《Timeless [ Kaisoo GS] ✔️》Epilouge
Advertisement
Pria itu berusaha membuka matanya yang terasa sangat berat, sekelilingnya terasa sangat hening terlebih indra pendengarannya yang menajam hingga dia bisa mendengar suara tarikan nafasnya sendiri, dan bunyi nyaring alat pendeteksi jantung. Perlahan dia menilik sekitar memperhatian ruangan yang dia gunakan lalu beralih mengangkat tangannya yang terasa sangat kaku, memperhatikan betapa kurus tangannya, dia bahkan bisa melihat pentulan dirinya pada jendela, pria yang tidak dia kenal dengan jambang yang cukur asal, rambut pajang yang tidak berbentuk, tulang berbalut kulit yang menyembul dari balik lengan biru.
Dia rasa dia sudah tidur cukup lama hingga tidak mengenali dirinya sendiri, atau sekarang roh nya sudah berpindah raga layaknya adegan di film film fantasi. Tak lama sepasang pria dan wanita yang sama sekali tidak dia kenali masuk kedalam ruangannya, mereka berdua tidak terlihat kaget atau sejenisnya, mereka hanya menatapnya iba. Wanita itu mengenakan terusan warna merah, rambut hitam pekat yang lurus, sapuan lipstik merah darah dengan riasan mata mencolok, lalu pria di sampingnya terlihat lebih muda dengan tatanan rambut keatas memperlihatkan keningnya kontars dengan wanita disampingnya dia mengenakan setelan hitam, dengan long coat hitam velvet.
Jong-in menatap mereka bingung, ingin rasanya menanyakan banyak hal namun tengorokannya terasa kering, bibirnya kelu hingga dia hanya bisa menggerakan bibirnya asal. Wanita itu menghampiri Jong-in, meletakan sebuah kalung berbatu amber ditelapak tangan Jong-in dan membantu pria itu untuk menggenggam kalung itu.
"Bangun nak, kau bisa merubahnya kali ini." Ucap wanita itu sambil menggenggam tangan Jong-in.
" Yeomra_dewa bawah tanah membakar kertas ku, kau ikut andil bukan, nenek" sungut pria itu yang memperlihatkan amplop dengan kertas kosong berbingkai tepian merah darah. Wanita itu tampak tidak mengubris dia hanya diam menatap Jong-in dengan senyuman mengusap lembut tangan pria itu.
" berdoalah dengan sepenuh hati, memohonlah, maka dewa akan mendengarmu nak"
Jong-in masih tidak mengerti namun dia tidak bertanya dia hanya memandangi punggung wanita itu yang berlalu pergi, meski tidak dengan pria yang malah tertinggal.
"Benda itu, memohonlah, dia bisa membuatmu kembali kemasa lalu" ujar pria itu asal sebelum ikut menjnggalkan Jong-in yang masih terdiam.
Pria itu mengusap batu yang ada ditelapak tangannya, dia tidak bisa benar-benar melihat bentuk benda itu dan detik berikutnya dia bisa melihat gadis yang cukup dia kenal, tampak sangat berbeda dengan perutnya yang membuncit, lalu pria tinggi yang tidak pernah ia kenal sebelumnya. Wanita itu tampak terkejut hingga menjatuhkan keranjang buah begitu saja, tampak panik begitu pula pria yang tadinya ada di belakangnya, dia lalu berlari keluar berteriak memanggil dokter.
"Jong-in~a. . . Kau sadar? Tuhan. . Hiks hiks kau mengingatku? Jong-in kumohon katakan sesuatu." Rancau wanita itu tak peduli dengan perut besarnya yang terjepit antara badan ranjang yang tubuhnya.
"Baekhyun" gumam Jong-in dan wanita itu mengangguk mengiyakan.
"Kyungsoo" saat satu kata itu meluncur dari bibirnya, Baekhyun hanya membeku air wajahnya terlihat makin suram dengan derai tangis yang tidak bisa di hentikan.
"Maafkan aku. . . Kyungsoo, Kyungsoo dia sudah hiks hiks dia sudah meninggal Jong-in~a. . . Kumohon maafkan aku"
Jong-in tampak diam menatap kalung yang batu amber sebagai liontin nya. Dia bahan tersenyum miris dan memilih mengadahkan kepalanya kearah langit, membiarkan wajah dan rambutnya tersapu desiran angin dengan kedua tangan yang bertumpu pada tanah yang dipenuhi rerumputan. Dibelakangnya ada dua gundukan besar dengan dua nama yang tidak asing untuknya.
