《LOVENEMIES [END]》62 - Pertemuan yang Kebetulan
Advertisement
Mereka berdua bermain untuk sementara waktu di gelanggang es, kali ini dengan Kim Myungsoo mengikuti di samping Bae Sooji dan tidak meninggalkan gadis itu bahkan untuk sesaat. Sooji tidak melihat Choi Minho lagi dan berpikir bahwa pria itu sudah pergi.
Saat mereka meninggalkan gelanggang es, mereka melihat Minho di pintu keluar.
Myungsoo tersenyum muram di dalam hatinya. Bagus sekali.
Karena mereka bertemu, mereka bertiga pergi bersama. Taman hiburan itu masih dipenuhi aktivitas. Sooji sebenarnya sangat ingin bersenang-senang. Dia ingin naik roller coaster dan drop tower, tapi ada antrian panjang dimana-mana. Semua orang keluar untuk bermain sebelum Tahun Baru.
Dia tidak ingin membuang waktu untuk mengantri dan memilih untuk menembak balon pada akhirnya.
Permainan itu menggunakan senjata mainan dengan peluru plastik. Balonnya bervariasi dalam ukuran dan balon yang lebih kecil memiliki berbagai warna. Balon yang berbeda memberikan hadiah yang berbeda; ada boneka mainan besar dan kecil dan semua jenis mainan populer.
Di antara semua balon, balon merah kecil adalah yang paling berharga. Siapa pun yang berhasil menembaknya dengan tepat dapat dengan bebas memilih di antara semua mainan besar.
Sooji melihat dinosaurus merah muda di rak hadiah. Dulu, dia tidak percaya pada cinta pada pandangan pertama tapi sekarang dia yakin bahwa cinta pada pandangan pertama itu memang ada.
"Aku mau itu." Sooji menunjuk ke dinosaurus.
"Beli saja di internet," ujar Myungsoo.
Tapi, Sooji sudah menyerahkan 20 Won. "Aku akan bermain 20 putaran dulu."
Dan satu lagi dan lagi dan lagi.
Semakin Sooji bermain, semakin dalam dia tenggelam. Setiap putaran membuatnya lebih frustrasi dari pada yang terakhir.
100 Won hilang begitu saja. Pada tembakan terakhir, Myungsoo tiba-tiba menekan bahu Sooji.
Sooji berbalik untuk menatapnya. Sooji berpikir bahwa Myungsoo ingin bermain juga, maka dari itu dia mengulurkan pistol.
Myungsoo tidak menerima pistol itu. Dia tidak percaya bahwa pistol mainan bisa mengenai balon kecil itu sama sekali. Meskipun dia tidak bisa menjelaskan alasannya, dia merasa ada sesuatu yang mencurigakan yang sedang terjadi.
"Ayo pergi. Aku akan membelikan boneka itu untukmu," kata Myungsoo. Dia berhenti sebelum menekankan,"Yang sama persis."
"Biarkan aku mencobanya." Minho yang sudah mengamati diam-diam dari samping tiba-tiba berbicara.
Keduanya menatap Minho.
Minho melangkah maju untuk mengambil pistol mainan. Dia membidik balon dan menjelaskan, "Pistol untuk senjata ini tidak akurat; ada bagian yang salah. Karenanya, kau tidak akan bisa mengenai benda-benda yang kau tuju."
Sooji tercengang. "Ah? Jadi apa yang bisa kita lakukan? Tembakkan saja secara membabi buta?"
Minho menggelengkan kepalanya. "Tidak, deviasinya sudah diperbaiki. Kau hanya perlu menghitung perbedaan sudut dan menyesuaikannya saat kau ingin menembak. Misalnya, seperti ini..." Saat dia berbicara, tangannya yang memegang pistol itu bergerak sedikit ke bawah. Mata kirinya tertutup sementara mata kanannya tertuju pada pandangan pistol. Setelah beberapa saat, dia mengangkat kepalanya dan menatap target. Dia melakukannya berulang beberapa kali.
Sooji merasa sangat kagum. Dia meregangkan lehernya dan membungkuk ke samping Minho untuk melihat lebih dekat.
Myungsoo juga ingin melihat apa yang sedang terjadi. Dia tiba-tiba terjepit dan menggoyang-goyangkan tubuh besarnya di antara mereka berdua. Setelah beberapa saat, dia tampaknya merasa bahwa Sooji menghalangi pandangannya dan menarik bagian belakang kerah Sooji untuk menariknya ke samping.
