davrio Construction di bawah pimpinan Alex. Gue nggak akan heran kalau sebentar lagi jabatan presdir Davrio Group bakal beralih ke Alex,"ucap Raka.
"Emang sebenarnya lo dan Alex ada hubungan apa?"tanyaku penasaran.
"Alex teman lama gue. Tapi karena ada sedikit masalah di masa lalu, kami jadi sedikit berselisih paham hingga sekarang,"jawab Raka yang justru membuatku makin penasaran.
"Yah... melihat karakter Alex sih gue nggak akan heran kalau dia punya banyak musuh,"celutukku.
Raka terkekeh geli. "Seharusnya lo takut dong kalau suami lo punya banyak musuh. Mungkin harusnya lo dikawal bodyguard kemana-mana."
"Gue bisa jaga diri sendiri kok, Ka. Lagian musuh Alex nggak mungkin mengincar gue kan? Dia kan punya masalahnya sama Alex bukan sama gue,"ucapku.
"Justru, lo yang lebih terancam bahaya dibanding Alex. Lo nggak akan sanggup membayangkan apa saja cara yang akan dipakai musuhnya Alex untuk nyakitin dia. Salah satunya dengan cara menghancurkan lo, Nay,"cetus Raka.
Aku terdiam mendnegar ide yang keluar dari bibir Raka. Terdengar menakutkan bagiku. Mungkinkah aku juga akan terlibat masalah dengan musuh-musuh Alex. Bukannya dengan menjadi istri Alex justru akan membuat orang-orang jahat menyingkir karena tak berurusan dengan pewaris Davrio Group?
"Sebaiknya lo mulai hati-hati, Nay. You can't imagine whatever the enemies will do to torture you and Alex,"pesan Raka.
Torture? Gila! Mendengar kata itu aku jadi membayangkan sederet penganiayaan yang mungkin saja terjadi. Mungkin saja nanti mobilku disabotase, atau mungkin ada yang memasukkan racun ke dalam minuman atau makananku.
"NARAYA!!!"
Satu seruan keras membuatku tersentak kaget dan menatap ke sumber suara.
Oh my God!
Alex berdiri di depan pintu kafe. Dan sepertinya keadaan semakin buruk dengan tampang Alex yang terlihat marah. Bahkan lebih marah ketika kemarin dia membentakku di kantor.
Disaster 911's approaching!!
Aku semakin gelisah ketika Alex mendekat ke arahku. Dengan gugup aku segera membereskan laptopku dan memasukkannya ke dalam tas. Lebih baik segera menyeret Alex pergi dari sini sebelum dia meledak tanpa henti.
"GUE UDAH BILANG KAN KALO JANGAN DEKET-DEKET COWOK INI!"suara Alex terdengar lebih tinggi dibanding kemarin ketika dia memarahiku. Tangannya menunjuk Raka yang masih dengan tenang duduk di tempatnya.
"Lex, please...gue bisa jelasin. Please...lo jangan marah dulu,"mohonku dengan terbata. Baru kali ini aku melihat Alex super duper marah. Kemarahannya yang kemarin saja aku masih belum tau cara menenagkannya. Dan sekarang ini kemarahan Alex mungkin mencapai level 100%.
Alex menyingkirkan tanganku dengan kasar sehingga aku tersaruk ke samping. Untungnya aku tak sampai jatuh.
"Denger gue baik-baik! Kalo gue masih lihat lo deket-deket istri gue, gue pastiin gue sendiri yang bakal bikin lo mati!"ancaman itu terdengar menakutkan. Suara Alex memang sudah menurun dibanding tadi, tapi atmosfer kemarahannya justru terlihat semakin mengerikan. Apalagi dengan ancaman yang baru saja keluar dari bibirnya. Bahkan walaupun beberapa orang nampak tertarik pada ribut-ribut yang ditimbulkannya, Alex tampak tak peduli. Matanya menatap nyalang Raka.
"Lex, udah Lex. Please...,"aku masih memohon pada Alex. Kucengkeram jas hitam yang dipakainya.
"Pulang!"perintah Alex padaku. Dengan kasar, Alex menarik tanganku dan keluar dari kafe itu. Setidaknya aku bisa sedikit lega karena Alex tidak melanjutkan kemarahannya di depan umum. Entahlah apa apa yang akan terjadi padaku selanjutnya.
Ketika kami berdua berada di mobil pun, Alex masih saja bungkam. Dia tidak menoleh padaku. Dia justru mengendarai mobilnya keluar dari area kafe. Sementara aku terdiam di bangkuku sambil mencuri pandang pada Alex. Dari samping saja hawa kemarahannya sudah menakutkan. Dan aku cukup penasaran apa yang ada di otaknya. Apakah ini berarti kesalahanku bertambah lagi?
