《LOVENEMIES [END]》62 - Pertemuan yang Kebetulan
Advertisement
Mereka berdua bermain untuk sementara waktu di gelanggang es, kali ini dengan Kim Myungsoo mengikuti di samping Bae Sooji dan tidak meninggalkan gadis itu bahkan untuk sesaat. Sooji tidak melihat Choi Minho lagi dan berpikir bahwa pria itu sudah pergi.
Saat mereka meninggalkan gelanggang es, mereka melihat Minho di pintu keluar.
Myungsoo tersenyum muram di dalam hatinya. Bagus sekali.
Karena mereka bertemu, mereka bertiga pergi bersama. Taman hiburan itu masih dipenuhi aktivitas. Sooji sebenarnya sangat ingin bersenang-senang. Dia ingin naik roller coaster dan drop tower, tapi ada antrian panjang dimana-mana. Semua orang keluar untuk bermain sebelum Tahun Baru.
Dia tidak ingin membuang waktu untuk mengantri dan memilih untuk menembak balon pada akhirnya.
Permainan itu menggunakan senjata mainan dengan peluru plastik. Balonnya bervariasi dalam ukuran dan balon yang lebih kecil memiliki berbagai warna. Balon yang berbeda memberikan hadiah yang berbeda; ada boneka mainan besar dan kecil dan semua jenis mainan populer.
Di antara semua balon, balon merah kecil adalah yang paling berharga. Siapa pun yang berhasil menembaknya dengan tepat dapat dengan bebas memilih di antara semua mainan besar.
Sooji melihat dinosaurus merah muda di rak hadiah. Dulu, dia tidak percaya pada cinta pada pandangan pertama tapi sekarang dia yakin bahwa cinta pada pandangan pertama itu memang ada.
"Aku mau itu." Sooji menunjuk ke dinosaurus.
"Beli saja di internet," ujar Myungsoo.
Tapi, Sooji sudah menyerahkan 20 Won. "Aku akan bermain 20 putaran dulu."
Dan satu lagi dan lagi dan lagi.
Semakin Sooji bermain, semakin dalam dia tenggelam. Setiap putaran membuatnya lebih frustrasi dari pada yang terakhir.
100 Won hilang begitu saja. Pada tembakan terakhir, Myungsoo tiba-tiba menekan bahu Sooji.
Sooji berbalik untuk menatapnya. Sooji berpikir bahwa Myungsoo ingin bermain juga, maka dari itu dia mengulurkan pistol.
Myungsoo tidak menerima pistol itu. Dia tidak percaya bahwa pistol mainan bisa mengenai balon kecil itu sama sekali. Meskipun dia tidak bisa menjelaskan alasannya, dia merasa ada sesuatu yang mencurigakan yang sedang terjadi.
"Ayo pergi. Aku akan membelikan boneka itu untukmu," kata Myungsoo. Dia berhenti sebelum menekankan,"Yang sama persis."
"Biarkan aku mencobanya." Minho yang sudah mengamati diam-diam dari samping tiba-tiba berbicara.
Keduanya menatap Minho.
Minho melangkah maju untuk mengambil pistol mainan. Dia membidik balon dan menjelaskan, "Pistol untuk senjata ini tidak akurat; ada bagian yang salah. Karenanya, kau tidak akan bisa mengenai benda-benda yang kau tuju."
Sooji tercengang. "Ah? Jadi apa yang bisa kita lakukan? Tembakkan saja secara membabi buta?"
Minho menggelengkan kepalanya. "Tidak, deviasinya sudah diperbaiki. Kau hanya perlu menghitung perbedaan sudut dan menyesuaikannya saat kau ingin menembak. Misalnya, seperti ini..." Saat dia berbicara, tangannya yang memegang pistol itu bergerak sedikit ke bawah. Mata kirinya tertutup sementara mata kanannya tertuju pada pandangan pistol. Setelah beberapa saat, dia mengangkat kepalanya dan menatap target. Dia melakukannya berulang beberapa kali.
Sooji merasa sangat kagum. Dia meregangkan lehernya dan membungkuk ke samping Minho untuk melihat lebih dekat.