Akhirnya, Minho selesai membidik dan tiba-tiba menarik pelatuknya.
Bang—
Pop!
Balon merah kecil meledak dan menghilang ke udara tipis.
Sooji tertegun selama tiga detik sebelum akhirnya bertepuk tangan dengan meriah. "Wow! Itu luar biasa, tidak heran kau adalah siswa terbaik!"
Minho tersenyum dan mendorong kacamatanya. Dia mengembalikan pistol mainan itu pada Sooji..
Sooji mengambil pistol dan meletakkannya di atas meja. Dia menunjuk ke dinosaurus merah muda di rak dan berkata kepada penjaga stan,"Aku ingin itu!"
Penjaga stan mengambilnya dan mengulurkannya pada Sooji. Sooji menggosok tangannya dan ingin meraih boneka itu tapi sebelum dia menyentuhnya, dinosaurus itu tiba-tiba berubah arah.
Advertisement
Myungsoo sudah mengambil dinosaurus itu sebelum Sooji bisa melakukannya. Myungsoo memegang boneka itu di tangannya dan berkata,"Ini milikku."
Sooji tidak bisa percaya bahwa perilaku konyol seperti ini ada. Dia menatap kosong. "Kim Myungsoo, apa kau tidak malu?"
Myungsoo tidak peduli dan melihat dinosaurus ditangannya. Jawabannya sudah tertulis jelas di wajahnya: Apa yang memalukan dan siapa yang peduli?
"Masuk akal." Sooji tidak bisa menang dari Myungsoo dalam perdebatan ini dan hanya bisa bermain nalar dengannya. "Tapi aku sudah menghabiskan uangku untuk itu."
"Aku membawamu ke seluncur es," balas Kim Myungsoo.
"Eh... Balon itu ditembak oleh Minho jadi kita harus memberikannya padanya. Bukankah begitu, Choi Minho?" Sooji menatap Minho saat dia berbicara.
Minho baru saja akan berbicara saat Myungsoo dengan cepat menyela,"Aku mengajarimu berseluncur; ini biaya ilmu yang sudah kuajarkan padamu."
Tidak dapat menandinginya, Minho menarik-narik kemeja Sooji dan menghiburnya,"Bagaimana kalau aku menembakkan satu lagi untukmu?"
Mendengar ini, penjaga stan menyimpan pistol mainan dan berkata dengan singkat,"Maaf, kalian tidak bisa menembak lagi."
Dan itulah bagaimana Sooji akhirnya menghabiskan seratus won untuk dinosaurus merah muda untuk Kim Myungsoo.
Myungsoo, seorang pria dengan tinggi 1,88 m, sedang memegang mainan lucu dan feminin di lengannya. Itu adalah pemandangan yang bisa membunuh.
Mereka bertiga meninggalkan taman hiburan. Myungsoo bertanya pada Sooji,"Bagaimana kau akan pulang?"
"Aku naik kereta."
Myungsoo sudah mengambil ponselnya dan siap memesan taksi. Mendengar jawaban gadis itu, dia menurunkan ponselnya dan berkata,"Aku juga akan naik kereta."
Sedangkan Minho... Minho juga akan naik kereta.
Tapi, Minho dan Sooji tidak menuju ke arah yang sama. Dia bahkan tidak memiliki kesempatan untuk berpura-pura menuju ke arah yang sama dengan gadis itu. Itu karena Sooji menunjuk ke peta kereta dan berkata,"Choi Minho, bukankah kau tinggal di sini? Kita menuju ke arah yang berlawanan."
Heh, dia bahkan tahu dimana pria itu tinggal. Hati Kim Myungsoo mulai merasa masam lagi.
Dan tidak ada yang bisa dia lakukan untuk menghilangkan perasaan masam itu.
Mereka bertiga berpisah seperti itu. Myungsoo dan Sooji melangkah ke gerbong kereta bersama.
Ada sedikit orang di malam hari dan mereka berhasil menemukan kursi yang berdekatan. Setelah duduk, Sooji mengabaikan Myungsoo karena dia masih merasa marah perihal dinosaurus.
