《[✓] Mate || Park Jihoon》Chapter 17.
Advertisement
Jihan sudah rapih dengan pakaian yang dipakai untuk ke kampus, saat ini Jihan sedang menyiapkan sarapan pagi nya yaitu gyeran mari, kongnamul muchim dan nasi putih yang masih hangat, Jihan memasak menu sederhana karena ia tidak punya waktu untuk masak menu yang lainnya.
"Jihoon! Cepat turun!." Teriak Jihan.
"Iyah." Jihoon pun menuruni tangga dengan jaket Levis yang dia pakai tak lupa kaos hitam dan celana jeans hitam nya.
"Sarapan dulu." Ucap Jihan yang sedang menyiapkan makanan untuk jihoon.
Jihan pun meletakkan makanan dan minuman untuk jihoon lebih dahulu, ia pun duduk di samping jihoon.
Saat mereka sedang menyantap makan pagi mereka tanpa berbicara, jihoon pun melirik kearah Jihan, namun, matanya terfokus pada jari Jihan yang tidak ada cincin pernikahan mereka dijari manis Jihan, sampai ketika pandangannya tertuju pada kalung Yang dipakai oleh Jihan.
"Dia bahkan tidak berbicara lagi tentang cincin itu, astaga, ada apa dengan mu jihoon, kenapa rasanya aku sangat tidak suka cincin itu menjadi Kalung." Batin jihoon.
Jihan yang matanya tak sengaja menatap jihoon itu mengangkat satu alisnya.
"Kenapa?! Kok natap aku sampai segitunya?!." Tanya Jihan.
"Tidak, tidak apa-apa, cepat habiskan kita bisa terlambat." Ucap jihoon menggelengkan kepalanya.
Jihan yang tidak memiliki rasa curiga terhadap jihoon pun hanya menggelengkan kepalanya, kemudian melanjutkan makannya.
"Oh ya, nanti aku turun di depan gerbang kampus tidak apa-apa kan?! Aku cuman tidak mau fans kamu itu nyerang aku." Ucap Jihan.
"Selagi ada aku buat apa kamu takut sama mereka."
"Aku cuman tidak mau aja buat keributan di kampus, tidak apa-apa kan?!."
Jihoon yang menatap wajah Jihan seperti memohon kepadanya itu pun dibuat bingung, dibalik sisi dia tidak mau Jihan kenapa-kenapa karena fans wanita yang bejibun banyak nya di kampus, tapi di balik sisi lagi dia benar-benar tidak suka dengan cara bersembunyi seperti ini.
"Jihoon, boleh ya?! Please."
Jihoon menarik nafas panjangnya lalu membuangnya kasar, kemudian menganggukkan kepalanya.
"Baiklah." Ucap jihoon.
"Yeay! Makasih jihoon." Ucap Jihan senang, jihoon yang melihat raut wajah senang dari Jihan itu hanya bisa tersenyum tipis.
Saat mereka sudah di mobil, Jihan sedang asik bermain ponselnya sesekali jihoon melirik kearah Jihan yang sedang membalas pesan seseorang.
"Seru banget kayaknya." Sindir jihoon.
"Hehe iya, sungchan ngechat aku terus bikin pantun yang lucu banget."
"Oh, sungchan, oke." Ucap jihoon tanpa ekspresi.
"Kamu kenapa?! Kok tiba-tiba jadi jutek gitu?!." Tanya Jihan.
"Tidak kok, aku biasa saja." Ucap Jihoon tanpa menatap kearah Jihan.
"Jihoon kamu tidak bisa bohong denganku, wajah kamu itu kelihatan banget kalo lagi marah, dengarkan aku, aku tidak ada hubungan apapun dengan sungchan kami cuman sebatas teman saja kok, aku tidak mungkin macam-macam dengan sungchan." Ucap Jihan.
Advertisement
Jihoon melirik kearah Jihan yang sedang menatapnya dengan tatapan mata tulusnya.
"Baiklah, aku percaya sama kamu." Ucap jihoo tersenyum manis.
Saat mereka berdua sudah sampai di kampus dengan Jihan yang turun didepan gerbang karena tidak ingin fans-nya jihoon melihat dirinya turun dari mobil Lamborghini milik jihoon lalu melabraknya nanti, kini Jihan berjalan duluan masuk ke dalam koridor sedangkan jihoon berjalan dibelakang Jihan dengan jarak yang lumayan jauh.
"Jihan!." Mendengar namanya dipanggil, Jihan pun menoleh kesamping.
