《Soul In Seoul》#Part 15 (Kontrak Perjanjian)
Advertisement
"Masuklah!" seru wali kelas 3-1 pada siswi yang telah berdiri lama di luar kelas.
Tak lama kemudian, muncul langkah kaki memasuki ruang kelas 3-1 yang langsung membuat seisi ruangan itu tercengang tak terkecuali Choi Moo Gak yang sedari tadi terus mengarahkan pandangannya ke pintu kelas.
"Lee Ri Sa?!" "Lee Ri Sa?" "Iya itu Lee Ri Sa." "Wah,.. Si jenius yayasan Jinhyang." "Bukankah itu Lee Ri Sa yang dulu di kelas 1-2? Bagaimana bisa dia langsung berada di kelas 3? Kelas favorit pula." Itulah ocehan-ocehan kecil yang keluar dari mulut siswa-siswi di kelas itu ketika siswi baru itu berjalan mendekat ke tempat wali kelasnya berdiri.
"Annyeonghaseyo,.. naneun Yong Ri Sa ibnida. Mannaseo bangabseubnida. (selamat pagi, saya Yong Ri Sa. Senang berjumpa dengan kalian)." Diiringi senyuman yang sangat tenang. Namun ketika ia bertemu mata dengan Choi Moo Gak, ia sejenak berubah ekspresi dan itu tidak berlangsung lama.
: tiga bulan sebelumnya,..
"Ada apa Lee Ri Sa? Apa ada sesuatu yang ingin kau sampaikan?" tanyanya sangat tenang meski ia telah melihat tangan Lee Ri Sa sudah menggenggam erat map yang sebelumnya dibawa oleh kakaknya, dengan ekspresi menahan sejuta kemarahan.
"Saya minta anda batalkan kontrak perjanjian ini." meletakkan map itu di meja dan berusaha untuk tetap terlihat tenang meski hatinya sudah membara.
Mendengar itu, Han Seo Jin langsung menyuguhkan senyuman yang justru terlihat sangat menakutkan.
"Kenapa aku harus melakukannya? Pembatalan kontrak tidaklah semudah itu. Pasti ada konsekuensinya. Apa yang bisa kamu berikan padaku untuk menggantikan kontrak itu?"
Wajah Lee Ri Sa langsung berubah datar. "Joesonghamnida isa-nim. Saya tidak bisa memberikan sesuatu hal sesuai dengan keinginan anda. Tapi sebelumnya saya ingin memperingatkan anda, akan ada masalah yang jauh lebih besar ketika anda meneruskan perjanjian ini."
Lee Ri Sa mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan sebuah foto dari ponselnya di hadapan Han Seo Jin.
"Ige mwo-ya? (ini apa?)" sambil mengambil ponsel Lee Ri Sa yang ada di mejanya dan langsung melihat foto yang ada di ponsel itu. "Lee Ri An sedang memegang piala. Kenapa kamu tunjukkan ini padaku?" tanyanya.
"Tolong perhatikan baik-baik foto itu." pinta Lee Ri Sa.
Han Seo Jin langsung menatap lekat foto itu dan tak lama kemudian matanya berhenti di nametag pada seragam yang dikenakan oleh orang yang ia kira itu adalah Lee Ri An. "Romi Firmansyah?" gumamnya dengan muka datar.
Advertisement
"Saat pertama melihat foto itu, anda pasti langsung mengira itu adalah Lee Ri An. Tapi sebenarnya orang itu adalah Romi Firmansyah. Orang yang saat ini sangat dicari di Indonesia. Wajah mereka tidak ada sedikitpun perbedaan." Berhenti sejenak untuk menarik nafas dan mengatur ketenangannya. "Karena mereka adalah orang yang sama. Bagaimana jika lawan anda menemukan fakta ini? pasti saat itu tiba, anda otomatis akan kalah telak. Apa anda akan tetap menggunakan senjata rapuh itu?" ungkapnya dengan sangat tenang.
"Apa yang sebenarnya ingin kamu katakan? Hingga kamu berani memberitahukan rahasia tentang identitas kakakmu."
"Itu juga berlaku buat saya jika anda menginginkan saya menggantikan Oppa dalam perjanjian ini. Tapi mungkin tidak seberbahaya ketika menempatkan Oppa sebagai amunisi anda. Dan bukankah yang sangat anda inginkan adalah saya?" tatapannya cukup menakutkan.