Myungsoo juga ingin melihat apa yang sedang terjadi. Dia tiba-tiba terjepit dan menggoyang-goyangkan tubuh besarnya di antara mereka berdua. Setelah beberapa saat, dia tampaknya merasa bahwa Sooji menghalangi pandangannya dan menarik bagian belakang kerah Sooji untuk menariknya ke samping.
Akhirnya, Minho selesai membidik dan tiba-tiba menarik pelatuknya.
Bang—
Pop!
Balon merah kecil meledak dan menghilang ke udara tipis.
Sooji tertegun selama tiga detik sebelum akhirnya bertepuk tangan dengan meriah. "Wow! Itu luar biasa, tidak heran kau adalah siswa terbaik!"
Minho tersenyum dan mendorong kacamatanya. Dia mengembalikan pistol mainan itu pada Sooji..
Sooji mengambil pistol dan meletakkannya di atas meja. Dia menunjuk ke dinosaurus merah muda di rak dan berkata kepada penjaga stan,"Aku ingin itu!"
Penjaga stan mengambilnya dan mengulurkannya pada Sooji. Sooji menggosok tangannya dan ingin meraih boneka itu tapi sebelum dia menyentuhnya, dinosaurus itu tiba-tiba berubah arah.
Advertisement
Myungsoo sudah mengambil dinosaurus itu sebelum Sooji bisa melakukannya. Myungsoo memegang boneka itu di tangannya dan berkata,"Ini milikku."
Sooji tidak bisa percaya bahwa perilaku konyol seperti ini ada. Dia menatap kosong. "Kim Myungsoo, apa kau tidak malu?"
Myungsoo tidak peduli dan melihat dinosaurus ditangannya. Jawabannya sudah tertulis jelas di wajahnya: Apa yang memalukan dan siapa yang peduli?
"Masuk akal." Sooji tidak bisa menang dari Myungsoo dalam perdebatan ini dan hanya bisa bermain nalar dengannya. "Tapi aku sudah menghabiskan uangku untuk itu."
"Aku membawamu ke seluncur es," balas Kim Myungsoo.
"Eh... Balon itu ditembak oleh Minho jadi kita harus memberikannya padanya. Bukankah begitu, Choi Minho?" Sooji menatap Minho saat dia berbicara.
Minho baru saja akan berbicara saat Myungsoo dengan cepat menyela,"Aku mengajarimu berseluncur; ini biaya ilmu yang sudah kuajarkan padamu."
Tidak dapat menandinginya, Minho menarik-narik kemeja Sooji dan menghiburnya,"Bagaimana kalau aku menembakkan satu lagi untukmu?"
Mendengar ini, penjaga stan menyimpan pistol mainan dan berkata dengan singkat,"Maaf, kalian tidak bisa menembak lagi."
Dan itulah bagaimana Sooji akhirnya menghabiskan seratus won untuk dinosaurus merah muda untuk Kim Myungsoo.
Myungsoo, seorang pria dengan tinggi 1,88 m, sedang memegang mainan lucu dan feminin di lengannya. Itu adalah pemandangan yang bisa membunuh.
Mereka bertiga meninggalkan taman hiburan. Myungsoo bertanya pada Sooji,"Bagaimana kau akan pulang?"
"Aku naik kereta."
Myungsoo sudah mengambil ponselnya dan siap memesan taksi. Mendengar jawaban gadis itu, dia menurunkan ponselnya dan berkata,"Aku juga akan naik kereta."
Sedangkan Minho... Minho juga akan naik kereta.
Tapi, Minho dan Sooji tidak menuju ke arah yang sama. Dia bahkan tidak memiliki kesempatan untuk berpura-pura menuju ke arah yang sama dengan gadis itu. Itu karena Sooji menunjuk ke peta kereta dan berkata,"Choi Minho, bukankah kau tinggal di sini? Kita menuju ke arah yang berlawanan."
Heh, dia bahkan tahu dimana pria itu tinggal. Hati Kim Myungsoo mulai merasa masam lagi.
