《Soul In Seoul》#Part 24 (Pengakuan)
Advertisement
"Hoejang-nim,.. (Ketua,..) anda dengar sendiri kan, anak ini benar-benar akan jadi pengkhianat kita. Apa anda masih ingin mempertahankan dia?" pria itu benar-benar sudah kehilangan akal untuk melawan remaja jenius itu.
"Sepertinya kalian salah mengerti yang diucapkannya. Yang akan dia khianati bukan kita, tapi kalian. Karena pemikiran kalian sudah berbeda dengan pemikirannya. Bukankah benar seperti itu, cucuku?" ucap Han Seo Jin yang terang-terangan tengah membela Yong Ri Sa.
Yong Ri Sa hanya diam dan menundukkan kepalanya. Ia cukup terkejut dengan yang baru ia dengar. Direktur Han benar-benar menganggapnya sebagai cucunya dan bukan hanya sebagai pion.
"Jika sudah tidak ada lagi hal yang ingin dibahas, lebih baik kalian berdua pergi dari hadapanku. Aku ingin berbicara empat mata dengan cucuku." Usirnya. Sorot mata Han Seo Jin tak kalah dingin dari sorot mata Yong Ri Sa pada kedua pria di hadapannya saat itu. Dan ketika mendapati reaksi Han Seo Jin yang tak pernah diduga sebelumnya, akhirnya kedua pria itu langsung bergegas pergi dari hadapannya.
Sejenak ruangan Direktur yayasan Jinhyang hening tanpa suara. Hingga helaan nafas yang berasal dari kedua manusia itu jelas terdengar. Han Seo Jin menyuguhkan tatapan yang sulit dimengerti terhadapYong Ri Sa yang masih betah menatap meja didepannya.
"Gwaenchan-a? (kamu tidak apa-apa?)" tanya Han Seo Jin membuka percakapan.
Perlahan, Yong Ri Sa kembali mengarahkan pandangannya ke nenek angkatnya itu dengan wajah yang masih datar tanpa ekspresi.
"Kamu tidak apa-apa, cucuku?" ulangnya dengan suara yang terdengar cukup hangat.
Mulut Yong Ri Sa masih diam, namun berbeda dengan otaknya yang terus bertanya-tanya dengan sikap Han Seo Jin yang selama ini ia anggap seperti musuhnya itu, ternyata justru membelanya didepan orang-orang yang mendukungnya. "Kenapa anda berubah sehangat ini? sejak kapan anda menganggapku benar-benar sebagai cucu anda? Apa aku benar-benar tidak hanya sebagai pion anda? Apa yang ada diotak anda Direktur Han? Apa rencana anda sebenarnya?" dumel batinnya.
"Kenapa kamu diam saja? Apa yang menganggu pikiranmu?" tanyanya lagi.
"Apa anda benar-benar menganggap saya sebagai cucu anda?" akhirnya hanya kalimat itulah yang keluar dari mulutnya.
Han Seo Jin diam sejenak, "Tentu saja. Kamu adalah cucuku. Kamu adalah penerusku sekaligus pewaris seluruh hartaku."
"Apa anda yakin? Terus bagaimana dengan cucu kandung anda? Kang Jung Tae. Bagaimana dengannya?"
"Kamu tak perlu khawatir. Dia memiliki bagiannya sendiri nanti. Tapi itu tidak akan lebih banyak darimu dan Yong Ri An."
Yong Ri Sa mengernyitkan dahinya. "Saya sungguh tak mengerti dengan jalan fikiran anda. Bagaimana bisa anda lebih mempercayakan harta anda pada orang lain, sedangkan anda masih memiliki cucu kandung?"
"Bagiku, kalian bukan orang lain. Kalian berdua adalah cucuku. Kalian adalah milikku. Kalian adalah asetku. Kalian adalah emas dan perakku. Apa kamu masih tak bisa mengerti?" yakinnya dengan menatap lekat Yong Ri Sa.
Yong Ri Sa hanya menyuguhkan wajah datarnya. Berusaha menelaah dan mempercayai setiap kata-kata Han Seo Jin, meski sebenarnya setengah otaknya ada ribuan tanda tanya besar. "Kenapa anda seperti ini? jika anda semakin baik pada kami seperti ini, kami akan semakin kesusahan nantinya dan akan semakin banyak orang yang harus kulindungi. Apakah anda benar-benar akan menahan kami selamanya?" jerit batin Yong Ri Sa yang masih dengan ekspresi sama seperti sebelumnya.