Myungsoo memiliki frustrasi terpendam dan juga memilih untuk diam. Dia bersandar dan menutup matanya untuk beristirahat.
Semuanya tetap seperti itu selama lebih dari sepuluh menit. Kemudian, Sooji dengan sembunyi-sembunyi melirik Kim Myungsoo dari sudut matanya.
Myungsoo duduk dengan lurus. Kepalanya bersandar di dinding kereta, napasnya seimbang dan matanya tertutup rapat. Sepertinya pria itu tertidur.
Sooji sangat, sangat diam-diam menarik dinosaurus itu dari tangannya.
Dengan ekor yang ditarik, dinosaurus itu dengan sangat, sangat lambat meninggalkan Myungsoo.
Lalu, boneka itu dengan sangat, sangat pelan... naik kembali ke pelukan Myungsoo.
Sooji terdiam. Dinosaurus itu hidup?
Dia menatap Myungsoo dan menyadari bahwa pria itu kini tersenyum dengan mata masih tertutup. Bibirnya yang berwarna bunga sakura melengkung dalam lengkungan yang indah. Di bawah pencahayaan kereta, bibirnya tidak hanya tampak cerah dan halus tapi juga lembut dan tegas. Tampak sangat ranum.
Sooji tiba-tiba merasakan dorongan atau lebih tepatnya, dorongan itu muncul dari lubuk hatinya. Dia sangat ingin mencicipi sepasang bibir yang indah itu.
Pikiran itu terlintas di benaknya yang muncul secara tiba-tiba entah dari mana. Saat dia sepenuhnya sadar akan pikiran itu dan secara rasional menekan impuls aneh yang membingungkan, dia mendengar dirinya menelan air liurnya.
Hm, mungkin... dia hanya lapar?
Sooji menggaruk kepalanya dan melihat ke bawah karena malu. Dia melihat bahwa dinosaurus itu sudah sepenuhnya kembali ke pelukan Myungsoo. Tangan Myungsoo diletakkan di atas perut dinosaurus dan menggenggam kakinya.
Sooji terdiam. Pantas saja.
Sooji menjadi tenang setelah itu. Saat tiba di pemberhentiannya, dia pindah ke pintu. Myungsoo mengikuti di belakang dan keluar bersamanya.
Advertisement
"Apa kau akan mengatakan bahwa kau tinggal di daerah perumahan yang sama denganku?" tanya Sooji.
"Ini sudah larut. Aku akan mengantarmu pulang."
Itu hanya beberapa ratus meter dari stasiun kereta api ke daerah tempat tinggalnya. Sooji terbiasa berjalan sendiri dan tidak takut. Tapi, dia masih merasa sedikit tersentuh bahwa ada seseorang yang sedang memperhatikannya seperti ini.
Tapi, saat dia melihat dinosaurus di lengan Myungsoo, perasaan tersentuhnya lenyap. "Jangan berpikir bahwa aku akan memaafkanmu karena ini."
Jumlah orang di sekitar berkurang drastis saat mereka keluar dari stasiun.
Mereka berdua berjalan berdampingan. Di bawah lampu jalan, bayangan mereka menyusut dan memanjang berulang kali. Kepala Sooji menunduk saat dia menendang kerikil. Setelah berjalan seperti itu selama beberapa waktu, dia sampai di pintu masuk area perumahan tempat dia tinggal.
Pada akhirnya, dia masih tetap berterima kasih pada pria itu.
Myungsoo menunduk dan menatapnya. Dia tiba-tiba berkata,"Aku ingin tahu tentang satu hal."
"Apa?"
"Aku ingat bahwa kau tidak menyukai Choi Minho."
Sooji menggaruk kepalanya dan menjawab,"Rasa ketidaksukaanku tidak terlalu kuat. Aku hanya tidak ingin melihatnya. Kau benar — dengan melepaskan mimpi untuk cinta, seseorang tidak akan bisa berhenti memikirkan mimpi itu. Pada akhirnya, tidak ada kasih sayang yang tersisa setelah mimpi itu hilang." Dia menarik napasnya panjang. "Kim Myungsoo, kadang-kadang aku berpikir bahwa kau orang gila dan kadang-kadang aku berpikir bahwa kau adalah orang yang bijak."
"Jadi, menurutmu apa yang paling sering kulakukan?"
"Aku paling sering berpikir bahwa kau adalah seekor anjing."
