《[✓] Mate || Park Jihoon》Chapter 23.
Advertisement
Besok paginya saat Jihan sudah di kampus ia meminta Sooyoung untuk menemuinya di taman, Jihan berpikir mungkin hari ini ia akan berbaikan dengan jihoon ternyata tidak, pria itu masih bersikap dingin kepadanya.
"Ini sudah setengah jam kamu diam tanpa berbicara apapun sama aku, sebenarnya ada apa?! Kenapa minta aku datang ke sini?!." Tanya Sooyoung.
"Aku bertengkar dengan jihoon."
"Bertengkar?! Kok bisa?!."
"Itu karena kemarin aku diajak jihoon untuk nemenin dia ke perusahaan yang akan jadi perusahaan milik jihoon, tapi aku menolaknya karena aku ingin menemani sungchan ke toko buku."
"Yaa! Jihan kau sudah gila ha?! Kau menolak suami kamu sendiri demi pria lain?!." Sarkas Sooyoung dengan wajah tidak percayanya.
"Dengar dulu aku belum selesai cerita."
"Oke! Oke! Terus apalagi?!."
"Jihoon awalnya melarang tapi aku kekeh untuk pergi karena merasa tidak enak dengan sungchan, lalu setelah itu jihoon pergi sendiri ke kantor papanya, tapi saat aku menemui sungchan di kafetari ternyata toko buku nya tutup lalu sungchan mengajak aku untuk pergi bersama nya."
"Terus kamu mau?!."
"Aku sempat menolak tapi sungchan memohon agar aku mau jalan bersama dia, jadi karena aku tidak enak yaudah aku terima saja ajakannya, setelah itu aku berantem dengan jihoon, bukan, tepatnya jihoon marah karena tau aku berduaan dengan sungchan di taman."
"Ya bagus si kalo jihoon marah sama kamu, aku malahan mendukung sikap jihoon ke kamu."
Jihan mengerucutkan bibirnya menatap wajah Sooyoung yang malahan membela jihoon.
"Kok kamu malahan mendukung sikap jihoon si?! Seharusnya kamu belain aku dong."
"Maaf Jihan, jika soal ini aku lebih mendukung sikap jihoon, karena bagaimanapun kamu memang pantas untuk didiemin, apa kamu tidak Mikir bagaimana sakitnya perasaan jihoon Yang akhir-akhir ini selalu mengalah dan membiarkan kamu pergi bersama sungchan."
"Tapi aku sudah minta maaf ke jihoon, cuman sepertinya dia masih marah buktinya tadi pagi dia tidak mau sarapan dan pergi duluan ke kampus."
"Bagaimana jihoon tidak mau begitu kalo kamu nya saja tidak bisa menghargai dia, park Jihan."
"Aku menghargai nya young, buktinya aku selalu menyiapkan apapun yang dia butuhkan, aku selalu menjalankan tugas aku sebagai istri dia, tapi dari segi mana nya aku tidak menghargai dia."
"Hati, dari segi hati kamu tidak menghargai dia Jihan, aku tahu kalo kalian belum saling mengungkapkan perasaan, tapi yang namanya rumah tangga, kalian bukan hanya sekedar saling mengenal saja tapi juga Saling menghargai, contoh nya jihoon, pernah kamu lihat jihoon pergi untuk menemui wanita lain di luar?! Pernah kamu lihat jihoon ngobrol bahkan bercanda dengan wanita di kampus ini, pernah jihan?! Tidak, hanya kamu yang seperti itu."
"Tapi aku menemui sungchan ada alasannya young, aku hanya ingin sungchan tidak merasa kesepian karena ditinggal pergi oleh mama dan papanya, apa itu salah?!."
"Aku mengerti Jihan, niat baik kamu memang tidak salah tapi cara kamu yang salah, kamu mau sungchan tidak merasa kesepian tapi tanpa kamu sadari kamu melukai jihoon dengan cara membelakangi jihoon demi mendahului sungchan yang notabenenya bukan siapa-siapa kamu."
Advertisement
Jihan diam menatap wajah Sooyoung di hadapannya, tatapannya kosong ia bingung harus menjawab Seperti apa lagi, ucapan Sooyoung hampir sama seperti apa yang diucapkan oleh jihoon semalam.