"Apa maksudnya ini berlaku buatmu? Apa kamu juga punya identitas yang lain?" selidiknya.
"Ketika anda lebih teliti lagi memperhatikan foto itu, anda akan tau. Meskipun sangat sulit mengenalinya, tapi faktanya salah satu siswi dalam foto itu adalah saya." Jelasnya. "Apakah anda tetap tidak akan membatalkan perjanjian ini? jika memang tetap seperti itu, bukan hanya kami yang berada dalam masalah besar. Tapi anda juga." Tegasnya.
Han Seo Jin tertawa kecil. "Jadi yang kamu ingin katakan adalah, sangat beresiko menempatkan Lee Ri An dalam peperangan ini? tapi sayangnya kamulah yang menempatkannya dalam masalah. Jika kamu tidak menolaknya kemarin, maka Lee Ri An tidak perlu harus menyetujui perjanjian ini. Jadi sekarang apa yang bisa dilakukan? Perjanjian ini tidak akan bisa dibatalkan begitu saja, kecuali kamu yang akan menggantikan Lee Ri An. Dengan begitu, akan lebih aman bukan? Tidak ada yang harus mati dan aku tidak akan mendapatkan senjata rapuh."
Lee Ri Sa mengepalkan tangan kirinya untuk menahan emosinya dan diam sejenak. "Baiklah, jika anda terus memaksa. Saya akan menggantikan Oppa dalam perjanjian ini. Dan anda harus berjanji, jangan sekalipun menyentuh Oppa apalagi menempatkannya dalam bahaya. Jika hal itu terjadi, saya adalah orang pertama yang akan mengobrak-abrik anda." Tegasnya.
"Aku semakin suka dengan keberanianmu. Kamu tak perlu khawatir. Selama kamu tidak berulah, maka Lee Ri An akan aman. Ah,.. namanya bukan lagi Lee Ri An. Tapi Yong Ri An." Han Seo Jin tersenyum puas.
"Tapi anda harus sedikit bersabar. Saat ini saya masih kelas 1 SMA dan masih lama untuk dinyatakan lulus. Jadi saya masih tidak bisa membantu anda dalam waktu dekat."
Advertisement
"Untuk masalah itu, kita bisa mempercepat kelulusanmu. Tahun ajaran depan, kamu tidak akan berada di kelas 2 tapi langsung kelas 3. Dan sebelum itu, saat liburan setelah ujian kenaikan tingkat nanti, kamu akan mulai menggantikanku sebagai salah satu Direksi Cessa Hotel. Bagaimana YONG Ri Sa?" dengan menekankan kata yang tak lain adalah marga Yong itu.
Ketika dipanggil dengan marga Yong, Ri Sa langsung tercengang dan terdiam.
"Bergabung sebagai Direksi Cessa Hotel? Mulai bulan depan? Apa itu tidak terlalu cepat? Bagaimana reaksi orang-orang ketika memiliki atasan yang masih menjadi seorang siswi SMA? Apa yang akan dikatakan mereka?" Ri Sa sangat bingung dalam keterkejutannya.
"Aku yakin itu tidaklah terlalu sulit buatmu. Kamu pasti bisa mengatasi pemikiran mereka. Dengan keberanian dan kemampuanmu." Sambil menunjuk keningnya sebagai isyarat untuk menggunakan kejeniusannya.
.
"Yong Ri Sa, kamu bisa duduk sekarang." Ucap wali kelasnya.
Mendengar itu, ia langsung berjalan ke barisan belakang. Karena memang bangku kosong hanya tersisa satu di bagian paling belakang sebelah kiri sama seperti ketika ia berada di kelas sebelumnya.
Ekspresi Choi Moo Gak seperti menyimpan seribu pertanyaan pada Ri Sa ketika ia melewati bangkunya. Ia terlihat sangat tidak tenang hingga wali kelasnya telah pergi ke luar kelas.
"Wah,.. hari pertama sudah full jam kosong? Apa kalian ada rencana?" Itulah kata salah seorang siswa laki-laki di kelas 3-1 ketika wali kelas selesai memberikan pengumuman tentang kosongnya jadwal hari itu.