Dan tidak ada yang bisa dia lakukan untuk menghilangkan perasaan masam itu.
Mereka bertiga berpisah seperti itu. Myungsoo dan Sooji melangkah ke gerbong kereta bersama.
Ada sedikit orang di malam hari dan mereka berhasil menemukan kursi yang berdekatan. Setelah duduk, Sooji mengabaikan Myungsoo karena dia masih merasa marah perihal dinosaurus.
Myungsoo memiliki frustrasi terpendam dan juga memilih untuk diam. Dia bersandar dan menutup matanya untuk beristirahat.
Semuanya tetap seperti itu selama lebih dari sepuluh menit. Kemudian, Sooji dengan sembunyi-sembunyi melirik Kim Myungsoo dari sudut matanya.
Myungsoo duduk dengan lurus. Kepalanya bersandar di dinding kereta, napasnya seimbang dan matanya tertutup rapat. Sepertinya pria itu tertidur.
Sooji sangat, sangat diam-diam menarik dinosaurus itu dari tangannya.
Dengan ekor yang ditarik, dinosaurus itu dengan sangat, sangat lambat meninggalkan Myungsoo.
Lalu, boneka itu dengan sangat, sangat pelan... naik kembali ke pelukan Myungsoo.
Sooji terdiam. Dinosaurus itu hidup?
Dia menatap Myungsoo dan menyadari bahwa pria itu kini tersenyum dengan mata masih tertutup. Bibirnya yang berwarna bunga sakura melengkung dalam lengkungan yang indah. Di bawah pencahayaan kereta, bibirnya tidak hanya tampak cerah dan halus tapi juga lembut dan tegas. Tampak sangat ranum.
Sooji tiba-tiba merasakan dorongan atau lebih tepatnya, dorongan itu muncul dari lubuk hatinya. Dia sangat ingin mencicipi sepasang bibir yang indah itu.
Pikiran itu terlintas di benaknya yang muncul secara tiba-tiba entah dari mana. Saat dia sepenuhnya sadar akan pikiran itu dan secara rasional menekan impuls aneh yang membingungkan, dia mendengar dirinya menelan air liurnya.
Hm, mungkin... dia hanya lapar?
Sooji menggaruk kepalanya dan melihat ke bawah karena malu. Dia melihat bahwa dinosaurus itu sudah sepenuhnya kembali ke pelukan Myungsoo. Tangan Myungsoo diletakkan di atas perut dinosaurus dan menggenggam kakinya.
Sooji terdiam. Pantas saja.
Sooji menjadi tenang setelah itu. Saat tiba di pemberhentiannya, dia pindah ke pintu. Myungsoo mengikuti di belakang dan keluar bersamanya.
Advertisement
"Apa kau akan mengatakan bahwa kau tinggal di daerah perumahan yang sama denganku?" tanya Sooji.
"Ini sudah larut. Aku akan mengantarmu pulang."
Itu hanya beberapa ratus meter dari stasiun kereta api ke daerah tempat tinggalnya. Sooji terbiasa berjalan sendiri dan tidak takut. Tapi, dia masih merasa sedikit tersentuh bahwa ada seseorang yang sedang memperhatikannya seperti ini.
Tapi, saat dia melihat dinosaurus di lengan Myungsoo, perasaan tersentuhnya lenyap. "Jangan berpikir bahwa aku akan memaafkanmu karena ini."
Jumlah orang di sekitar berkurang drastis saat mereka keluar dari stasiun.
Mereka berdua berjalan berdampingan. Di bawah lampu jalan, bayangan mereka menyusut dan memanjang berulang kali. Kepala Sooji menunduk saat dia menendang kerikil. Setelah berjalan seperti itu selama beberapa waktu, dia sampai di pintu masuk area perumahan tempat dia tinggal.
Pada akhirnya, dia masih tetap berterima kasih pada pria itu.
Myungsoo menunduk dan menatapnya. Dia tiba-tiba berkata,"Aku ingin tahu tentang satu hal."
"Apa?"
"Aku ingat bahwa kau tidak menyukai Choi Minho."