" Kalian bahagia sekarang?" Gumam pria itu sambil menatap langit biru dengan awan menggumpal yang berjalan beriringan diatas sana. Namun setitik air mata jatuh begitu saja melewati sudut matanya yang muali meluncur masuk kedalam telinga, Dia masih terdiam dan memilih memejamkan mata dan menutup kedua matanya dengan lengannya dan membiarkan lengan itu basah.
" Jika kau berniat menyalahkanku lakukan saja, aku memang terlalu lama tertidur." Ungkap pria itu seolah ada seseorang yang mengajaknya bicara.
Advertisement
"Gunakan liontinnya bodoh!! dan selamatkan Kyungsoo!"
Suara itu berdengung keras di telinga Jong-in hingga membuat pria itu terlonjak bangun dan menoleh menyusur setiap sudut pemakaman untuk mencari siapa yang baru saja mengumpat kearahnya. Namun tidak ada siapapun disana, dan sedikit terkejut saat sepasang bunga dandelion tumbuh didekat batu nisan sahabatnya dan seingatnya tidak ada bunga itu sebelumnya karna dia sempat membersihkan makam itu.
Salah satu bunga itu berhamburan tertiup angin yang tanpa sadar membuat Jong-in menutup matanya kembali.
"Selamatkan Kyungsoo untukku, Jong-in~a"
***
Suho mendengus kesal saat mendengar suara bel rumah memekakan telinga, bahkan dia berniat memaki siapa pun yang muncul dari balik pintu rumahnya saat ini. Dia bahkan baru memejamkan matanya tidak lebih dari dua jam. Pria itu makin menggerang kesal hingga melempar bantalnya saking kesalnya karna bel rumahnya terdengar sangat tidak sabaran. Dengan terseok-seok dia berjalan keluar dari kamarnya, dia bahkan bisa melihat dan mendengar umpatan yang keluar dari bibir adiknya, sepertinya dia juga terganggu dengan bunyi tidak sabaran didepan rumahnya. ini bahkan masih pagi buta, siapa yang bertamu tidak tahu waktu seperti ini.
" Biar aku saja, kau tidur lagi saja. " ujarnya mendorong kepala adiknya agar kembali masuk kedalam kamarnya.
"Sialan apa kau tidak bisa sab. . . " ucapan Suho tercekat bahkan cukup lama pria itu membiarkan tamunya berdiri cukup lama, mengigil didepan pintu dengan pakaian tipis tanpa alas kaki, dia menerjab beberapa kali untuk memastikan matanya, bahkan dia mengusap matanya berharap bahwa yang dia lihat benar-benar manusia, bukan perwujudan setan yang menyamar menjadi orang yang dua hari yang lalu dia lihat masih terbujur diam di ranjang dengan berbagai alat yang masih menopangnya.
" Bisa kau biarkan aku masuk dulu, hyung?"
***
"Jadi katakan padaku bahwa aku mungkin sedang bermimpi karna terlalu lama bekerja seperti orang gila." gumam pria itu sambil meletakan secangkir kopi hangat didepan pria itu dan dia sendiri memilih mengisi cangkirnya sendiri dengan wine. Dia tahu dia harus sadar, hanya aja tidak dengan kopi di pagi buta, dia masih butuh tidur setelah kekacauan malam ini.
Ya, pria itu Kim Jong-in, sahabat adiknya dan seingatnya dia masih koma karna baru dua hari yang lalu dia mengunjungi anak itu di tempat dia dirawat, dia bahkan tidak menujukan tanda-tanda akan bangun dari tidurnya. Satu-satunya saksi hidup yang bisa menyeret pelaku tragedi yang membuat adiknya hilang ingatan dan menewaskan salah satu sahabat adiknya.
Saat itu adalah saat dimana dia berpikir bahwa tuhan tidak mendengarkannya sekalipun dia meraung memohon. Bagaimana tidak, kejadian yang hampir menewaskan adiknya itu di tutup tanpa ada kelanjutan apapun, ada tiga korban termasuk adiknya dan juga pria dihadapannya ini.
Kim Jong-in? Pria itu bahkan sedang tersenyum seolah mentertawakan kelakukan pria yang sudah menginjak umur 30 tahunan dihadapannya ini
"Aku memang Jong-in, Hyung."