"Apakah anda masih akan menahan kami meski telah berhasil membantu merebut Cessa Hotel nantinya?" tanyanya.
"Kenapa kamu bertanya seperti itu? memangnya kamu mau pergi kemana setelah berhasil merebutnya? Kamu tidak ingin membalas dendam pada orang-orang yang telah membuangmu? Kamu tak perlu pergi. Dengan kamu tetap menjadi cucuku, kamu akan tetap memiliki ribuan amunisi untuk melawan orang-orang yang telah membuatmu kehilangan jati dirimu. Kamu tak perlu memulai lagi dari nol. Apa kamu tidak menginginkannya?"
Yong Ri Sa menghela nafas berat, "Selama anda masih menganggap kami cucu anda, kami akan terus berada di sisi anda, Halmeoni (nenek)." Dan untuk pertama kalinya Yong Ri Sa memanggil Han Seo Jin dengan sebutan nenek. Selama berbulan-bulan ia diangkat sebagai cucunya, ia hanya memanggilnya Direktur dan bukan nenek. Sehingga itu sontak membuat senyum Han Seo Jin semakin lebar.
Advertisement
"Akhirnya kamu memanggilku dengan sebutan itu. Sudah lama aku menunggunya, cucuku." Senyumnya sangat lebar.
Sedangkan Yong Ri Sa hanya tersenyum tipis, dan bahkan sangat tipis. Keraguan dan ribuan tanda tanya masih terus menggelayuti hati dan fikirannya.
"Apa yang kamu rencanakan selanjutnya? Apa kamu sudah menemukan cucu Heo Joon Wang yang disembunyikan?" tanya Han Seo Jin tiba-tiba.
"Ne. (ya). Saya akan melindunginya dan tak akan membiarkan dia terluka." Tegasnya.
"Wae?? (kenapa??)" tanyanya heran.
"Karena dia adalah sahabat saya, kekasih Ri An Oppa, dan tanpa ia ketahui, kedua orangtuanya telah dibunuh oleh kakeknya sendiri. Jadi saya akan terus melindunginya. Dia masih tidak tau telah dibodohi oleh kakeknya sendiri. Selama ini dia menganggap, ia disembunyikan dan dibiarkan tinggal sendirian di kost-an kecil karena untuk melindunginya dan untuk mempersiapkan dirinya sebagai penerus Heo Joon Wang. Tapi sebenarnya itu adalah kebohongan belaka. Keluarganya menunggu waktu untuk benar-benar menyingkirkannya. Seperti yang anda tahu, penerus yang dipersiapkan oleh Heo Joon Wang adalah Heo Yong Min."
"Ahhhh,.. jadi seperti itu. Dia adalah sahabatmu dan kekasih Yong Ri An? Apa dia salah satu siswi disini? Sepertinya anak itu akan sangat berguna nantinya. Keputusan yang tepat, jika menariknya ke pihak kita." Mengangguk-anggukkan kepalanya dan memperlihatkan senyum liciknya.
Mengetahui reaksi itu, Yong Ri Sa kembali menyuguhkan tatapan dingin, "Ini adalah tahun ketiganya, Apa anda benar-benar tidak menyadari keberadaannya selama ini? apabila anda sudah mengetahuinya, jangan pernah menganggunya. Jika anda menganggunya dan bahkan membahayakan nyawanya, maka saat itulah anda telah meminta saya untuk menjadi lawan anda."
Han Seo Jin justru tertawa, "Jangan khawatir! Aku tak akan ikut campur dengan rencana yang telah kamu susun. Dan aku tak akan menyentuh anak itu. Selain itu, satu hal yang yang harus kamu ingat, jangan menimbulkan masalah lagi setelah ini. Jika kamu membawaku lagi ke masalah yang kamu timbulkan, jangan harap aku akan terus sesabar ini menghadapimu. Aku hanya menerimanya sekali ini saja. Aku mengatakan ini karena untuk kebaikanmu juga. Kamu sekarang adalah cucuku dan kamu adalah penerus keluarga Yong. Akan semakin rumit masalahmu jika kamu melibatkan namaku dalam masalah itu."