Dan ketika mobil Alex memasuki halaman rumah, aku tau bahwa kali ini kami akan lebih lama berdebat. Aku segera mengetikkan satu sms pada sekertarisku untuk memberitahunya bahwa aku kemungkinan akan terlambat kembali ke kantor.
"Turun!"perintah Alex ketika mobilnya telah terparkir di carport.
"Lex, kita nggak perlu...,"baru saja aku akan membantah perintahnya, Alex sudah menatapku tajam.
"Gue bilang turun, Nay! Masuk rumah!"perintahnya lagi.
Aku menggeram. Ugh! This jerk!!
"Alex! Gue nggak mau!"balasku tak kalah marah.
Kudengar Alex berdecak. Kemudian dia turun dari mobil. Kukira dia akan meninggalkanku sendiri di mobil, tapi nyatanya, dia membuka pintu di sampingku dan melepaskan seatbeltku dengan cepat. Aku berusaha bertahan tetap duduk di dalam mobil ketika Alex memaksaku keluar. Dia benar-benar menarikku hingga bekas-bekas cengkeraman tangannya terlihat merah di pergelangan tanganku.
Aku terus meronta ketika Alex merangkulku dengan paksa dan memaksaku masuk ke rumah dan berakhir di kamar kami. Seberapa keraspun usahaku meronta, Alex dengan mudahnya menyeretku. Sepertinya usahaku sia-sia.
"Gue udah bilang kan kalo lo harus jauh-jauh dari Raka!"suara Alex kembali meninggi.
"Kenapa?"tanyaku berusaha menahan emosiku. Tapi melihat wajah menyebalkan milik suamiku itu membuat darahku mendidih tak terkendali. "KENAPA LO JADI NGATUR-NGATUR GUE??!! LO NGGAK PUNYA HAK UNTUK NGATUR GUE, LEX!"
"GUE SUAMI LO, NARAYA!"
Oh shit! He's right! Tapi itu tidak lantas membuatnya bisa seenaknya mengatur hidupku kan? Apalagi status suami-istri ini bukan keinginanku. Ini hanya bagian dari bisnis. Dan sekarang dia berkata seolah-olah kami menikah karena cinta. Cih!
"MULAI SEKARANG LO HARUS IKUTI PERINTAH GUE, NAY! KALO GUE LIHAT LO NGELANGGAR, LO LIHAT APA YANG BISA GUE LAKUIN!"
"GUE NGGAK TAKUT!"balasku tak kalah marah.
"GUE LAGI NGGAK MAU DIBANTAH, NAY!"
"LO PIKIR GUE MAU NURUTIN LO?"
"NARAYA!"kali ini suara Alex lebih tinggi lagi. Membuatku seketika terdiam. Wajah playboy flamboyan yang biasanya terlihat, sekarang ini sudah berubah menjadi wajah penuh kemarahan dengan rahang mengeras. Sepertinya kemarahannya barusan masih lima puluh persennya saja.
"Lex, kenapa lo bikin semua ini lebih susah padahal seharusnya simple? Kita menikah , Lex, tapi karena bisnis. Bukan karena cinta,"kataku pelan. Aku terduduk di atas ranjang. Kepalaku terasa pening dan tidak bisa berpikir jernih.
"Akan lebih mudah kalau lo nggak membantah gue, Nay,"balas Alex.
Aku mendesah panjang. Kututup wajahku dengan kedua telapak tanganku. Rasanya badanku langsung letih setelah pertengkaran kami. Dan ketika kudengar suara langkah Alex, aku tau bahwa dia sedang menyingkir dari hadapanku. Mungkin dia ingin memberikan waktu untukku dan dirinya sendiri. Kami sama-sama lelah dan butuh waktu.
Aku merebahkan badanku ke atas ranjang. Dan tanpa terasa air mataku keluar. Aku segera menutup wajahku dengan menenggelamkannya ke bantal empuk yang saat ini menjadi sandaran terbaikku. Rasanya sudah lama sekali ada seseorang berteriak marah padaku seperti tadi. Bahkan Papa dulu tak pernah semarah itu padaku. Apakah aku benar-benar salah kali ini?
Tapi, ketika Alex berteriak marah tadi, harus kuakui bahwa hatiku sakit. Aku bahkan tadi sempat berharap bahwa dia akan sedikit melunak karena aku istrinya. Setidaknya setelah pertengkaran kami tadi, aku jadi tau satu hal. Alex adalah orang nomor satu yang harus kuwaspadai saat ini!