"Kapan bangun dan katakan padaku kenapa kau meneror di pagi buta, sialan aku bahkan baru tidur 2 jam yang lalu"
"aku bangun mungkin sekitar dua tahun dari tahun sekarang" ujar pria itu enteng yang membuat Suho tanpa sadar meletakan cangkir wine yang dia pegang dengan kasar..
"aku sedang tidak bercanda sialan. kau menganggu ti. . ."
"Apa kau akan percaya bahwa aku datang dari masa depan, hyung?" cegat Jong-in dengan wajah kaku dan dingin.
"jangan membual sialan, kau pi. . ." ucapannya kembali tercekat saat Jong-in mengeluarkan benda tipis persegi yang seketika membuatnya bungkam. Sebuah ponsel.
Konyol jika dia tertegun hanya karna sebuah ponsel, hanya saja, ponsel itu bahkan masih dalam rancangan perusahaannya. Parahnya adalah yang ada dihadapannya adalah ponsel yang bahkan jauh lebih baik dari desain yang di persentasikan dua minggu lalu dihadapannya dan ada logo perusahaannya. Bahkan perkiraan ponsel itu di rilis masih dua. . .
"aku memang datang dari masa depan, hyung. Dua tahun dari sekarang aku sadar dari koma dan Kyungsoo sudah meninggal."
Advertisement
***
Baekhyun terperanjat kaget saat pria itu melepaskan tudung kepalanya. Jong-in tentu tahu bahwa respon gadis dihadapannya akan seberlebihan itu. dia tersenyum, demi tuhan dia berusaha tersenyum sekalipun gadis itu mulai menangis dan limbung, terduduk di lantai dengan tangan yang menangkup mulutnya sendiri agar tidak terisak lebih jauh. Pria itu melirik, hanya berani melirik sekilas menatap tubuhnya yang lain, tampak mengenaskan, sangat, terlebih dengan berbagai alat yang terpasang di tubuhnya. setidaknya lebih baik dari dua tahun dari sekarang.
"Kau berubah menjadi lembek ya, Byun." ledek pria itu sambil mengulurkan tangannya kearah Baekhyun.
" Aku butuh bantuanmu."
***
"Ka. .kau?"
" Ya, aku datang dari masa depan." ujar pria itu tampak santai dan bahkan merasa tidak terganggu dengan tatapan tidak percaya Baekhyun yang teruju padanya. Dia hanya sibuk mengaduk-aduk minuman di hdapannya dengan malas.
"A. aku jelas tidak bisa mengatakan jika aku tidak percaya."
"karna aku memang sengaja muncul dihadapanmu dan tubuhku dia masa sekarang." Senyum pria itu teduh, tampak dari luar, tapi sekalipun begitu dengan menatap dalam mata pria itu saja dia bisa tahu ada badai yang seolah tidak mengizinkannya untuk sekedar singgah lebih lama. ya. dan Baekhyun bisa menangkap waktu pria itu tidak banyak.
"Bisa kau ceritakan apa yang terjadi pada kalian hingga Sehun ter. . ." Baekhyun menjeda ucapannya, tampak tidak sanggup hingga dia memilih memalingkan wajahnya. " kasusnya ditutup begitu saja Jong-in~a"
"Bisa kau bantu aku saja?"
"Kim Jong-in!"
" Awasi Kyungsoo, aku mengandalkanmu Baek" ujar Jong-in tanpa memperdulikan pertanyaan yang di lontarkan gadis di hadapannya. Dia sama sekali tidak menjawabnya.
"berikan aku alasan." ujar gadis itu tegas dengan menghempaskan punggungnya di punggung kursi dengan kedua tangan terlipat didepan dada. Dia kesal, secara teknis karna untuk sekian lama dia kembali bertemu dengan pria yang selalu menjadi musuhnya.
Pria itu, Kim Jong-in hanya diam, menimbang, dengan tatapan yang tertuju pada jalanan diluar kafe yang cukup ramai dengan orang-orang yang berlalu lalang, di tengah teriknya matahari sekalipun waktu sudah menunjukan pukul 4 sore. Cukup lama dia terdiam sebelum akhirnya menatap Baekhyun dan membalas gadis itu dengan sebuah seringai peringatan yang tanpa sadar membuat bulu kudu nya meremang, Kim Jong-in punya kuasa seperti itu.