Gadis itu mulai lagi. Myungsoo meletakkan tangannya di dahinya. Dia bertanya dengan lembut,"Bagaimana dengan sekarang? Apa yang kau rasakan terhadap Choi Minho?"
"Sekarang? Aku sudah melupakan masa lalu. Setelah berputar-putar, aku berhasil melakukan apa yang kuinginkan. Nasib baik bagiku. Aku tidak akan membenci siapa pun lagi." Setelah berkata demikian, Sooji tiba-tiba menghela napas. Dia mengeluh,"Berbicara tentang ini, kadang-kadang saat kita mengatakan bahwa kita tidak menyukai seseorang, mungkin itu bukan karena kita benar-benar tidak menyukai mereka. Kita hanya tidak menyukai orang itu selama periode tertentu dan tidak menyukai siapa diri kita saat itu..."
Myungsoo tertegun sejenak. Dia tersenyum miris dan berpikir, bukankah itu masalahnya?
Sooji menggosok kepala dinosaurus dan berkata pada Myungsoo,"Berikan ini padaku. Aku akan memanggilmu 'ayah' sekali lagi."
Pada saat yang tepat itu, suara pria paruh baya tiba-tiba menyela mereka. Suara itu dipenuhi dengan ketidaksenangan yang tebal. "Katakan sekali lagi, siapa yang kau panggil 'ayah'?"
Sooji menoleh dan melihat ayah kandungnya berdiri di kejauhan. Dia melompat kaget. "Ayah..."
Kepala Sekolah Bae memegang kotak makanan di tangannya. Kemarahan tertulis di seluruh wajahnya saat dia menatap Sooji sebelum akhirnya menatap Myungsoo. Keluarga mana yang lupa mengawasi anak gadis mereka dan membiarkan pria asing mendekati anak gadis mereka?
Myungsoo tidak menyangka akan bertemu ayah Sooji dalam keadaan seperti ini. Dia tidak pernah gugup seperti sekarang, merasa sangat tidak nyaman sehingga tubuhnya kaku dan dia tidak tahu dimana harus meletakkan tangannya. Ketenangannya yang biasa benar-benar menghilang tanpa jejak.
"Halo, paman," kata Myungsoo.
Kesopanannya tidak membuat Kepala Sekolah Bae menurunkan penjagaannya. Namun, setelah mengamati Myungsoo satu kali dari ujung kepala hingga ujung kaki dan membandingkannya dengan putrinya sendiri, tiba-tiba dia sedikit bingung siapa sebenarnya pria itu.
Sooji menarik Myungsoo ke depan dan memperkenalkannya,"Ayah, ini Kim Myungsoo. Apa ayah masih mengingatnya? Teman semejaku di sekolah dasar. "
Kepala Sekolah Bae bereaksi seolah-olah dia sedang menyentuh kawat hidup. Seluruh tubuhnya tersentak dan seolah-olah dia tidak bisa mempercayai telinganya, dia mengangkat suaranya dan bergemuruh,"Kau bilang siapa dia?!"
Reaksi ayahna terlalu ekstrim, memberi Sooji kejutan besar. Dia menjawab dengan takut-takut,"Dia Kim Myungsoo, teman semejaku selama enam tahun. Orang yang dulu selalu ayah ingatkan padaku supaya aku mencontohnya setiap hari, Kim Myungsoo."
Kepala Sekolah Bae memandang Myungsoo lagi. Pada saat ini, ekspresinya tampak dijaga dan tidak ramah dan tidak terlihat seperti sedang melihat panutan putrinya.
Ironisnya, Myungsoo sudah memvisualisasikan dirinya bahwa dia akan menelepon orangtua Sooji sebelum mengunjungi rumahnya dengan membawa hadiah. Hebat, sekarang ayah asli Sooji menemukan mereka saat gadis itu memanggilnya 'ayah'. Kesan pertamanya benar-benar hancur dan dia juga tidak memiliki hadiah. Dari ujung kepala sampai ujung kaki, dia hanya memiliki dinosaurus merah muda yang nyaris tidak bisa dianggap sebagai hadiah. Jika dia benar-benar memberikan benda itu pada pria paruh baya, dia mungkin akan dicap sebagai orang gila.
