《Soul In Seoul》#Part 28 (Sang Pengganti)
Advertisement
Kang Jung Tae terus memandang foto Han Seo Jin yang terpajang di samping peti jenazahnya. Tak sedetikpun pandangannya beralih dari benda tersebut. Matanya sudah terlihat sangat sembab akibat airmatanya yang menetes deras sebelumnya, dan selama berjam-jam ia berdiri mematung di dekat dinding cokelat muda itu. Di sampingnya juga berdiri seorang Yong Ri An yang sesekali sedikit membungkukkan badannya ketika ada orang yang datang untuk memberikan penghormatan terakhir pada Han Seo Jin.
Yong Ri An masih belum bisa mempercayai kenyataan nenek angkatnya pergi begitu cepat dan bahkan di saat itu sang penerus masih koma. Dalam fikirannya masih terus beradu, apa yang harus ia lakukan selanjutnya? Apakah dia yang harus melanjutkan perjuangan direktur Han dan Yong Ri Sa? Jika tanggung jawab selanjutnya diserahkan pada Kang Jung Tae, apakah dia akan dapat mengatasi lawan-lawan yang ditinggalkan oleh neneknya dan tak akan menghancurkan jerih payah Yong Ri Sa?
Tiba-tiba perhatiannya teralihkan pada dua sosok pria yang langsung membuat hatinya memanas. Kedua orang itu datang dengan raut wajah yang menyiratkan kemenangan besar. Pria yang sudah memiliki uban di kepalanya itu berjalan didepan pria muda yang tak tak lain adalah cucunya. Mereka berdua memasuki ruangan dimana jenazah Han Seo Jin berada. Setelah mereka memberikan penghormatan terakhir pada jenazah Han Seo Jin, mereka menghampiri Yong Ri An dan Kang Jung Tae.
"Aku turut berduka atas meninggalnya nenek kalian. Dan terlebih lagi orang yang digadang-gadang sebagai penerusnya justru masih koma. Aku harap kalian tetap kuat menerimanya." Ucap pria beruban itu yang tak lain adalah Heo Joon Wang dengan sangat tenang.
Tanpa memandang wajah Heo Joon Wang, Yong Ri An mengeluarkan kalimat sindiran, "Apa anda datang kesini hanya untuk memastikan ancaman terbesar anda benar-benar telah berkurang?" setelah mengatakan itu, ia menyuguhkan tatapan tajam pada mata kakek tua itu. Seakan ingin menumpahkan kemarahan atas tragedi yang baru saja terjadi pada orang-orang yang disayanginya.
Mendengar sindiran dari seorang remaja, Heo Joon Wang justru tertawa pelan. "Berani juga kamu. Nampaknya aku melihat rubah lain muncul disini." Masih dengan ketenangannya. "Sepertinya kamu harus lebih hati-hati Kang Jung Tae,.." mengarahkan pandangannya ke Kang Jung Tae yang juga menatap tajam matanya. "Ada dua rubah di sekelilingmu." Lanjutnya sebelum membalikkan badannya dan melangkahkan kakinya menjauhi dua remaja itu.
Kang Jung Tae menggeratakkan giginya, "Ya. Dua rubah yang akan membantuku untuk menghancurkanmu. Heo Joon Wang!" Tegasnya yang masih dapat didengar oleh dua pria itu.
Ketika dua pria bermarga 'Heo' itu sudah tak terlihat lagi, Yong Ri An kembali bersuara, "Apa kamu benar-benar mempercayaiku dan Yong Ri Sa?"
"Entahlah. Apakah ada rubah yang dapat dipercaya?" itulah jawaban singkat bernada dingin yang dikeluarkan oleh Kang Jung Tae sebelum suasana kembali hening.
###
Tawa menggelegar di dalam ruang CEO Cessa Hotel. Tawa khas sang CEO itu terdengar jelas dari luar ruangan. Saat itu ia masih bersama cucu laki-lakinya. Heo Joon Wang berdiri di dekat jendela kaca yang mengarah ke pemandangan luar gedung sambil membawa sebuah gelas anggur yang telah kosong.