"Sekarang aku tanya sama kamu, kalo semisalnya kamu yang di posisi jihoon, kamu selalu membiarkan jihoon pergi menemui wanita lain lalu tanpa kamu duga, kamu melihat sendiri jihoon dengan wanita itu berduaan di taman, perasaan kamu seperti apa?!."
"Sudah pasti marah dan kecewa."
"Nah, itu yang dirasakan oleh jihoon sekarang, kamu minta maaf juga percuma kalo kamu masih tidak bisa menghargai dia, Jihan."
"Baiklah, aku yang salah." Ucap Jihan menghela nafas berat nya.
"Kamu tau Jihan?! Menjalani rumah tangga itu sebenarnya tidak terlalu sulit kok, hanya kunci menghargai pasangan kita saja itu sudah menjadi hal penguat dalam rumah tangga, dan aku harap kamu bisa mengerti tentang apa yang aku bicarakan."
Jihan mengangguk,"Aku mengerti, Terimakasih karena kamu sudah mendengarkan cerita aku."
"Sama-sama, itu lah gunanya sahabat." Ucap Sooyoung tersenyum manis.
*****
Jihoon dan mashiho baru saja keluar dari ruang laboratorium setelah di suruh Professor untuk menaruh beberapa alat baru di sana.
"Shiho, ke kantin dulu ya aku lapar belum sarapan tadi." Ucap Jihoon.
"Lho, memangnya Jihan tidak membuat sesuatu untuk kalian sarapan?!." Tanya Shiho.
"Sepertinya dia masak untuk sarapan tapi aku tadi pagi buru-buru karena harus memberikan berkas-berkas ke kantor papa jadi aku tidak sempat sarapan, lagi pula aku lagi mendiami dia."
"Lho, kenapa?! Kalian bertengkar?!."
"Iyah seperti itu lah, hanya karena sungchan."
"Apa?! Pria itu lagi?! Memangnya ada apa sampai kalian bertengkar?!."
"Jihan kemarin bertemu dengan nya awalnya dia bilang mau menemani sungchan ke toko buku tapi pas aku tidak sengaja melihat wanita mirip Jihan aku penasaran lalu mendekat hanya untuk memastikan, dan kau tau apa yang ku lihat?! Jihan sedang makan es cream bersama sungchan di taman."
"Astaga, jadi maksudnya Jihan membohongi kamu?!."
"Entahlah, dia bilang katanya toko bukunya itu tutup lalu sungchan mengajaknya pergi jalan berdua, apalah aku pria yang tidak terlalu menarik di hidupnya." Ucap Jihoon dengan sudut bibir diangkat ke atas.
"Kenapa kamu tidak memberitahu sungchan kalo kalian sudah menikah?! Dengan begitu, pria itu tidak akan mendekati Jihan."
"Maunya aku juga begitu, tapi kamu tau sendiri kan, Jihan masih belum mau memberitahukan siapapun tentang pernikahan kami."
"Sebenarnya ini tidak sepenuhnya salah sungchan, aku tau kenapa sungchan begitu berani mendekati Jihan karena dia memang tidak tahu-menahu tentang pernikahan kalian berdua, di tambah lagi cincin pernikahan kalian saja di jadikan kalung sama Jihan, aku kalo jadi kamu lebih baik memberitahukan hal ini supaya tidak ada lagi kata cemburu satu sama lain."
"Biarkan saja dulu, aku ingin tahu apakah Jihan memikirkan aku atau tidak, terlebih lagi aku mendiami dia sejak kemarin."
"Sudah jangan di pikirkan, kamu mau ke kantin kan?! Ayok aku temani, kebetulan aku ingin membeli cemilan di kantin."
Advertisement
"Baiklah, ayok."
Saat mashiho dan jihoon pergi ke kantin mereka berpapasan dengan Yujin di koridor.
"Park jihoon, kamu mau ke kantin kan?! Aku ikut ya." Ucap Yujin.
"Yaa! Kau tidak punya teman kah?! Kenapa selalu muncul kalo aku sedang bersama jihoon."