Damn you, badass!
3#####
Advertisement
- In Serial42 Chapters
Lily Bouquet - A Girls Love Anthology
Lily Bouquet is a collection of different short stories with a common theme: they're all stories about love between girls. The stories might vary in themes and genre, but they're all focused on the romantic relationship between two or more girls. While some stories might be a continuation of previous ones, this will be mentioned at the start, so any story can be read by itself.
8 113 - In Serial35 Chapters
Alien Affair
Mira, dripping wet from head to toe, gazed at the alien man before her and all she wanted to do was taste his lips again."Mira, are you hurt?" He repeated, growing more concerned with every passing moment."No," her voice was barely a whisper, and she threw her arms around him, her lips colliding with his. The towel slipped from her body and she no longer cared. All she cared about was the taste of him, the feeling of his hands on her skin, the smell of his short brown hair. She wrapped herself around him on the bathroom floor, and she was fully prepared to give into temptation when he stopped her."Mira," he pushed up on her hips, her name a groan on his lips. "Wait." She lifted herself off of him, a bolt of rejection striking through her like lightning.She sat up grabbing for the towel. "Sorry," she said, feeling destroyed with embarrassment."I just want to make sure you didn't hit your head," he chuckled a little, holding out a hand to tuck her wet strands of hair behind her ear."I'm fine," she said. His gaze darkened. "You sure you want to do this?" He asked.****MATURE CONTENT EROTIC/SEXUAL CONTENT For ages 18+ ONLY
8 558 - In Serial95 Chapters
texting you | jeon jungkook √
"ɪғ ʏᴏᴜ ᴅᴏɴ'ᴛ ғɪɴᴅ ᴛʜᴀᴛ ʙᴀɢ ɪ'ʟʟ ᴋɪʟʟ ʏᴏᴜ."in which jungkook thinks he's texting taehyung about his thick, lost bag when he's actually been texting someone that he never knew would change his life.[ COMPLETED ]© saucybangtan, 2018#1 - bts#1 - jungkook#8 - ff
8 209 - In Serial16 Chapters
I Decided to Write a Story
*this story has a lot of perverted stuff and cussing beware* *And this is pretty much a crack story* Kate is a normal girl with a lot of imagination (mostly lewd) She loves watching shows like FRIENDS,Grey's Anatomy,Stranger Things, 13 reasons why,and many more.She also watches a lot of anime you can actually call her an otaku now. She loves to read books/manga/manhwa about...YURI?...YAOI?...HENTAI?...FIFTY FUCKING SHADES?? Because of her "experience" and having "great taste" in books/mangas/manhwa she decided to write about her school life (wow so original)...but ShE AdDed fucKed Up tHIngS The story is more or less about school,friendship,parodies,comedy,and a hint OF ROMANCE....YURI( girl x girl)AND YAOI(boyxboy)
8 166 - In Serial54 Chapters
Soulmate Bonded: Jungkook xReader (feat. Namjoon)
Humans have soulmates. One touch and a bruise will mark them as bonded. They begin to need each other for energy to survive. You bond with Jungkook by touching his hand in the crowd.----If soulmates touch, they will both be marked with a bruise on their bodies wherever they first touched each other physically. Some humans never find their soulmates. But if you do, you begin to depend on touching each other for energy to survive.If you don't find whoever you bonded with in time... you die.If you can't stay together to give each other energy... you die.A universe in which you bond with Jeon Jungkook by touching his hand at a concert.-(This story also includes Namjoon's soulmate story.)--Highest Rankings:#1 in Fanfiction#1 in Jungkook#1 in xReader#1 in Kpop#1 in JeonJungkook#1 in Girlfriend#1 in Dating#1 in Soulmate#1 in Imagines#1 in Boyfriend------The original idea for soulmates+bruising is not mine. It belongs to a creative and badass writer named Mindheist over at AO3. I do not own the BTS characters in this novel.All plot is fictional.Cover by: ANarnianMaiden
8 194 - In Serial15 Chapters
Changed - RiKara FF
When Gauri left Omkara he was forever changed. Now fate has given him the chance to win back his wife - but time has changed her too.His misunderstandings tore them apart. His silence suffocated her hope. Now Omkara will have to fight for his love... for his wife...A journey of forgiveness and repentance... Change is inevitable but has time divided them forever or will they find their ways back to one another?Disclaimer: Anything recognisable belongs to the owner.
8 140