Yong Ri Sa hanya diam tak bersuara mendengar kata-kata itu. Otaknya pun terus bertanya-tanya, "Sungguh, aku semakin tidak mengerti dengan jalan fikiran anda. Anda menganggap saya sebagai apa? Sebagai cucu anda atau hanya sebagai pion dari setiap rencana anda?" dumel batinnya.
###
1 minggu setelah pengakuan mengejutkan Yong Ri Sa didepan begitu banyak orang saat perayaan ulang tahun yayasan Jinhyang, masih banyak teman-temannya yang membicarakan hal tersebut di belakangnya. Ada yang mencelanya, ada juga yang simpati padanya. Begitu pula di Cessa Hotel. Di tempat itu kegaduhan bahkan jauh lebih besar dari yang diperkirakan olehnya. Banyak pihak yang mengambil kesempatan untuk menjatuhkannya hingga melengserkan posisinya. Tidak hanya kubu Heo Joon Wang yang berusaha mengusik posisinya tapi juga orang-orang yang selama ini mendukung Han Seo Jin. Mungkin hanya 1 orang yang masih berdiri di pihaknya kini. Ia tak lain adalah nenek angkatnya yang merupakan pemegang saham terbesar kedua Cessa Hotel, Han Seo Jin. Meskipun begitu, ia lebih memilih tetap menyimpan kartu-kartu As yang bisa membalik keadaan tersebut. Dia benar-benar masih memberi mereka kesempatan untuk bisa bernafas segar dan bertindak semau mereka.
Di hari itu masih seperti beberapa hari sebelumnya. Topik pembicaraan siswa siswi SMA Dongjo dan SMA Meongso masih banyak tentang Yong Ri An dan Yong Ri Sa. Pandangan mereka tentang kedua kakak beradik itupun tampak merendahkan dan menjatuhkan mental siapa saja yang menjadi sorotannya. Setiap mereka berjalan, sudah pasti banyak suara bisikan menyakitkan di sekitarnya. Namun, tak sedikitpun gentar tampak pada diri Yong Ri Sa dan Yong Ri An. Mereka justru tetap tenang dan seolah-olah tidak terjadi sesuatu pada mereka. Mereka seperti sudah kebal dengan permasalahan dan pandangan yang harus mereka hadapi.
Advertisement
"Hahhh,.. apa hati Yong Ri Sa itu sudah mati? Bagaimana bisa dia tetap tenang-tenang saja dalam situasi ini? bahkan dia tak sedikitpun terpengaruh dengan omongan-omongan di sekitarnya." Gerutu siswi SMA Meongso sambil setengah kacak pinggang yang saat itu berada di depan kaca toilet SMA Meongso bersama seorang temannya.
"Terusss,.. menurutmu apa yang harus dia lakukan untuk meredakan ocehan mereka? Apa kamu mau kalian diberikan ancaman olehnya? Ancaman yang selalu serius dia lakukan. Aku sih nggak." Sambil mempoleskan bedak pada pipinya.
"Apa kamu takut sama dia? Apa hanya karena dia sekarang cucu pemilik yayasan, kamu jadi bersikap seperti ini? aku bahkan sangat jijik melihat wajahnya. 90% hasil operasi plastik. HEH!" ejeknya.
Clak,.. Suara pintu salah satu bilik dibuka oleh seseorang yang sedari tadi didalamnya.
"Jaga bicara kalian!" tegur orang yang baru keluar dari bilik itu dengan tegas.
Suara orang itu langsung membuat kedua siswi tersebut tersentak kaget. Mereka berdua tidak mengarahkan pandangan ke orang itu, melainkan mengarahkannya ke kaca didepannya. Di kaca itu tampak sosok Yoon Yeom Mi yang terlihat cukup emosi.
"Kalian masih terus membicarakan Yong Ri Sa hanya karena masa lalu dan perubahan wajahnya? Memangnya apa hak kalian? Terus apa bedanya? Bukankah kelopak mata dan hidung kalian juga hasil operasi? Ahhhh,.. mungkin aku tau perbedaannya. Dia operasi wajah karena tragedi mengerikan yang merenggut wajah aslinya. Sedangkan kalian hanya untuk kesenangan saja yang bahkan sebenarnya ini masih belum waktunya untuk seusia kita. Terus siapa yang lebih pantas untuk bahan olokan? Dia atau kalian?" sindir Yeom Mi yang langsung membuat mereka terdiam, menggigit bibirnya sendiri dan kemudian pergi dari hadapannya dengan menghentak-hentakkan kaki karena cukup kesal telah tertangkap basah.