Sooji menggaruk kepalanya dan menjawab,"Rasa ketidaksukaanku tidak terlalu kuat. Aku hanya tidak ingin melihatnya. Kau benar — dengan melepaskan mimpi untuk cinta, seseorang tidak akan bisa berhenti memikirkan mimpi itu. Pada akhirnya, tidak ada kasih sayang yang tersisa setelah mimpi itu hilang." Dia menarik napasnya panjang. "Kim Myungsoo, kadang-kadang aku berpikir bahwa kau orang gila dan kadang-kadang aku berpikir bahwa kau adalah orang yang bijak."
"Jadi, menurutmu apa yang paling sering kulakukan?"
"Aku paling sering berpikir bahwa kau adalah seekor anjing."
Gadis itu mulai lagi. Myungsoo meletakkan tangannya di dahinya. Dia bertanya dengan lembut,"Bagaimana dengan sekarang? Apa yang kau rasakan terhadap Choi Minho?"
"Sekarang? Aku sudah melupakan masa lalu. Setelah berputar-putar, aku berhasil melakukan apa yang kuinginkan. Nasib baik bagiku. Aku tidak akan membenci siapa pun lagi." Setelah berkata demikian, Sooji tiba-tiba menghela napas. Dia mengeluh,"Berbicara tentang ini, kadang-kadang saat kita mengatakan bahwa kita tidak menyukai seseorang, mungkin itu bukan karena kita benar-benar tidak menyukai mereka. Kita hanya tidak menyukai orang itu selama periode tertentu dan tidak menyukai siapa diri kita saat itu..."
Myungsoo tertegun sejenak. Dia tersenyum miris dan berpikir, bukankah itu masalahnya?
Sooji menggosok kepala dinosaurus dan berkata pada Myungsoo,"Berikan ini padaku. Aku akan memanggilmu 'ayah' sekali lagi."
Pada saat yang tepat itu, suara pria paruh baya tiba-tiba menyela mereka. Suara itu dipenuhi dengan ketidaksenangan yang tebal. "Katakan sekali lagi, siapa yang kau panggil 'ayah'?"
Sooji menoleh dan melihat ayah kandungnya berdiri di kejauhan. Dia melompat kaget. "Ayah..."
Kepala Sekolah Bae memegang kotak makanan di tangannya. Kemarahan tertulis di seluruh wajahnya saat dia menatap Sooji sebelum akhirnya menatap Myungsoo. Keluarga mana yang lupa mengawasi anak gadis mereka dan membiarkan pria asing mendekati anak gadis mereka?
Myungsoo tidak menyangka akan bertemu ayah Sooji dalam keadaan seperti ini. Dia tidak pernah gugup seperti sekarang, merasa sangat tidak nyaman sehingga tubuhnya kaku dan dia tidak tahu dimana harus meletakkan tangannya. Ketenangannya yang biasa benar-benar menghilang tanpa jejak.
"Halo, paman," kata Myungsoo.
Kesopanannya tidak membuat Kepala Sekolah Bae menurunkan penjagaannya. Namun, setelah mengamati Myungsoo satu kali dari ujung kepala hingga ujung kaki dan membandingkannya dengan putrinya sendiri, tiba-tiba dia sedikit bingung siapa sebenarnya pria itu.
Sooji menarik Myungsoo ke depan dan memperkenalkannya,"Ayah, ini Kim Myungsoo. Apa ayah masih mengingatnya? Teman semejaku di sekolah dasar. "
Kepala Sekolah Bae bereaksi seolah-olah dia sedang menyentuh kawat hidup. Seluruh tubuhnya tersentak dan seolah-olah dia tidak bisa mempercayai telinganya, dia mengangkat suaranya dan bergemuruh,"Kau bilang siapa dia?!"
Reaksi ayahna terlalu ekstrim, memberi Sooji kejutan besar. Dia menjawab dengan takut-takut,"Dia Kim Myungsoo, teman semejaku selama enam tahun. Orang yang dulu selalu ayah ingatkan padaku supaya aku mencontohnya setiap hari, Kim Myungsoo."