"Ri Sa-ya! Apa kamu tidak memiliki ide? Kita perlu merayakan bergabungnya kamu di kelas ini." tanya siswa laki-laki lainnya.
Ri Sa terdiam sejenak. "Kalau saya mungkin akan menghabiskan waktu di perpustakaan. Mian." Ungkapnya.
"Wahhhh,... ternyata kamu bahkan lebih membosankan dari Choi Moo Gak. Ckckckck,.." Keluh temannya yang lain.
"Bukankah kita sudah berada di kelas tiga? Jadi kita harus lebih fokus untuk bisa masuk ke perguruan tinggi yang kita inginkan. Sekarang bukan waktunya terus main-main kan? Lagipula, saya harus mengejar ketertinggalan materi untuk kelas dua yang sebelumnya tidak saya dapatkan." jelas Ri Sa.
"Bener juga. Ahhhh,.. kenapa kamu harus mengingatkannya? Merusak mood saja." Ucap siswa yang sedari tadi ingin mengajak Ri Sa untuk mencari hiburan. Ya, siswa itu adalah salah satu siswa yang termasuk paling malas dan berada di peringkat paling buncit di kelas itu. Pada seragamnya tertulis Jo Dae Wook. Tidak suka dikekang dan sangat suka kebebasan itulah sifatnya.
Seisi kelas langsung tertawa ketika melihat ekspresi yang ditunjukkan Jo Dae Wook yang memang sangat lucu ketika ia merasa kesal seperti itu.
Sementara itu Yong Ri Sa sudah ancang-ancang akan beranjak dari tempat duduknya. Namun tangannya sudah terlebih dulu ditahan oleh Choi Moo Gak. "Wae-yo Sunbae?" tanya Ri Sa.
"Aisshhh,.. sampai kapan kamu akan memanggilku dengan sebutan Sunbae? Bukankah sekarang kita sudah berada dalam kelas yang sama? Jadi berhentilah menggunakan sebutan itu." keluhnya dan melepas tangan Ri Sa.
"Lalu panggilan apa yang harus saya berikan?"
"Oppa. Gunakan panggilan itu." timpal Seo Ah Yeong. Siswi yang merupakan wakil ketua kelas 3-1. "Ya,... karena usiamu paling muda di kelas ini, jadi kamu panggil saja kami dengan sebutan Oppa dan Eonni. Dan jangan anggap kami sebagai sainganmu. Karena kami tak akan sanggup menyaingimu. Jadi, cukup jadikan kami keluargamu." Lanjutnya.
Yong Ri Sa langsung tersenyum dan sangat terharu. Ia tidak pernah membayangkan mereka langsung menerimanya di kelas itu dan bahkan tidak ada yang terlihat akan memusuhinya.
"Kamu dengar kan? Jadi panggil aku dengan sebutan Oppa. Bukan Sunbae lagi." Desaknya.
"Ah,.. Mian. Mungkin saya mudah untuk melakukannya pada yang lain. Tapi saya masih merasa canggung ketika melakukannya pada Sunbae. Saya sudah terbiasa memanggil dengan sebutan itu jadi mungkin akan lebih susah mengubahnya." Kilahnya. "Emmm,... Eonni,.. Oppa,.. jeongmal gamsahamnida, telah menerima saya sebagai bagian keluarga dari kelas 3-1." Ungkap Yong Ri Sa pada teman-teman barunya.
"Yang benar saja. Kamu bisa langsung memanggil mereka dengan sebutan Oppa sedangkan kamu memanggilku dengan sebutan Sunbae? Kamu sungguh sangat jahat Ri Sa." Keluh Choi Moo Gak.
"Aigo,.. (aduh,..) baru kali ini aku melihat seorang Choi Moo Gak ditolak keinginannya. Sungguh rekor baru lagi telah terpecahkan. Hahaha,.. Sabar ya." canda Jo Dae Wook sambil menepuk bahu Choi Moo Gak.
"Huft,.. rasanya memang sulit untuk mengubahnya. ck" Umpatnya sebal namun tetap terdengar di telinga teman-temannya.
Yong Ri Sa hanya bisa menahan tawa.
"Ri Sa-ya,.. bisa kita bicara berdua sebentar?" ajak Choi Moo Gak sambil sedikit menarik tangan Ri Sa sebagai isyarat untuk berbicara di tempat lain.