"Itu karena hidungku emas bisa mencium keberadaan kamu lagi bersama jihoon."
"Ck, hidung emas katanya, sudahlah pergi sana kami mau ke kantin."
"Tidak mau, aku mau ikut kalian ke kantin, aku juga belum sarapan tau, boleh ya! Ya! Ya! Please."
"Sudahlah Shiho, biarkan saja dia ikut, aku sedang malas berdebat."
Jihoon berjalan duluan di susul oleh yujin yang berjalan di sampingnya, mashiho hanya menggelengkan kepalanya saja kemudian menyusul mereka berdua.
Saat di kantin, jihoon memesan ramen untuk dirinya sedangkan mashiho membeli cemilan dan yujin hanya memesan makanan ringan.
"Jihoon, hari ini kamu punya jadwal tidak?!." Tanya Yujin.
"Banyak, kenapa?!."
"Yah, padahal aku ingin ngajak kamu keluar." Ucap yujin mengerucutkan bibirnya.
"Sama mashiho saja, dia jadwalnya kosong melompong, aku jamin kalo jalan ajak mashiho kamu akan bahagia."
"Dih ogah!." Sarkas mereka berdua.
"Cie barengan, hati-hati jodoh."
"Dibanding jodoh sama dia, aku lebih baik jomblo." Ketus mashiho.
"Dih, lagi juga siapa yang mau sama kamu, tidak ada! Jadi jangan kepedean!." Sarkas Yujin.
"Ribut aja terus, biasanya kalo orang yang sering ribut itu tandanya jodoh."
"Tidak!! Amit-amit." Ucap Mashiho.
"Aku juga ogah sama kamu, pria menyebalkan." Ucap Yujin.
"Kau bilang apa tadi?! Aku tampan?! Iyah aku tau kok aku tampan."
"Shiho, aku ingin sekali melenyapkan kamu sekarang juga, sungguh, tingkat pede mu membuatku mual."
Jihoon hanya tertawa kecil melihat perdebatan mashiho dengan yujin, itung-itung jadi penghibur mood nya hari ini dengan melupakan sedikit permasalahan dia dengan Jihan.
Saat Jihoon selesai makan ramen dan minum sekaleng Coca-Cola, matanya tidak sengaja menangkap Jihan yang masuk kantin bersama Sooyoung, namun, yang menjadi perhatiannya Jihan jalan tidak melihat ke depan melainkan ke ponsel.
"Jihan awas!!."
Teriakan keras itu membuat mashiho dan yujin menoleh ke arah pintu kantin, dimana sungchan seperti memeluk tubuh Jihan yang hampir saja tertabrak oleh pria yang membawa banyak kardus berisikan minuman jika saja sungchan tidak menarik tangannya.
Jihan terkejut karena tarikan tangan dari sungchan, bahkan sekarang mata mereka saling bertemu yang membuat jihoon yang melihat itu mengepalkan tangannya.
Jihoon beranjak berdiri dari tempat duduknya yang membuat mashiho dan yujin menatap jihoon yang berjalan dengan wajah marah nya kearah sungchan dan Jihan.
"Maaf." Ucap sungchan saat sadar dengan apa yang dia lakukan.
Belum selesai di jawab oleh Jihan tiba-tiba saja jihoon muncul menarik tangan Jihan untuk berdiri dibelakangnya.
"Jihoon." Ucap Jihan.
"Jangan kasar sama wanita." Ucap Sungchan.
"Aku tidak kasar, kenapa?! Kamu kesal?!."
"Ck, tentu saja aku kesal, kamu menarik tangan Jihan seperti itu."
"Lalu kenapa?! Jihan juga tidak masalah tuh, kenapa kamu yang ribet?!."
Sungchan menarik sudut bibirnya keatas lalu menatap tajam kearah jihoon, ia berjalan mendekati jihoon.
"Kalo Iyah kenapa?! Cemburu?!."
Jihoon yang emosi langsung mencengkeram ujung baju sungchan, pertengkaran mereka menjadi tontonan para mahasiswa dan mahasiswi di kampus, mashiho yang melihat itu langsung bergegas menuju jihoon ia khawatir jika jihoon kebablasan menghajar sungchan maka urusannya akan panjang.