Menyadari dua siswi itu sudah tidak berada ditempat itu, Yoon Yeom Mi langsung mengela nafas lega.
"Jangan melibatkan diri dalam masalahku jika kamu tak ingin terluka." Ucap seseorang tiba-tiba dari belakangnya.
Suara itu langsung membuat Yoon Yeom Mi tersentak dan membalikkan badannya. Sosok Yong Ri Sa ternyata sedari tadi berada di salah satu bilik dan baru keluar saat itu.
"Ri Sa-ya,.." lirihnya terkejut.
Tanpa berkata apapun, Yong Ri Sa hanya langsung mencuci tangan dan mengeringkannya dengan tisu. Hanyalah wajah datar yang ia suguhkan pada sahabat yang sempat tidak mempercayainya. Selama berhari-hari bahkan sudah beberapa minggu Yong Ri Sa lebih betah menghindar dari sahabatnya itu. Ia justru tidak mendesak sahabatnya untuk bisa mempercayainya. Ia lebih memilih untuk menyendiri di tengah banyaknya masalah yang ia hadapi.
Setelah membuang tisu yang baru dipakainya dengan kasar, Yong Ri Sa pun bergegas untuk menghindar dari orang yang ada didepannya. Namun dengan sigap Yoon Yeom Mi menahan tangannya, sehingga mau tak mau ia menghentikan langkahnya dengan membelakangi Yoon Yeom Mi.
"Ri Sa-ya,.. sampai kapan kamu akan menghindariku seperti ini? okey,.. aku minta maaf karena telah salah paham padamu. Kamu benar. Aku memang telah dibutakan oleh perasaan cinta hingga sempat berpikiran yang tidak-tidak tentangmu. Aku benar-benar menyesal telah salah mengira tentangmu. Maafkan aku! Tak kusangka, aku telah membuat sahabatku semakin terluka. Tak kusangka, aku telah membuatmu semakin kesepian dengan banyak tekanan. Maafkan aku!" pintanya.
"Aku sudah memaafkanmu. Jadi berhentilah memohon seperti itu. Dan,.. menjauhlah dariku. Aku tak ingin kamu ikut terluka." Ucapnya yang masih membelakangi Yoon Yeom Mi.
"Ani (tidak). Aku akan berada di sisimu. Selalu di sisimu. Karena kamu adalah sahabatku. Sahabat dalam suka maupun duka. Jangan menghindariku lagi! Jangan memintaku untuk menjauh darimu! Karena itu benar-benar sangat menyiksa batinku."
Kata-kata itu sontak membuat hati Yong Ri Sa terenyuh. Matanya sudah berkaca-kaca dan memberi aba-aba untuk menjatuhkan butiran bening dari hulunya. Ia hanya diam tak bersuara.
"Jika kamu menghindariku atau memintaku untuk menjauh darimu, maka saat itulah aku akan berfikir persahabatan kita benar-benar berakhir." Tegas Yoon Yeom Mi yang langsung membuat Yong Ri Sa menundukkan kepala dan tak kuasa menahan airmatanya.
Menghela nafas berat, "Apakah itu yang kamu inginkan? Jika hanya karena aku menghindarimu atau memintamu menjauh dariku, persahabatan kita berakhir, maka lakukanlah. Menjauhlah dariku! Dan selanjutnya aku takkan merasa bersalah karena harus melihat ada orang yang ikut terluka karenaku. Menjauhlah dariku! Agar kamu tidak terluka." Suaranya terdengar sedikit serak.
DEG.... jantung Yoon Yeom Mi seakan berhenti mendengar reaksi Yong Ri Sa. Dan kemudian ia pun berpindah ke depan Yong Ri Sa. "Aku akan jauh lebih terluka jika persahabatan ini benar-benar berakhir. Dari sekian banyak orang, hanya kamu yang bisa aku percaya. Tak ada seorang pun yang bisa kupercaya selain dirimu. Rasanya aku benar-benar tersiksa jika harus kehilangan sahabat sepertimu."
"Cobalah untuk rasional sedikit. Kamu masih memiliki Yoon Woo eonni, kamu masih memiliki keluarga yang menyayangimu dan bahkan masih banyak orang di luar sana yang masih bisa untuk kamu percaya. Kenapa kamu malah,.. malah memohon seperti ini? sadarlah! Aku hanya tak ingin kamu ikut terluka."