" satu bulan dari sekarang, Kyungsoo di temukan tewas. Di bunuh. Kau mengabaikan panggilan telponenya malam itu karna sebelumnya kau bertengkar denganya, kau menyadari perasaanmu dan bertengkar hebat dengan Kyungsoo dan malam itu dia meminta bantuanmu." ujar pria itu melempar bomnya dan tentu saja, Baekhyun mati di tempat.
tangannya meluncur turun, terkepal di atas pahanya dengan gemetaran. Dia setakut itu. tentu.
"A. .aku me."
"Baekhyun masa depan yang mengatakan itu padaku, kau tahu aku bukan pria baik hati yang akan menjaga perasaan lawan bicara ku bukan?" pria itu bangkit kembali memakai masker dan topinya sedikit menyentak hoodie yang dia pakai.
"awasi saja orang-orang yang tidak kau kenal baik dan berada di sekitar Kyungsoo, karna seperti yang kau katakan. Kasus itu di tutup tanpa penahanan pelaku. Kau paham maksudku bukan?"
***
Pagi itu tidak terlalu menyengat dan pria itu masih sibuk menatap gadis dihadapannya ini sejak dai bangun dari tidurnya sekitar 2 jam yang lalu. Terlalu bahagia mungkin salah satu definisi yang bisa mengambarkannya sekarang. gadis itu menyerahkan dirinya dan menjadi miliknya seutuhnya, dia bahkan tidak ingin hari ini berlalu begitu saja. Bahkan jika ini hanya mimpi dia rela tidur selamanya.
Semalam? ya dia sadar, sangat sadar hingga dia ingin kembali mengulangnya, bahkan jika dia tidak memiliki sedikit kontrol atas dirinya dia mungkin kembali mengrayangi tubuh gadis yang berada dipelukannya. Pria itu tersenyum saat tangan usilnya yang sejak tadi menyusuri helaian rambut gadis itu dan membuatnya terganggu hingga berbalik memunggunginya. dia memilih menyusupkan tangannya di pinggang gadis itu, merasakan kulitnya yang langsung bersentuhan dengan kulit gadis itu.
Namun kebahagiannya pagi itu jelas hanya sementara, sebelum badai itu datang dan tanpa sadar membuatnnya bergetar ketakutan. Pria itu menarik Kyungsoo lebih dekat kearahnya. mengecup punggung, bahu lalu menghirup dalam-dalam dibelakang kepala gadis itu. Dia merampal do'a dalam hati, cukup keras hingga mungkin jika menunjukannya dia akan meraung keras agar dewa atau tuhan mendengarnya. benar-benar harus mendengarnya.
***
Jong-in bertahan pada ujung runcing tebing yang berhasil dia gapai. Benar-benar keberuntungan. Tidak, dia tidak bisa mati seperti ini. Pria itu membeku saat mendengar suara Yeonhee dan berikutnya suara tembakan beruntun yang membuat kepalanya pening. sangat pening terlebih darah yang terus mengucur deras dari balik lengannya. Aliran darah berdesir cepat menuju kepalanya, dia ketakutan. Bukan seperti ini yang dia ingin kan. Dia harus melihat wanita itu hidup, apapun itu.
Namun ketakutnya menguap begitu saja, saat gadis itu menjulurkan kepalanya dari ujung tebing. Gadis itu masih hidup, dia bernafas, dan dia memangis. Tangannya gemetaran, dia tahu dia sudah tidak memiliki kekuatan untuk menahan bobot tubuhnya sendiri.
"Syukurlah kau masih hidup, Gwaenchana soo~ya?" ujarnya semampunya dia bisa melihat gadis itu menggeleng dengan tangis yang terus berderai. Terakhir dia hanya melihat gadis itu pingsan saat tanganya terlepas dari ujung tebing dan membuatnya terhempas. Dia menutup matanya setidaknya usahanya tidak sia-sia, gadis itu masih hidup, dengan begitu dia bisa tenang.
Namun dia sama sekali tidak merasakan sakit atau hancur. Ah mungkin dia sudah mati tanpa harus merasa sakit. Namun suara lain mengganggunya, suara derak tulang yang patah dan seseorang yang terbatuk dan memaksanya itu membuka matanya.