Dia menguatkan dirinya untuk menahan serangan tatapan Kepala Sekolah Bae. Rasanya seperti mata Kepala Sekolah Bae memegang perasaan yang mendalam melebihi amarah semata karena gelarnya sebagai ayah sudah dicuri.
Tapi, Myungsoo tidak bisa mengingat insiden apa pun yang mungkin telah menyinggung Kepala Sekolah Bae.
Tidak pantas baginya untuk berlama-lama dalam keadaan seperti itu. Maka dari itu dia mengucapkan selamat tinggal pada orang tua dan anak itu dan melarikan diri dengan tergesa-gesa. Dia perlu melakukan beberapa refleksi di rumah.
Kepala Sekolah Bae memperhatikan sosok Myungsoo yang sedang pergi dan saat bayangan pria muda itu menghilang, Kepala Sekolah Bae bertanya pada Sooji,"Jangan katakan pada ayah bahwa ada sesuatu yang terjadi di antara kalian berdua."
Saat Sooji mendengar perkataan ayahnya, sepasang bibir berwarna bunga sakura melengkung perlahan dengan sedikit senyum muncul di wajahnya. Wajahnya memanas dan dia menggelengkan kepalanya dengan pelan. Dia menjawab,"Ayah, ayah terlalu banyak berpikir. Kalau kami benar-benar berkencan, apa ayah pikir dia tidak akan membiarkanku memiliki mainan di tangannya?"
"Itu benar." Kepala Sekolah Bae sangat percaya pada putrinya. Gadis itu cukup berani sehingga dia tidak akan menyembunyikan sesuatu dari ayahnya hanya karena dia malu. Jika Sooji mengatakan bahwa hal itu tidak benar, maka semuanya benar-benar seperti yang gadis itu katakan.
"Jadi, apa yang terjadi di antara kalian berdua?" Kepala Sekolah Bae bertanya lagi,"Kenapa kalian saling berhubungan tiba-tiba? Ayah belum pernah mendengarmu menyebutkan ini sebelumnya."
"Kami kebetulan bertemu di kampus. Suatu kebetulan bahwa kami berakhir di sekolah yang sama lagi. Dia berada di tim hoki es sementara aku di tim seluncur cepat." Sooji berseri-seri saat dia berbagi ceritanya secara rinci. "Jangan menilai dia dari penampilannya — meskipun dia terlihat seperti orang gila, dia cukup berbakat dengan apa yang dia lakukan. Dia baru-baru ini mewakili Korea di Kejuaraan Hoki Es Dunia U-20 tahun ini sebagai anggota inti. Tapi, dia biasanya sangat sombong di depan umum."
Kepala Sekolah Bae mengamati Sooji dengan curiga saat dia mengoceh. Dia merasa bingung dan terdiam. Melihat bungkus makanan yang dipegang ayahnya, dia kemudian bertanya,"Apa ini?"
"Ibumu ingin makan bihun darah bebek. Jadi, ayah pergi untuk membelikannya untuk ibumu. "
"Kalian berdua masih secara terbuka menunjukkan kasih sayang di usia kalian yang sudah tidak muda lagi. Aku tidak tahan lagi. Aku akan pindah ke tempat dimana hanya ada orang-orang lajang."
Duo ayah dan anak itu mengobrol saat mereka kembali.
"Apa kita akan pergi ke rumah kakek dan nenek besok?"
"Hm, kita akan makan malam bersama."
"Ayah, berapa banyak uang paket merah yang akan ayah berikan padaku tahun ini? Berikan aku petunjuk."
"Heh."
"Jangan seperti itu. Pertama-tama, aku akan memberi ayah petunjuk tentang seberapa banyak yang aku makan hari ini. Biarkan ayah mempersiapkan diri secara mental..."
"Katakan, kau dan Kim Myungsoo—"
"Ayah, bukankah aku sudah mengatakannya dengan jelas? Benar-benar tidak ada yang terjadi antara kami."
"Bahkan jika tidak ada yang terjadi sekarang, tidak boleh ada yang terjadi di masa depan, mengerti? Ayah beritahu padamu, ayah tidak akan pernah setuju jika kalian berdua berkencan."
"Eh? Kenapa?"
"Karena... Pokoknya ayah tidak setuju!"
Advertisement
- In Serial52 Chapters
Summon Imp!