Kepala Sekolah Bae memandang Myungsoo lagi. Pada saat ini, ekspresinya tampak dijaga dan tidak ramah dan tidak terlihat seperti sedang melihat panutan putrinya.
Ironisnya, Myungsoo sudah memvisualisasikan dirinya bahwa dia akan menelepon orangtua Sooji sebelum mengunjungi rumahnya dengan membawa hadiah. Hebat, sekarang ayah asli Sooji menemukan mereka saat gadis itu memanggilnya 'ayah'. Kesan pertamanya benar-benar hancur dan dia juga tidak memiliki hadiah. Dari ujung kepala sampai ujung kaki, dia hanya memiliki dinosaurus merah muda yang nyaris tidak bisa dianggap sebagai hadiah. Jika dia benar-benar memberikan benda itu pada pria paruh baya, dia mungkin akan dicap sebagai orang gila.
Dia menguatkan dirinya untuk menahan serangan tatapan Kepala Sekolah Bae. Rasanya seperti mata Kepala Sekolah Bae memegang perasaan yang mendalam melebihi amarah semata karena gelarnya sebagai ayah sudah dicuri.
Tapi, Myungsoo tidak bisa mengingat insiden apa pun yang mungkin telah menyinggung Kepala Sekolah Bae.
Tidak pantas baginya untuk berlama-lama dalam keadaan seperti itu. Maka dari itu dia mengucapkan selamat tinggal pada orang tua dan anak itu dan melarikan diri dengan tergesa-gesa. Dia perlu melakukan beberapa refleksi di rumah.
Kepala Sekolah Bae memperhatikan sosok Myungsoo yang sedang pergi dan saat bayangan pria muda itu menghilang, Kepala Sekolah Bae bertanya pada Sooji,"Jangan katakan pada ayah bahwa ada sesuatu yang terjadi di antara kalian berdua."
Saat Sooji mendengar perkataan ayahnya, sepasang bibir berwarna bunga sakura melengkung perlahan dengan sedikit senyum muncul di wajahnya. Wajahnya memanas dan dia menggelengkan kepalanya dengan pelan. Dia menjawab,"Ayah, ayah terlalu banyak berpikir. Kalau kami benar-benar berkencan, apa ayah pikir dia tidak akan membiarkanku memiliki mainan di tangannya?"
"Itu benar." Kepala Sekolah Bae sangat percaya pada putrinya. Gadis itu cukup berani sehingga dia tidak akan menyembunyikan sesuatu dari ayahnya hanya karena dia malu. Jika Sooji mengatakan bahwa hal itu tidak benar, maka semuanya benar-benar seperti yang gadis itu katakan.
"Jadi, apa yang terjadi di antara kalian berdua?" Kepala Sekolah Bae bertanya lagi,"Kenapa kalian saling berhubungan tiba-tiba? Ayah belum pernah mendengarmu menyebutkan ini sebelumnya."
"Kami kebetulan bertemu di kampus. Suatu kebetulan bahwa kami berakhir di sekolah yang sama lagi. Dia berada di tim hoki es sementara aku di tim seluncur cepat." Sooji berseri-seri saat dia berbagi ceritanya secara rinci. "Jangan menilai dia dari penampilannya — meskipun dia terlihat seperti orang gila, dia cukup berbakat dengan apa yang dia lakukan. Dia baru-baru ini mewakili Korea di Kejuaraan Hoki Es Dunia U-20 tahun ini sebagai anggota inti. Tapi, dia biasanya sangat sombong di depan umum."
Kepala Sekolah Bae mengamati Sooji dengan curiga saat dia mengoceh. Dia merasa bingung dan terdiam. Melihat bungkus makanan yang dipegang ayahnya, dia kemudian bertanya,"Apa ini?"
"Ibumu ingin makan bihun darah bebek. Jadi, ayah pergi untuk membelikannya untuk ibumu. "
"Kalian berdua masih secara terbuka menunjukkan kasih sayang di usia kalian yang sudah tidak muda lagi. Aku tidak tahan lagi. Aku akan pindah ke tempat dimana hanya ada orang-orang lajang."