"Hahahahaha,.. hari ini langit sungguh sangat cerah. Benar-benar saaaaangat cerah. Tak kusangka keberuntungan mengarah padaku. Han Seo Jin mati dan Yong Ri Sa,.. hahaha segera menyusulnya." Ucap Heo Joon Wang penuh dengan tawa kemenangan.
"Harabeoji,.. bukankah secepatnya harus ada rapat pemegang saham? Tak mungkin kan posisi direktur pusat kosong seperti ini?" tanya Heo Yong Min yang juga berdiri didekat jendela.
Heo Joon Wang diam sejenak.
"Kita tak perlu buru-buru. Masih ada hal lain yang harus dilakukan untuk benar-benar memukul mundur keluarga Yong dari Cessa Hotel." Sangat tenang.
"Apa maksud Harabeoji?"
"Kita harus lihat dulu apa yang akan mereka lakukan. Siapa kira-kira yang akan maju berperang selanjutnya, baru setelah itu kita akan lebih mudah menyerangnya. Sekarang di keluarga itu hanya tersisa dua anak kecil. Itu merupakan keuntungan untuk kita." Senyumnya semakin lebar.
Advertisement
###
Kurang lebih satu minggu setelah kematian Han Seo Jin yang sangat mengejutkan, kembali terjadi keributan di Cessa Hotel. Sebagian besar karyawan hotel itu kembali riuh dengan topik terhangat menyangkut kelanjutan kepemimpinan pusat Cessa Hotel. Mereka sangat antusias menunggu kehadiran sosok yang akan menjadi pengganti sementara ketika Yong Ri Sa koma.
"Hya hya hya,.. apa benar pengganti sementara direktur Yong hari ini akan datang?" tanya salah satu wanita muda yang merupakan karyawan manajemen Cessa Hotel, pada teman-teman seruangannya.
"Ya seperti itulah kabar yang beredar. Bukankah itu bagus? jadi posisi direktur utama pusat Cessa Hotel tidak kosong terlalu lama." Jawab salah satu karyawan lain yang sibuk dengan komputernya.
"Tapi siapa kira-kira penggantinya? Aku harap dia seluarbiasa direktur Yong. Yah,.. meskipun direktur Yong jauh lebih muda dari kita, beliau benar-benar luar biasa kepemimpinannya setahun belakangan ini. Sungguh memiliki pengaruh yang sangat besar. Aku harap ini tidak akan lama. Aku benar-benar berharap direktur Yong segera kembali." puji karyawan lain.
"Si atlit basket dan si atlit lompat tinggi. Kalau kalian suruh milih, kalian pilih mana?" ucap karyawan yang sedari tadi sibuk dengan komputer di depannya.
"Apa maksudmu? Jangan bilang kedua kandidat pengganti sementara direktur Yong adalah seorang atlit." Wanita muda yang pertama mengeluarkan suara sebelumnya masih belum dapat menerima pengganti direktur yang sangat dihormatinya itu adalah seorang atlit.
"Dan mereka berdua juga masih seorang siswa. Di tingkat yang sama dengan direktur Yong. Bahkan mereka berdua berada di kelas yang sama dan,.. sebelumnya mereka pernah selisih paham."
"Apa mungkin mereka bersekolah di SMA Dongjo?"
"Itulah faktanya. 1 SMA Meongso, 2 SMA Dongjo. Yang dari SMA Meongso masih koma, itu berarti sisanya dari SMA Dongjo."
Semua orang di ruang itu langsung diam dan menelan ludah ketika mendengar kandidat pengganti direkturnya adalah seorang atlit di SMA Dongjo.
"Wahhhhh,... anak SMA lagi? Apa kita bisa percaya padanya? Apa dia bisa menggantikan direktur Yong?"