Dia disana menghadap ujung tebing yang ada di atasnya dan tubuhnya yang baik baik saja. Dia terduduk bahkan sedikit terkejut saat tidak ada lagi lua di tubuhnya. Dia sepenuhnya baik-baik saja. Namun matanya menangkap sosok itu, sosok yang tergeletak tak jauh dari tempatnya, kejang dengan kilatan yang terpantul dari sinar bulan dan bau anyir darah. Dia berusaha menajamkan matanya dan berusaha menghampiri tubuh itu detik berikutnya dia terburu-buru bangun hingga kembali tersungkur. Seolah tuhan tidak mengizinkannya untuk damai walau sekejab. Pria itu langsung memangku kepal penuh darah seolah dia sedang memangku kantong darah yang bocor.
" Oh Sehun kau dengar aku! Yak! tetap sadar!"
" Kau. . uhghk tampak tua Kim"
"Sialan berhanti bicara, kau membawa ponsel?! tahun berapa ini?! " Pria itu panik berusaha meregoh saku tubuh
" Kau . . .harus membuat Kyu. .ngsoo hamil" ledek pria itu solah dia tidak tahu dirinya sekarat. Jong-in mengingatnya, dia gemetaran karna tahu seberapa parah malam ini. Malam Sehun meregang nyawa. Dia melompat kembali kemasa lalu.
"Jaga dia. . ."
Tak lama pria itu tidak sadarkan diri. Jong-in sekuat tenaga berusaha memompa nafas pria itu, karna dia masih hidup. Namun seolah sesuatu memaksanya berjalan mundur terkunci di semak-semak meinggalkan tubuh Sehun sendirian disana dan tidak mengizinkannya untuk mengubah sejarah hari itu. Ya, seorang pria dengan tubuh jakung penuh peluh, menatap tubuh Sehun tanpa berniat menyentuhnya, tak lama beberapa orang lagi muncul di belakangnya.
" Yeon hee." ujar pria itu seolah dia meminta laporan rinci dari dua pria yang berada didekatnya itu.
"Nona Yeonhee sudah diamankan, dua remaja diatas sudah kami . . ."
"kami sudah membenturkan kepala mereka, cukup membuat mereka berdua koma. Astaga tuan Sehun!"
"jangan mendekat!" seru pria jakung itu tanpa berperasaan mencegah dua pria itu untuk menghampiri tubuh Sehun. Dia jelas melihat Sehun yang masih bernafas, dia bisa menyelamatkan nyawa Sehun.
"Dia berakhir disini. Kirimkan saja polisi besok pagi kesini. dan bereskan semua bukti"
" Kris sialan" cekat Jong-in yang tertahan di lehernya dan detik berikutnya dia sudah berada ditempat lain.
Dia lelah, sangat lelah. Dia berada di ujung kematiannya, detik berikutnya dia melihat kematian sahabatnya dan sekarang dia kembali terlempar entah dimana. Namun seolah rasa lelahnya lenyap begitu saja saat melihat gadis itu. Duduk dikursi rodanya menatap kosong matahari terbenam dengan sebuah surat yang pernah dia tulis untuk gadis itu.
"Dasar bodoh. . ." Gumam Kyungsoo tanpa sadar bersamaan dengan setes air mata yang membasahi pipinya. Jong-in hanya tersenyum dan meilih memasukan kedau tangannya memperhatikan gadis itu dari samping. Gadis itulah dunianya, sekalipun dunianya sedang bersedih sekarang, tapi setidaknya dia tidak pergi meninggalkanya.
"Aku tidak pernah memintamu membangun rumah disini." gumam gadis itu lagi yang membuat Jong-in hanya tersenyum geli mendengarnya. dia memang meminta kakeknya untuk membangun rumah disini sehari setelah dia pergi bersama Kyungsoo ketempat ini.
"Tapi kau menyukainya bukan?" Ujar pria itu dan membuat Kyungsoo tersentak kaget gadis itu menoleh dengan wajah ketakutan.
"Ti. .dak mungkin"gumam Kyungsoo
" ternyata masih sempat. . " kekeh pria itu sambil berjalan menghampiri Kyungsoo mengangkat tubuh gadis itu dan mendudukannya dipagar balkon tempat dimana mereka berdiri sekarang. Mereka tampak diam tidak satupun dari mereka berusaha melepaskan pandangan mereka.
Sebelum akhirnya Kyungsoo mengangkat tangannya mengusap lembut wajah pria itu.
"Kau baik-baik saja. . ."
"Setelah terjun ke jurang? Hampir mati tentu saja" ujar pria itu setengah bercanda dan detik berikutnya sebuah pukulan yang melayang ketubuh Jong-in.