"Oh, sungchan halo." Ucap Jihan tersenyum lebar.
"Akhirnya kamu masuk juga, bagaimana kabarmu?!." Tanya Sungchan.
"Baik kok." Ucap Jihan tersenyum manis.
Tentu saja melihat interaksi mereka berdua membuat jihoon yang terdiam di belakang mengepalkan tangannya dengan tatapan tajamnya, entah kenapa, ia sangat kesal melihat Jihan tersenyum manis kepada laki-laki lain selain dirinya.
"Mau ke kelas bareng?!." Tanya Sungchan.
"Boleh, ayok." Ucap Jihan, mereka berdua berjalan bersama.
Jihan seperti melupakan jihoon yang notabenenya adalah suami sah nya saat ini, bahkan jika memang Jihan belum memiliki perasaan kepada jihoon setidaknya hargai dia sebagai suaminya, entah Jihan memang tidak tau jihoon ada dibelakangnya atau memang ia melupakan jihoon saat bertemu dengan sungchan.
"Tenang jihoon, tenang." Batin jihoon, ia pun menarik nafas panjang nya lalu membuangnya kasar, jihoon pun berjalan menuju kelasnya.
Saat jihoon berjalan sendirian dengan pandangan terus menatap tajam Jihan dan sungchan di depannya yang sedang tertawa entah mengobrol tentang apa yang jelas mood jihoon saat ini sedang tidak baik-baik saja.
"Aku masuk kelas dulu ya." Ucap Jihan.
"Ya sudah kalo gitu sampai jumpa di kantin." Ucap sungchan.
"Baiklah." Ucap Jihan lalu melambaikan tangannya saat sungchan berjalan pergi.
"Park jihoon!." Jihan yang hendak masuk mendadak menoleh ke samping dimana jihoon berdiri menatapnya tajam, namun, ada yang menjadi perhatian Jihan yaitu yujin yang meneriaki nama jihoon.
"Jihoon kamu akhirnya masuk juga, aku kangen tau." Ucap yujin yang memeluk tubuh jihoon.
Lantas Jihan terkejut dengan apa yang dia lihat sekarang, jihoon di peluk oleh yujin di depan matanya sendiri, jihoon memang tidak membalas pelukan yujin melainkan terus menatap kearah Jihan dengan ekspresi datarnya.
"Lepas." Ucap jihoon dingin, lalu melepaskan tangan yujin dari tubuhnya, jihoon pun berjalan dan berhenti di depan Jihan yang sedang menatap kearahnya.
"Masuk." Ucap jihoon dingin, kemudian masuk lebih dulu.
"Ada apa dengan jihoon, kenapa mendadak dingin seperti itu." Batin Jihan.
Tatapan mata Jihan beralih pada yujin yang berdiri dengan wajah kesalnya.
"Kenapa melihatku seperti itu." Ketus Yujin.
"Oh, tidak apa-apa kok, saya masuk ke dalam dulu." Ucap Jihan, yujin menghentakkan kakinya kesal karena lagi-lagi jihoon menghindarinya.
Saat jihan sudah di dalam kelas ia sesekali melirik ke meja dimana jihoon duduk, pria itu begitu serius dengan ponselnya, di benak Jihan bertanya-tanya kenapa jihoon berubah menjadi dingin sekali, lalu sejak kapan jihoon ada di belakangnya?.
Advertisement
"Yaa! Park Jihan, kemarilah." Teriak Sooyoung, lantas Jihan yang masih menatap jihoon itu pun beralih menatap Sooyoung dan pergi ke atas.
Jihoon yang sebenarnya tau Jihan menatapnya dari tadi sengaja untuk fokus ke ponsel, moodnya sedang tidak baik hari ini jadi dia lebih memilih diam dibanding berbicara dengan Jihan.
Saat jam pelajaran sudah di mulai yang dimana mereka semua fokus menatap dosen yang sedang memberikan materi kepada mereka di depan sana, berbeda dari itu Jihan sesekali melirik kearah jihoon yang begitu serius mendengarkan dosen, saat serius menatap jihoon tiba-tiba ponselnya bergetar yang membuat Jihan melihat sebuah notifikasi pesan masuk dan itu dari sungchan.
Ting.
"Aku lupa memberitahu mu, pulang dari kampus apa kamu mau menemani ku ke toko buku, Jihan?! Kalo kamu mau nanti aku traktir makan"
Jihan pun membalas pesan sungchan dengan cepat dan sesekali tersenyum simpul.