Yoon Yeom Mi diam sejenak dengan tatapan nanar menahan airmatanya, "Tak bisakah kita bertiga kembali lagi seperti dulu? Aku,.. kamu,.. dan eonni. Tak bisakah persahabatan kita kembali lagi? Apa di hati kecilmu tak ada sedikitpun keinginan untuk berkumpul lagi seperti dulu?" tak mampu menahan airmatanya lagi.
Lagi, Yong Ri Sa harus menghela nafas berat untuk mengendalikan dirinya, "Apa ini semua berawal dari perubahan namaku? Berkali-kali terlintas di benakku. Jika aku tidak jadi Yong Ri Sa, apakah kita tak akan jadi seperti ini? apakah persahabatan kita takkan terkoyak seperti ini? apakah persahabatan kita akan tetap aman jika aku masih sebagai Lee Ri Sa? Terus bagaimana jika aku kembali sebagai Reyka? Apakah itu tidak menjadi masalah untuk persahabatan kita? Itulah yang dari dulu terus beradu dalam otakku. Maka dari itu, mungkin akan jauh lebih baik jika persahabatan ini berakhir. Karena sampai kapanpun, aku takkan bisa kembali jadi Lee Ri Sa. Sahabat kalian adalah Lee Ri Sa bukan Yong Ri Sa atapun Reyka." Tegasnya dengan airmata yang sesekali masih bebas menjatuhkan dirinya.
"Aniya (tidak). Siapapun kamu, baik itu Yong Ri Sa, Lee Ri Sa atapun Reyka, kamu tetaplah sahabatku. Selama, ini adalah masih dirimu, kamu adalah sahabatku. Apa kamu masih meragukannya?"
Yong Ri Sa menatap lekat mata Yoon Yeom Mi yang sudah basah karena airmatanya. Ia sudah tak sanggup untuk mengeluarkan kata-kata untuk melawan permintaan tulus dari sahabatnya. Ia hanya memeluk Yoon Yeom Mi yang masih terisak itu.
"Mian-hae,.. Mian-hae,..(maafkan aku) Yeom Mi-ya." lirihnya sambil menepuk lembut punggung Yoon Yeom Mi.
Isakan itu sesekali masih terdengar jelas dari luar toilet yang kebetulan tidak ada orang yang lalu lalang di lorong depan ruangan itu.
Dan akhirnya persahabatan antara Yoon Yeom Mi dan Yong Ri Sa pun kembali bersatu dengan deraian air mata pengakuan dan penyesalan dari keduanya. Terus, bagaimana dengan persahabatannya dengan Heo Yoon Woo yang masih pecah itu? Apakah mereka benar-benar tak bisa kembali seperti dulu?
"Sekertaris Park,.. hari ini tak ada jadwal pertemuan kan?" tanya Yong Ri Sa pada sekertarisnya lewat ponselnya untuk memastikan jadwal pertemuan yang harus ia hadiri selaku Direktur pusat Cessa Hotel. Tangan kirinya memegang ponsel sedangkan tangan kanannya sibuk memijat keningnya yang tiba-tiba terasa pening. Saat itu ia sedang duduk bersandar di pagar atap SMA Meongso dengan menselonjorkan kaki kirinya dan menekuk kaki kanannya sebagai tumpuan tangan kanannya yang terus sibuk memijat.
"..." Jawaban dari seberang sana.
"Ahhh,.. baguslah. Jadi aku tak perlu datang ke hotel hari ini. Jika ada sesuatu, langsung hubungi aku." Suaranya sedikit lemas. Ia berkali-kali harus menghela nafas untuk meredakan sakit kepalanya. Terlalu banyak beban yang harus dipikulnya. Beban sebagai seorang pelajar SMA dan beban sebagai penerus keluarga Yong di usia belianya. Setiap hari ia harus membagi waktu antara sekolah dan pekerjaannya di Cessa Hotel. Sejak namanya berubah menjadi Yong Ri Sa, ia harus mengorbankan waktu istirahatnya. Tak jarang ia harus tidur paling lama 1 jam dalam sehari. Bukan sesuatu yang mengherankan jika melihat dia mencuri-curi waktu untuk istirahat saat gurunya sibuk menjelaskan materi di depan kelas. Dan selain itu, atap SMA Meongso adalah salah satu tempat favorit dan strategis untuk mengistirahatkan otaknya sejenak.