"Brengsek! Kenapa kau menghilang begitu saja! Kau tidak tahu. . ." Ucapan Kyungsoo tercekat saat Jong-in mencengkram tangan Kyungsoo dan mengecup sekilas bibir Kyungsoo.
"Waktuku tidak banyak. . ." Ujar Jong-in sambil menyusupkan sebuah cincin kejari manis Kyungsoo. Yah, cincin yang slelau dia bawa kemanapun selalu berada di kelingkingnya tanpa di sadari siapapun, cincin milik mendiang ibunya.
"Tetaplah hidup sampai aku membuka mataku mengerti?" Ujar Jong-in sambil menangkup kedua belah pipi Kyungsoo dan tangis gadis itu kembali pecah. pria itu menggeleng sambil menyatukan keningnya pada kening Kyungsooo.
"Tidak tidak, jangan menangis kumohon. ."
"Kau akan pergi." Isak Kyungsoo namun Jong-in menggeleng sebagai jawaban.
"Aku selalu disini." Ujarnya
" Dan selalu mencintaimu. . ." Bisik Jong-in yang membuat Kyungsoo tanpa sadar mengalungkan lengannya keleher pria itu dan menempelkan keningnya pada kening Jong-in.
"Nado. . ."
Advertisement
- In Serial425 Chapters
Rise
Su Xue, a woman in her mid 20s, is struggling both in paying rent and finding her path in life. Her latest stint has her trying to become a popular League of Legends streamer, though to poor results. One day, she is interrupted in the middle of a livestream by a surprise visit from her landlady. She is informed that she will be having a new roommate. The landlady’s nephew, Lin Feng, a 18 year old boy who has just transferred over to Shanghai for his last year of high school.Though initially opposed to it, Su Xue reluctantly agrees to the arrangement. She learns that the two share a common interest—League of Legends—and that he’s really amazing at the game. Lin Feng also reveals to her he wishes to become the best professional League of Legends player in the world.The next day. Lin Feng attends his first day of school as a transfer student at High School 13. He meets Ouyang and Yang Fan, and the trio find a common passion in League of Legends. Lin Feng is then introduced to Ren Rou, the president of the esports club with a fiery personality, and Tang Bingyao, a quiet bookworm with a love for money and a surprising talent for the game.A little about Lin Feng’s past is revealed. He was a once pro player, the youngest in history and a contender for the best player in the world. Until the finals of the Season 1 World Championship. There, he lost to his arch-rival, an equally brilliant Korean youth. That was the peak of his career, and also the turning point in his life. He stepped down from his team and disappeared from competitive play altogether. Now, after a four year long hiatus, he aims to make a comebackOver the next couple of weeks, Lin Feng learns about the upcoming Shanghai 16 School Tournament, and that his school’s esports club had performed especially poorly the previous year. He agrees to coach the club’s team and help them win the first place trophy this year. And so, he starts the members of the club out on an intense training bootcamp.Meanwhile, the Season 5 League of Legends World Championship is taking place at around the same time. Tian Tian, one of Lin Feng’s former teammates and best friend, is on one of the Chinese teams playing at Worlds. After a poor showing, he is on the verge of a mental breakdown. Lin Feng witnesses everything in a viewing party with the esports club members and becomes worried.On the day of the Shanghai 16 School tournament, Lin Feng reunites with Tian Tian on the phone. He tells Tian Tian he’s going to return to the professional scene, that he’s making a new team and plans to invite him. But Tian Tian has to vow not to give up at Worlds and keep winning. Tian Tian agrees, and Lin Feng promises he’ll fight alongside him. Lin Feng then heads into his match with renewed resolve, to climb from the bottom all the way back to the top, and overcome the rival that defeated him so many years ago.
8 1144 - In Serial37 Chapters
Kill Me ✔️
After getting attacked one summer night, 19-year-old Elle Russo doesn't want to be weak anymore. Deciding to get a self-defense teacher sounded easy until it ends up being the guy she hates most from her childhood. Elle is known for her sweetness, but he brings out her venom. Nico Cross is very quiet and to himself. The only time he speaks is to make sarcastic remarks or tell people to shut up. With a gaze that makes you shiver, most people choose to not speak a word to him.Hating each other and seeing each other everyday isn't a good mix. They push each others' buttons and hate nobody in the world more than they hate each other.But as time goes on, they both soon realize,Sometimes you hate something to keep yourself from loving it.----------"Why would I be scared of you?" I asked. "What are you gonna do, kill me?"He leaned forward, and I could feel his breathing against my skin. I whispered, "I think you want to kiss me."