"Jauhi Jihan kalo kamu masih mau hidup dengan tenang." Ucap Jihoon.
"Tapi sayangnya aku tidak mau." Sungchan menarik sudut bibirnya keatas kemudian menatap jihoon,"Yaa! Kenapa harus aku yang menjauhi Jihan, kenapa tidak kamu saja?! Bukankah Jihan tidak pernah tertarik dengan mu?! Pria yang menyebalkan untuknya."
BUGHH!!
Satu tonjokan berhasil didapatkan sungchan di pipi kanan nya dan itu dari jihoon, pria itu sudah kehabisan kesabaran nya emosinya benar-benar tidak terkontrol lagi.
"Bangun!." Sarkas Jihoon kembali mencengkram ujung baju sungchan dan sudah siap untuk memberikan pukulan kembali.
"Jihoon cukup!!." Teriak Jihan, sontak teriakan Jihan itu membuat tangan jihoon yang hampir menghajar wajah sungchan terhenti.
"Lepasin dia jihoon! Aku bilang lepasin!!." Sarkas Jihan, cengkraman tangan jihoon di baju sungchan pun terlepas.
"Kamu bisa menyakitinya jihoon, ini di kampus jangan buat keributan seperti itu!." Sarkas Jihan.
"Apa kamu sedang membela pria bodoh ini Jihan hm?!."
"Aku bukan membelanya, aku hanya tidak ingin kamu dapat masalah cuman karena bikin keributan di kampus."
"Bilang saja kamu membelanya, tidak perlu mencari alasan seperti itu, bukankah dia lebih menarik di hidup kamu dibanding aku?!."
"Jihoon, tidak seperti itu, dengarkan aku dulu."
"Sudahlah! Urus saja pria ini." Sarkas jihoon lalu pergi meninggalkan mereka semua.
"Yaa! Park jihoon tunggu." Teriak mashiho menyusul jihoon.
"Jihoon, jihoon tunggu!." Jihan yang hendak pergi menyusul jihoon tiba-tiba tangannya di tahan oleh sungchan.
"Jangan pergi aku mohon." Ucap Sungchan yang sudut bibirnya mengeluarkan darah.
"Park Jihan, kau ingat apa yang ku katakan sebelumnya kan." Ucap Soyooung dengan nada dingin nya.
"Tapi sungchan terluka young."
Sooyoung yang mendengar ucapan Jihan tersenyum kecil,"Ya sudah obati saja dia, tidak perlu kamu pikirkan jihoon, bukankah dia lebih penting daripada jihoon, aku pergi dulu."
"Young! Sooyoung!." Teriak Jihan yang tidak di dengar oleh Sooyoung.
Jihan menatap bingung karena Sooyoung ikut pergi meninggalkannya sendirian, rasanya hati nya sakit sekali melihat orang-orang di dekatnya pergi meninggalkan dirinya begitu saja saat ini.
"Kerja bagus sungchan, dengan begini jihoon akan membenci Jihan lalu menjauhinya." Batin yujin dengan senyum smirk nya.
Advertisement
- In Serial179 Chapters
Isekai'D Shoggoth
It begins as a usual isekai story.No, wait. It's worse. It's otome isekai. And I'm the villain.Of course, there must be some kind of cheat to make up for it. It's that kind of story.And my cheat is... being a shoggoth. Which apparently includes being a genius with setting up all sorts of production. Because "engineered to be universal labor" backstory for that race, I surmise.So... Screw it, full steam ahead. Let`s see what I can make out of this world and it's ikebana-based magic. (This is a mirror. Original was posted at https://www.scribblehub.com/series/117113/isekaid-shoggoth/ - As of Sept 2, this copy had been fully synchronised with original posting.)
8.09 2756 - In Serial34 Chapters
Two Times Perfect?