Travel with a newly born demon as he grows and learns in his own world as well as in other worlds as he gets summoned again and again. Usually to die or kill for others in strange and exciting places, but it's never certain what the next one will bring. It has its perks. With each new world comes a new story with new experiences and new lessons. There is always more to see, more to learn and more to know. Maybe, someday, it will all make sense. For now he will just work hard to become stronger, to be useful and, hopefully, survive that way. A coming-of-age story, but different. Things start to slow down to a crawl. Colors blur into one another until my vision is completely white. All I can think is "Shit, not this again!" I hate being summoned. _________________________________ updates once a week until I get more time The idea for this story began in two places. One was the ridiculously rapid pace of gaining power in many novels. Both in games and in novels, I enjoy the struggle of the beginning character, why always the rush? The other was the way many monster or non-human MCs always seem to hurry to become human (again). It always felt like a cheap way to grant the character extra powers without the difficulty of writing a non-standard thought process. Thus I wanted to write the slow(ish) progression of a monster character gaining strength and intelligence, while remaining distinctly non-human. There are no stats, xp or systems, no reincarnated soul or completely formed being to start with - unless I want to make fun of those. While the MC 'evolves', the process takes months if not years to proceed step by little step. Sit down with me and imagine, what would it be like if...
8 171 - In Serial187 Chapters
Hunter Or Huntress
A human engineer named Tom accepts a deal to travel to a Fantasy world with the mission of changing it forever. He is given a week to prepare before setting off. Once on the other side, he is greeted by a fantastical world and its inhabitants. his original mission to change this world and have some fun while doing it quickly turns into him making a home for himself and defending it and his new family against whatever ends up coming their way. The story will also follow the POV of Sapphire a local woman who Tom encounters early on in his travels to yield a closer insight into our local population. The story focuses mainly on the interactions between the characters with intermittent action, romance, and the technical side of trying to bring a medieval-high-fantasy people up to speed with more or less modern technology. There will be discussions of mental illness, immense loss, and joy, ranging from the truly heartbreaking to the properly heartwarming. The first chapters are on the short side but eventually escalate to the 3000-5000 word range. especially the early chapters suffer from poor grammar and I am sorry. they are slowly going to be brought up to spec. The story is originally posted on Reddit r/HFY https://www.reddit.com/r/HFY/comments/jfgpie/hunter_or_huntress_chapter_1_the_offer_oc/ If you can't remember a character or just wanna see what's what. there is also the wiki here: https://drive.google.com/drive/folders/1sqP9B7Mqh2D1tpboFHqpk6f0284wX-HE?usp=sharing Cover art by the amazing Uwnycorn: https://www.deviantart.com/uwnycorne If you want to support this odd little project I do have a patreon. You don't get anything for supporting except gratitude though. https://www.patreon.com/HunterOrHuntress?fan_landing=true
8 116 - In Serial260 Chapters
Project Mirage Online
[On hiatus] Getting his consciousness stuck inside a VRMMO was the last thing Rian Karasawa expected, but being the only one trapped in the game complicates things. Guarding his secret amid the threat of deletion, he fights his way to the endgame to discover the truth about his circumstances and the nature of the world of Miriad. Features: A slightly "philosophical" take on standard litRPGs tropes. Parallel universes. A protagonist who loves to punch things.
8 210 - In Serial7 Chapters
Grey
Thousands of years ago there was a great breaking of the world. Few alive have the knowledge of why this was necessary, but in the end, the world was split into two. On the one side, a person lived in a world of controlled technology and evolution. On the other, even the basest creatures can alter the world's path. Then came a boy named Icarus, who preferred Fern, and didn't particularly want to be there. This is his story, and how he became a fable told from one village to the next.
8 160 - In Serial7 Chapters
Sleeping Titan
In lands that once slept peacefully at night, ancient steel gods impervious to magic have risen from the earth, called Golems by their subjects, and their ripples of fear have spread across the world. Two thousand years, several genocides and an immortal Empire later, the Golems are still alive, and a young elf ends up on a journey that will change their fate forever. Criticism is welcomed.
8 94 - In Serial23 Chapters
Only Mine (Kagehina) (Kageyama x Hinata)
Kageyama and Hinata always felt comfortable around each other, it's like they completed each other. Of course when Kageyama starts feeling stronger emotions towards Hinata, he questions himself if he still just wants to be friends or maybe more...
8 154