8 138 - In Serial49 Chapters
Deal
"You think I am a fool?" He whispered in my ear coming closer. He was pissing me off."Why the hell do you want to marry me?" I gritted my teeth.He touched my cheeks and something flashed in his eyes. "No," I stepped back, keeping space between us.********Gurans lives a very depressing life with her parents who don't have any love for her. Continuous hatred from her parents and frustration from her life she tries to end it but herself in a stranger's house. Time and again she asks to leave but the stranger doesn't let her go and she makes herself believe that she was kidnapped. Tired of her questions the stranger puts out a deal for her. For her freedom, she has no other choice than to accept it. Accepting the deal she finally leaves but it was not long before he came to claim her back. When the truth of the deal is slowly revealed, her life turns upside down.
8 305 - In Serial61 Chapters
Octavius (WATTYS 2016)
| ranked #1 | | 4.24.16| | completed | | wattpad featured story 8/17/16 || winner of a collectors edition WATTY 2016 |"How many times do I have to say this until you accept it? Those people are mine, those soldiers are mine, you are mine." I freeze. "Well," I straighten my spine, tightening my fists," I am not to be owned by anyone, least of all you. And my people aren't either. I will not allow you to do this.""You won't allow me to?" He scoffs. "And how are you going to stop me?""If you do not call off this awful plan, I will reject you, as my mate."highest rank: 1
8 206 - In Serial6 Chapters
Haven In Your Arms (ON-GOING)
-Lily Stevenson and Mickel Martinez Love Story-***Lily Stevenson is just a simple girl with a simple life live in Castile, New York. She owns a small café in Castile. Life was never been easy for her. She felt unsafe all the time whenever she remembers the day her parents have been killed in front of her. But thanks to the criminal psychologist who help her, justice has been served to her parents.She live peacefully in Castile until one day she found out that she has Chronic Lymphocytic Leukemia. She thought, she's all alone now. No one would mind if she die. So she didn't think of treating herself.On the way of giving up with her life she met a man in her café named Mickel Martinez. Her decision starts to crumbled. Her heart is in chaos, whenever he's around it can't stop beating so fast. That's when it hit her. She wants to live more now to be with him. Mickel gives her comfort and whenever he's around she felt safe. He made her happy and loves her so deeply.She loves Mickel so much that she decided to spend her remaining days together with him. And she can't help but pray that maybe... just maybe some miracle will happen.Started: May 27, 2020Ended:
8 185 - In Serial42 Chapters
Zaddy
I pulled on my beige puff jacket as I opened the door. Just as I turn to the door, Elijah is standing right in front of me. "I've missed you so much." He tilted his head towards me, yearning for one of my kisses. I placed my hand against his face and pulled away. "Don't you have to go skiing?"He removed my hand. "And didn't you just see me this morning?" I asked, tilting my head and placing my hands on my hips. He bites his lips and pulls me closer. "I wanted to see you before we leave." He quickly pecked my lips and gripped my bottom. I lightly pushed him off and giggled. ✘✘✘✘✘𝘑𝘢𝘥𝘢 𝘊𝘢𝘮𝘱𝘣𝘦𝘭𝘭 𝘮𝘦𝘦𝘵𝘴 𝘌𝘭𝘪𝘫𝘢𝘩 𝘒𝘪𝘯𝘨, 𝘢𝘯 𝘰𝘭𝘥𝘦𝘳 𝘮𝘢𝘯. 𝘏𝘰𝘸 𝘸𝘪𝘭𝘭 𝘴𝘩𝘦 𝘥𝘦𝘢𝘭 𝘸𝘪𝘵𝘩 𝘩𝘪𝘴 𝘳𝘪𝘤𝘩 𝘭𝘪𝘧𝘦𝘴𝘵𝘺𝘭𝘦 𝘢𝘯𝘥 𝘩𝘰𝘸 𝘸𝘪𝘭𝘭 𝘩𝘦 𝘥𝘦𝘢𝘭 𝘸𝘪𝘵𝘩 𝘩𝘦𝘳 𝘤𝘳𝘢𝘻𝘺 𝘸𝘢𝘺𝘴?(The pictures within this book aren't mine. I edit details and change a few things.)
8 142