Duo ayah dan anak itu mengobrol saat mereka kembali.
"Apa kita akan pergi ke rumah kakek dan nenek besok?"
"Hm, kita akan makan malam bersama."
"Ayah, berapa banyak uang paket merah yang akan ayah berikan padaku tahun ini? Berikan aku petunjuk."
"Heh."
"Jangan seperti itu. Pertama-tama, aku akan memberi ayah petunjuk tentang seberapa banyak yang aku makan hari ini. Biarkan ayah mempersiapkan diri secara mental..."
"Katakan, kau dan Kim Myungsoo—"
"Ayah, bukankah aku sudah mengatakannya dengan jelas? Benar-benar tidak ada yang terjadi antara kami."
"Bahkan jika tidak ada yang terjadi sekarang, tidak boleh ada yang terjadi di masa depan, mengerti? Ayah beritahu padamu, ayah tidak akan pernah setuju jika kalian berdua berkencan."
"Eh? Kenapa?"
"Karena... Pokoknya ayah tidak setuju!"
Advertisement
- In Serial13 Chapters
Fracture: Tales of the Broken Lands [Re]
Eternity's march wears down even those destined to see its end. He was one of them, one of the first and last. But... nothing went as it should have. The enemy came and its legions consumed the worlds and all those who rose to defend the cosmos. Everyone except him. Despite all, he survived, fighting until he had nothing left, yet even as he welcomed it, the end never came. Jack was given another chance. His fate brought him to a plane called Fracture, a nexus of the cosmos, where broken things go to find new purpose. Will he find his purpose? Or will the machinations of those who rule the Broken Lands lead him to ruin? *** This is a rewrite of my first story. It is a litrpg with elements of cultivation in a setting filled with fantasy and scifi trappings. For old readers returning, the story will be significantly different, but core components of the characters will remain the same. I hope you enjoy it.
8 141 - In Serial18 Chapters
VRMMORPG: Heart of the Phantom Thief
I logged into my much awaited vrmmorpg, only to find that my AID (Artificial Intelligence Delegate) is a man? Moreover, a narcissist!? All the fluffies flee from me. My AID can only assist me in combat for one minute, and the random free weapon I get at the beginning of the game turns out to be a hairpin? Moreover, As soon as I arrive in the game world, I am suddenly killed by a runaway cabbage cart? But, as a result, I am bestowed a bizarre talent…the talent of substitution. Now, while levelling up, how can I use this talent to keep my footing in this world of strange happenings? And, somehow, I am beginning to have flowery pink-dyed dreams about my narcissistic AID? Moreover, there is a rather strange undercurrent in the game quests. This does not bode well.
8 149 - In Serial80 Chapters
The MMRPG Apocalypse
A gas station clerk at twenty-seven with no future prospects on the horizon—Mike Reynolds is a drop-out with an addiction to video games and a less-than-ideal living situation. Life definitely isn't great, but could it really get much worse? When monsters appear on Earth and begin destroying the fabric holding together humanity, that thought is thrown out the window—things are getting worse, and fast. 'Is my world becoming an MMRPG Apocalypse?' Can Mike make good on his prior experience and carve a foothold for himself in this RPG world?
8 257 - In Serial6 Chapters
The End!?
A hero who has tried to end all misery by himself and abandoned everything for this end. A story of a future where world changes, earth changes, 'Yug' era changes as 'change is the law of universe' When earth face devastating changes and world changes a new world arises human civilization gets transformed after an anhilation. Story of uncovering all the truths!!
8 190 - In Serial32 Chapters
Stucky Short Stroies//one-shots//includes smuts
This is mainly about Stucky but it includes the other avengers. These are short stories so i will publish them once they are done and i will be adding to it :) this does contain strong language and sexual chemistry. --Feel free to correct my grammar or spelling
8 104 - In Serial44 Chapters
Countryhuman x reader | Oneshots
This is not Hetalia.Anyways, I'll be writing mediocre oneshots about you and countries. This is from my soon to be unused account, C0nstellati0ns109. So, I did NOT steal these writings.
8 304