"Baiklah, apa si yang tidak untuk traktiran hehe"
Setelah terkirim Jihan pun meletakkan kembali ponselnya di bawah meja miliknya lalu fokus kepada dosen.
*****
Saat jam istirahat berbunyi, Jihan dan Sooyoung berjalan keluar kelas dan hendak pergi ke kantin, saat di kantin jihoon dan mashiho duduk tidak jauh dari meja makan Jihan, Sooyoung dan juga sungchan tentunya.
Mashiho yang mengikuti arah pandang jihoon pun mengangkat sudut bibirnya keatas.
"Kalo cemburu samperin saja." Ucap Mashiho.
"Aku tidak mau mengganggu mereka."
"Yaa! Ini lah kenapa kalo kalian menyembunyikan status pernikahan kalian, lihat sekarang?! Kau harus menahan diri dari rasa cemburu."
"Sudahlah diam, lebih baik habiskan makanan kamu itu." Ketus Jihoon.
Serius memperhatikan meja Jihan tiba-tiba tangan Jihoon mengepal kuat saat melihat sungchan dengan beraninya membersikan sisa makanan yang ada di sudut bibir jihan.
"Kurang ajar!." Sarkas Jihoon.
"Kenapa kamu diam saja, sana samperin." Ucap Mashiho.
"Maunya juga gitu, tapi aku tidak mau membuat Jihan malu." Ucap Jihoon.
"Yaa! Sadar jihoon, kamu itu suaminya kamu berhak untuk jihan, sedangkan sungchan?! Dia bukan siapa-siapa Jihan." Ucap mashiho.
Mungkin ucapan mashiho benar, tapi lagi-lagi ia memikirkan perasaan Jihan, dia tidak ingin Jihan malu karena ulahnya.
BRAKK!!
"Aku mau ke kelas." Ucap jihoon setelah mengebrak meja yang membuat semua mata menatap kearah begitupun Jihan.
"Yaa! Park jihoon, tungguin aku!."
Melihat jihoon pergi di susul oleh mashiho, membuat Jihan menatap bingung dengan sifat jihoon yang tiba-tiba berubah menjadi aneh begitu, Sooyoung tau kenapa jihoon mengebrak meja, jujur, Sooyoung juga sedikit kesal dengan otak Jihan yang sekarang.
"Ada apa dengan pria itu?! Tiba-tiba mengebrak meja seperti itu." Ucap Sungchan.
"Jihan, boleh aku bicara dengan mu sebentar." Ucap Sooyoung.
"Boleh, bicara saja." Ucap Jihan.
"Ayok ikut aku, sungchan kamu tunggu di sini sebentar."
Sooyoung menarik tangan Jihan keluar dari kantin kampus.
"Ada apa si young?! Kenapa tidak bicara di dalam saja." Tanya jihan.
"Yaa! Apa kau tidak lihat tadi bagaimana ekspresi wajah jihoon?! Dia marah padamu Jihan."
"Kamu ngomong apa si young, jihoon tidak mungkin marah sama aku."
"Astaga, park Jihan pakai otakmu, dia pasti melihat gimana sungchan mengelap sudut bibir kamu, apa kamu tidak tau jarak tempat duduk kita dengan tempat jihoon tadi tidak terlalu jauh, dia menggebrak meja lalu pergi itu karena dia cemburu sama kamu, Jihan."
Jihan tersenyum kecil lalu menatap wajah Sooyoung.
"Jangan aneh-aneh young, dia tidak mungkin cemburu dengan ku, kami saja tidak memiliki perasaan apa-apa sampai sekarang, jadi mana mungkin dia cemburu."
"Tolong jangan terlalu bodoh Jihan, mungkin bagi kamu jihoon tidak punya perasaan sama kamu, tapi bisa saja dengan sikap nya seperti tadi membuktikan kalo dia mulai ada rasa sama kamu, lagi juga setidaknya ada ataupun tidak perasaan diantara kalian berdua cobalah untuk saling menghargai."
"Sudah cukup, aku tidak mau mendengarnya lagi, aku percaya kok jihoon tidak marah hanya karena soal tadi."
"Seterah apa katamu saja, Jihan." Ucap Sooyoung yang sudah pasrah dengan Jihan.
Setelah jam istirahat selesai dan masuk ke jam pelajaran kembali, beberapa jam kemudian jam pulang pun tiba, Jihan merapihkan buku-bukunya ke dalam tas lalu turun untuk keluar dari kelas.
Saat di koridor tangan Jihan di tarik pelan oleh seseorang yang membuat Jihan menoleh kebelakang.