Setelah panggilan itu berakhir, ia langsung meletakkan ponselnya di saku baju seragamnya. Tiba-tiba ponselnya bergetar sekali tanda ada pesan masuk. Dengan lunglai, ia melihat pesan itu yang pengirimnya tertulis Choi Moo Gak Sunbae-nim. "Odika? (kamu dimana?)" Hanya itulah isi pesannya. Tanpa membalasnya, Yong Ri Sa langsung kembali memasukkan ponselnya ke saku dan kemudian memejamkan matanya.
Tak lama kemudian muncul suara orang yang sangat ia kenal dari pintu. "Hya! Yong Ri Sa! Kenapa kamu tidak menjawab pesanku?" ya, itu adalah suara dari Choi Moo Gak yang merasa jengkel karena terus diacuhkan oleh Yong Ri Sa. Ia berjalan mendekat ke Yong Ri Sa dan ikut duduk di sampingnya.
Tanpa membuka mata, Yong Ri Sa menghela nafas dan berkata, "Tanpa aku menjawab pun, Sunbae sudah tau keberadaanku."
Choi Moo Gak menatap lekat wajah pucat Yong Ri Sa yang masih menutup matanya itu. "Apa kamu sedang tidak enak badan? Wajahmu pucat." Tanyanya pelan.
Perlahan Yong Ri Sa membuka matanya namun tidak mengarahkan pandangannya ke orang yang mengajaknya bicara. "Aku hanya lelah. Lebih baik Sunbae tidak disini. Aku sedang tak ingin berdebat sekarang." Ucapnya lunglai.
"Aisshhh,.. lagi-lagi kamu seperti ini. Aku tidak menginginkan perdebatan denganmu. Kenapa kamu malah mengusirku lagi? Issshh,.." gerutunya.
"Tapi nyatanya Sunbae selalu datang membawa aura perdebatan denganku. Aura itu sangat kuat. Apa Sunbae tidak mengerti juga?" sedikit menolehkan kepalanya kearah Choi Moo Gak. Ia tak kalah jengkel karena waktu istirahatnya telah diganggu.
"Ternyata benar-benar susah menaklukkan si rubah satu ini. ck" dumelnya pelan namun tetap terdengar di telinga Yong Ri Sa yang membuatnya terkekeh pelan.
Advertisement
- In Serial73 Chapters
Tree of Magic
With nothing but the voices in his head to guide him, twelve-year-old Cameron has wandered the streets for more than two years, never staying in one place for more than a few months at most. Thirteen-year-old Greyson spends his weeks patching up a werewolf who fights in an underground mage arena to make money. Living alone, fifteen-year-old Eden has no friends and challenges himself and his limits by fighting in an underground mage arena. When the three of them meet, tensions are rising in Tejina, a city with many mages and supernatural beings. Wars are brewing there, and these three youth find themselves at the center of all of them. Mages, supernatural creatures, gods, and angels are about to clash, and these three youth will find their magic - and their minds - put to the test. Book 1 is completed as of 6/28/19, Book 2 is complete as of 9/20/19. Book 3 will begin posting on date unknown. Release Schedule: Mondays, Wednesdays, Fridays by 11:59 PM CST +/- 1 day
8 112 - In Serial35 Chapters
The Zone
A sci-fi story set in the 32nd century. John had been lying dormant for two years. He was preparing. For something big. Something that would engulf the entirety of the galaxy. But he knew it wouldn’t be enough. Whatever he did, it wouldn’t be enough. The Event was inevitable. So he decided to live as much as he could before the Event. He decides to go big and enrolls himself within the giant that is the Zi school. But never did he ever think… For more information about the pledge, go here.
8 161 - In Serial58 Chapters
Blood's Curse
Sixteen year old Marvin Perlie finds himself exposed to a world of wizards, monsters and more as he struggles to make peace with his own past, insecurities, and the friends and enemies in this new world.