>> Part 16
Advertisement
- In Serial53 Chapters
Braza the Architect - Magical Crafter, Builder, and Adventurer!
This is the story of an older man who lived a hard but full life, being reincarnated into a fantasy world as a human-lizard hybrid. The new world is violent, magic is real, a game-like development system crushes physics and natural law under its ambivalent thumb, and myth and legend don't just meet, they chase you down to eat you.Follow Braza as he tries to make a very different life for himself in a familiar but ultimately alien world. In this story the protaginist will not just be a muscle bound monster. He is not a proper hero, willing to sacrifice himself for the good of a stranger, but neither is he a maniacal villain. He is trying to survive, and he is trying to give himself and those he deems himself responsible for a seat at the table of the"goodly", the "civilized" races. He is trying to create a secure home for his people, to arrange beneficial trade agreements, explore ancient ruins, decipher ancient runes, push the boundaries of magic to create a better life for everyone around him, to learn about the history of the world and the multiverse, and ultimately attempt to become powerful enough to take on a being that even the gods themselves fear. This is my first story and it blends many different elements and styles. It's a bit darker than most of what I have read on Royal Road, but even with that, I hope you give it a try, and I hope you like it!
8 233 - In Serial14 Chapters
The Inevitable Demise.
He walked on a path that was certain to lead him to death, and yet, he didn't stop. His blade dripping with the blood of people whom he once loved, he refused to pinch his nose even when surrounded by the foul stench of blood and iron. Bodies of the people whom he once called 'friends' were thrown out onto the road to rot. And yet, he didn't stop, he just gripped the hilt of his sword tighter and convinced his trembling legs to carry him to his death. Muranaka Aki, an average and broken seventeen-year-old boy. He lived on the edge of despair, surrounded by all the happiness one could ever imagine. His class, with Akl in it, vanishes from the face of the world that they once called their own, only to be thrown in the middle of the chaos of a world unknown.
8 84 - In Serial16 Chapters
I Will Slay Everything
An apocalypse occured to the whole world, as the world was thrown into disarray. Monsters with dungeon along with gates suddenly showing up become a norm, as humans capable of defeating them called "ability users" started popping out around the globe. Wei Xiaodan lost his whole family when the apocalypse struck them and only him managed to survive. He wanted to take revenge, but unfortunately reality's could be cruel. He wasn't blessed to become an ability user. In a brink of death, Wei Xiaodan suddenly got sucked into a dark gate, meeting an old demon who's highly interested in him. The old demon taught him ancient cultivation arts and everything it knew, until the day for him to rise came afloat. With vengeance towards the gods who've brought calamity to his family and also brought them to their end, Wei Xiaodan climbed up into the gods stadium with a lone purpose. That is to purge them all down. (You can read the advance chapters on my patreon: https://www.patreon.com/emeruferu) Also, if you want to join my discord server, here's the link: https://discord.gg/3d2u6abF4w Notes: Cover's not mine, nor did I paid an artist to make it.
8 111 - In Serial45 Chapters
Lemillion In The MCU
WHAT-IF during the battle against Overhall, Mirio dodged the Quirk-Erasure bullet, avoiding the loss of his quirk? As the battle progressed and Eri grew more excited, her quirk activated, but instead of rewinding Mirio's existence, she instead unconsciously fast-forwarded his quirk, granting him a potent increase in strength. Sadly, with the strengthened quirk came the future Mirio's shadow, a will that made up the essence of his future self... With a powerful quirk, a quirk he could not control, Mirio permeated through the barriers separating the Multiverse, finding himself in a new universe - The Marvel Cinematic Universe.
8 132 - In Serial15 Chapters
State of Flow
Palton gloom is the picture of the average gamer, so unsurprisingly when the first true vr console came out he could not afford it. Luckily for him the console could be rented for a fraction of the costs to purchase and with the gaming pod having everything required to sustain life inside the machine Palton collected his meager savings in order to afford 3 months in the pod where he will attempt to progress fast enough to be able to afford to keep playing. I'll be uploading daily for a bit should slow down a bit after participant announcement list is released
8 196 - In Serial12 Chapters
Idolized Love|| Kim Namjoon✅
Just read it!!
8 129