"Jihoon." Ucap Jihan.
"Pulang denganku." Ucap jihoon.
"Maaf jihoon, aku sepertinya akan pergi keluar sebentar."
"Kemana?! Bareng Sooyoung?! Dimana dia?!." Tanya jihoon.
"Tidak sama Sooyoung tapi sama sungchan, aku sudah janji akan menemani sungchan ke toko buku hari ini, tidak apa-apa kan?! Aku akan pulang secepatnya kok."
Jihoon melepaskan genggaman tangannya dari lengan Jihan, wajahnya kembali datar setelah mendengar bahwa Jihan akan pergi ke toko buku bersama sungchan.
"Kalo aku tidak memberikan mu izin, bagaimana?!."
"Lho, memangnya kenapa?! Aku kan cuman mau nganterin teman aku doang, aku janji tidak akan pulang malam." Ucap Jihan.
Jihoon diam dengan sudut bibirnya ditarik keatas sedikit, lalu menatap ke arah Jihan.
"Aku pulang duluan." Ucap jihoon, kemudian berjalan pergi meninggalkan Jihan.
"Jihan!." Mendengar namanya di panggil Jihan pun menoleh kebelakang.
"Ayok pergi." Ucap sungchan.
Jihan mengangguk,"Ayok."
Saat mereka berdua pergi tak di sangka Sooyoung melihat mereka berdua dengan menggelengkan kepalanya.
"Jihan kau bodoh!." Batin Sooyoung.
Advertisement
- In Serial6 Chapters
Transcendental Shifter
I was probably around seven when it first happened... I had hoped one day I could change many people's lives... I had thought this every day after all of my family died... I had hoped I could make nobody suffer the same ordeal I had to... Shortly after my family's death, I caught a fever... The doctor told me I may not make it... Then it just happened... I had a dream much different from anything I'd had before... A new chapter is released every Monday. You can also find this story on ScribbleHub: https://www.scribblehub.com/series/408468/transcendental-shifter/
8 179 - In Serial15 Chapters
The Veil of Liquid Stars
Jonathan Sneidermann is just an average guy living an average life when he gets abducted by a questionably legal company to serve as hardware for VR games. He wakes up as a merman character in an underwater steampunk ocean, and he has a target on his back. Its not enough for him to be simply stuck in the game, but the game seems to actively have it out for him, as every nearby player seems to want a piece of him. A chance encounter with a girl who's got the inside scoop of the company might just be his only hope for peace in his afterlife...
8 226 - In Serial24 Chapters
the eighth || harry potter
"don't underestimate her, because beginnings don't foresee our ends" a story in which a battered girl meets a broken boy with green eyes and round glasses{harry potter}{original characters by me}{cover by @nightgate}
8 92 - In Serial141 Chapters
Strange world
Life is strange (poetry)
8 304 - In Serial15 Chapters
I want it that way - Sabrina Quesada&Cooper Noriega
everyone warned, we broke the rules.IMPORTANT!The book contains profanity and erotic scenes
8 213 - In Serial34 Chapters
444. (Completed)
"Montana, come here." He nodded his head toward the door, leaving out of the room. Staying silent as Ms. Carol looked at me, I kissed the back of Josiah's hand before leaving out of the room. As I walked out, Messiah stood there looking at me in disgust while I closed the door. "What are you doing that shit for?" "Huh?" I said since I had nothing else to say, just trying to stall time to get my words together."Why are you stripping, Monty?"Sighing, I decided that I wasn't going to lie like I'd originally planned to do after listening to Chocolate's stupid advice. "Money." I spoke simply and he scoffed as I looked down."Why not just ask Josiah for money instead doing hoe shit?" "First of all, It's not doing hoe shit. I don't have sex with anyone. I just dance. And I don't want to ask him for any money. It's not his job to take care of me.""So stripping..." He trailed off with a laugh."..stripping was the last resort? Instead of putting your pride aside?" Saying nothing, I just looked at him with pleading eyes."Please don't tell him, Messiah." I could already tell by the look on his face that he was going to tell him."I ain't gon' tell him.." Thank God. I thought. "..you are." "What?!" I shrieked. "No. I'm not.""You are." He spoke in a demanding tone."Please. You know how he is." I expressed"And you know how he is too but you made that bed." "Messiah, he's going to kill me." I begged."I know." He shook his head, walking away from me."Better figure it out. You got until the end of the day to tell him or I will." He mumbled before walking back into the room.
8 194