8 159 - In Serial10 Chapters
Midthalion Saga
+++Working on new chapters. Share what I've posted with your friends and family! Be sure to build strong bonds with those who are important to you. We only have each other in this world for so long!+++ Can Roderick XXIII gather together and train a party of adventurers to clear out Madeon Caves and bring peace to the wildmarches of Midthalion? Sent from his home monastery in the west to the wildmarches of Midthalion, Roderick the Holy Avenger is devoted to living out his oath to bring the Holy Light to the dark corners of the world. He enlists the help of an old friend, Ulrich Vogelbrandt the dwarf druid, to train and prepare a fighting force capable of defending the west from the evil they both see gathering and growing in the east. Eoroth is an ode to Tolkienesque epic fantasy, Robert E Howard and H.P. Lovecraft's pulp fiction, and Gygaxian Dungeons & Dragons. I like to write about serious topics because I think it's fun. I hope it makes for a fun read. Place: Eoroth, a vast, flat world with many continents set in oceans that reach out and mingle with the Celestial Sea. Our story takes place on the continent of Thalion in the middle, unsettled region called Midthalion. Peoples: Races in Eoroth aren't different species; the species of man is just incredibly diverse, consisting of many known races (and perhaps some unknown). There are no humans in Thalion. Thalion's races include variations of elves, dwarves, halflings (billowits), pierros (clownish men), bergeracs (long-nosed and swarthy men of honour), orcs, trolls, goblins, and hobgobs. The Church: There's one dominant religion in Westhalion. The faith of the elves is an analogue to Roman Catholicism while the dwarves practice an Eastern Orthodox analogue. (Forgive me for not having figured out names yet.) The practitioners worship a triune god (the All-Father, Son-of-All, and Holy Light). There are many powers in heaven, all created by God. These include the Twelve High Thrones, individual, created beings who take on the role of guiding mankind in different aspects, drawing them closer and closer to God. (That should be the essentials. I could write pages on the theology. Comment where something's unclear in the story.) Natural World: There are plants and animals in Eoroth, but the world is also inhabited by spirits called aeons. Aeons are transformative beings; in the wild, they'll change based on whatever is happening nearby. Pollute a pond? Expect to see toxic toad-men running around. Leave a bunch of dead bodies strewn across a battlefield? Expect the place to become haunted with ghouls and ghasts. Druids are important for making sure that the aeons are pacified; that their needs are met so that they don't become rampaging monsters. Where the wilderness becomes overgrown, so too do the aeons. Aeons and People: Long ago, men learned how to trap aeons in stone tablets and use them for war. Now, anyone can capture an aeon into a special staff made by a druid. Men train, raise, and bond with these aeons. Druids often build entire ranches devoted to raising healthy aeons as allies and companions. Aeons are divided into twelve known families, and the church sees these as corresponding with the Twelve Thrones in Heaven. Direction: My goal is to get the story to one million words by June next year. I have tons of content in mind for the world. I want to release novels set in different ages of the world depicting different historical events. I hope to expand the setting into a tabletop role-playing game as well as a series of old-school JRPGs. But, it all begins with writing some stories and publishing my novels.
8 233 - In Serial42 Chapters
222|| Nardo wick fanfic
a spiritual being believed to act as an attendant, agent, or messenger of God, conventionally represented in human form with wings and a long robe.
8 186 - In Serial591 Chapters
Retribution Engine/Sturmblitz Kunst [Ultraviolent Martial Arts Progression Fantasy]
"The War of Fog is over. Every major city is under occupation. Now we prepare to take back our home." - Unknown Soldier The continent's great heroes have slaughtered one another for the ideals of their countries, but the world keeps moving. The industrious nation of Ikesia lays still smoldering from the nigh-apocalyptic War of Fog, yet it stubbornly forges onward, shielded from further invasion by the impenetrable Blackwall. Its leader - the Sage of Fog - has disappeared, yet his influence is still felt everywhere, his plans and contingencies still in motion - even the Blackwall is said to be his last, desperate creation. New heroes have begun rising from the war of fog, and there is more need for them than ever. A towering foreigner has emerged from the desolate Exclusion Zone. She strides into the war-torn country without the intent to pick sides, but is soon forced to do so when the machinations of malevolent occupiers collide with her own ego. Disclaimer: Retribution Engine and its sequel, Sturmblitz Kunst, are original works and are no way associated with, to, or sourced from existing copyrighted material. The story, all names, characters, and incidents portrayed in this production are fictitious. Copyright: This fiction and all associated works, artwork, fanfiction, derivative fiction, world building, assets, and anything that could conceivably be considered sourced from or created as a result of this fiction are the sole intellectual property of the author, herein known as Akaso. This work and all above terms are © Akaso 2022.
8 121