Thomas Freeman -- a simple child born into a world of swords and sorcery. Common looks. Common wealth. Of common status. A common enough existence. At least until he started remembering a past life as Thomas Faraday. Thomas Faraday -- a modern child, born in the modern era. Or was he? Maybe he's just a dream of Tomas's that never really existed. It's not like his previous knowledge actually was any help in his current life. Or is it? Read it and find out for yourself. Two Times Perfect -- The tale of one man trying to reconcile the memories of two lifetimes into one memorable existence. Rated: M[18+] Contains (or will contain in the future) sex, nudity, rape, violence, gore, and lots of goodly evilness and evilish goodness!
8 210 - In Serial15 Chapters
The Djinn's Price
Albek Shokarov, a teenager struggling to survive in a post-apocalyptic world, unwillingly enters into a contract with an entity he calls the Voice. Something changes inside him on that day, and he soon discovers that he wields a power that gives him a leg-up on the competition—though it comes at a price. Albek soon learns that the Voice isn’t the only being with an interest in him. He will soon question everything that he thought he knew about himself and his family as he is drawn deeper and deeper into a web of deceit and evil intentions. We all have a breaking point. Some may be pushed more than others, but everyone has a limit. These are the threads binding us to our identity that, once pulled taut, can't go any further without snapping. When every last thread is cut and we are left to face ourselves in a mirror, will we even recognize the person standing there? This is a tale of loss, of the powerless achieving power, of gods and men, and of the hatred and ambition that propels the founding of a legend. This is a tale of revenge. Either Albek will break his chains, or they'll break him. Updating intermittently.
8 179 - In Serial32 Chapters
Yore and Olds
The continent of Temuair houses wars, politics, dungeons, magics, and the most dangerous of them all, Aislings. The civilization of Hy-Brasyl is long gone, and the gods have departed from their shores. Millenniums pass and now another war has been wage. The question is, who are they fighting against and for what purpose? The many powers that rule this world are locked in a fierce competition. One of these powers stepped through an unethical barrier, striving for a greater power. A boy, who was preyed upon, fell towards their hands. His mind fell ill to revenge, hoping that one day he'll be free again. DISCLAIMER: This novel borrow elements from the lore and mythology of the game Dark Ages. The lore and mythology won't be a 1:1 copy, and most if not all will be tweaked for this novel. Many elements will also be added that is not included in Dark Ages. It should be easier to follow along if you're familiar with the lore, but it is not require, at all, to know a thing about it. I will explain things when needed, and hopefully it will be sufficient.
8 95 - In Serial18 Chapters
It All Ended To Start Up Again (A Glitchtale Multi-Ship Story)
Their once were three siblings who are Copper, Agate, and Amber Lightvale, Copper and Agate watched their mother died after giving birth to Amber but their father death is unknown to them but with their mother's death that didn't stop them from raising their little sister. Copper, the male determination soul Trait and his twin sister Agate, the Bravery soul trait raised their little sister and as time grew on making happy memories they so discover that Amber has a two-traited soul of Kindness and Integrity but that's when the things between the siblings changed forever Agate and Copper argue over setting the monsters free and not Agate challenges Copper and said that if Copper wins they will break the barrier, coexist with monsters and break the rules our king left for us and if she won they will not break the barrier, they will not coexist with monsters and break the rules our king left for us. "So will you Fight me". After they fought Coppers determination came out victorious and Agate after feeling humiliated lost her bravery and fled out of the scene later she returned to her twin brother and little sister but she was different and after that no ones knows to this day what happen with the siblings or where the youngest went, and with so much time pasting new determination souls only one at a time but there was one born but that one frees the monsters and someone who was long forgotten returns a different person. This all happened for a reason, read to find out.This story contains:CursingShips you may not likeFictional backstory's I made for some characters in the storyI do not own any of these characters or the AU Glitchtale they all go to their respective ownersI also do not own the cover of this book it goes to It's respective ownerGore,Sadness and Fear
8 94 - In Serial25 Chapters
Sweet tooth (Tobi/Obito x reader)
(Y/n) is a half wolf half human hybrid, looking like a normal person except having the ears, sharp teeth and tail of a wolf. One day she is discovered by the Akatsuki who take interest in her abilities. Pein asks her if she wants to join the Akatsuki but she is also looking for the hunter who slaughtered her mother. Will she take up the offer and join them?(I don't own Naruto, this is non-profit)
8 199