###
Sekertaris Park keluar dari mobil dengan cepat. Kemudian dia langsung membukakan pintu belakang mobil yang ia kemudikan sebelumnya. Setelah pintu mobil itu dibukanya, ia langsung membungkukkan badan tanda ia menghormati orang yang akan keluar dari mobil itu. Dan tanpa menunggu lama, nampak kaki seorang pria yang mengenakan sepatu hitam mengkilap muncul dari mobil. Beberapa detik kemudian telah keluar seorang pria yang langsung mengancingkan jas abu-abu yang ia kenakan dengan aura penuh wibawa. Sorot matanya menyiratkan sebuah keyakinan besar untuk melanjutkan perjuangan orang-orang yang telah memberinya kepercayaan. Meski ia harus rela kehilangan banyak waktu dan kesempatan untuk berlatih olahraga yang sangat dia sukai hingga ia mampu dikenal begitu banyak orang di negara baru baginya. Ya, dia adalah Yong Ri An.
Setelah prosesi penghormatan terakhir jenazah Han Seo Jin, ada 2 pria berusia 40an datang menghampiri Kang Jung Tae dan Yong Ri An yang masih mengenakan setelan pakaian duka. Mereka berdua langsung membungkukkan badannya ketika baru sampai di hadapan Kang Jung Tae dan Yong Ri An.
"Kami turut berduka atas meninggalnya direktur Han. Maaf, kami baru bisa datang sekarang."
"Tak apa-apa, pengacara Do. Terima kasih telah menyempatkan diri untuk datang kesini di tengah kesibukan anda." Ucap Yong Ri An.
"Sebenarnya kami datang kemari, juga ingin menyampaikan sebuah pesan yang sebelumnya diberikan oleh direktur Han untuk kalian berdua apabila terjadi sesuatu padanya." Jelas pengacara Do.
"Untuk kami berdua? Pesan apa?" tanya Kang Jung Tae.
Pengacara Do langsung memberikan isyarat pada pria yang berdiri di belakangnya untuk memberikan sebuah amplop warna merah dari tas yang dibawakan oleh pria itu, dan menyerahkannya pada Kang Jung Tae.
Cepat-cepat Kang Jung Tae membuka amplop yang baru diterimanya yang berisi sebuah kertas putih. Ia langsung membaca tulisan yang tertera di dalam kertas itu yang tak lain adalah tulisan tangan dari Han Seo Jin.
Advertisement
'hanya itulah tulisan yang tertera di kertas putih itu.
"Lakukan sesuai kamar kalian? Apa maksudnya?" ucap Kang Jung Tae yang bingung dengan maksud neneknya dalam surat tersebut.
"Apa ini berhubungan dengan kedudukan direktur Han?" gumam Yong Ri An.
"Tapi ini sesuai kamar? Apa maksudnya? Urutan penempatannya? Urutan dari tangga atau dari,.." dumel Kang Jung Tae yang masih mampu terdengar di telinga pengacara Do.
"Apakah kamar kalian memiliki warna yang berbeda?" tanya sekertaris Do.
Kang Jung Tae dan Yong Ri An terdiam sambil menelaah sesuatu.
"Sudah lama direktur Han membedakan suatu hal dengan warna yang berbeda-beda. Apakah warna kamar kalian memiliki warna mayoritas yang berbeda?" tanya pengacara Do kembali.
"Ne, bajja. (ya, benar). Kamarku berwarna cokelat hampir seperti warna perunggu."
"Kamarku diberi nama silver room karena mayoritas warna perak, sedangkan kamar Yong Ri Sa adalah golden room karena warnanya mayoritas warna emas. Jadi itu artinya, dari awal direktur Han telah mempersiapkan urutan sebagai penggantinya sesuai dengan warna kamar kami. Karena dia menempati golden room, itu artinya dia yang pertama dapat tanggung jawab menggantikan posisi direktur Han. Dan itu telah dilaluinya selama ini. Apakah seperti itu, artinya?" ucap Yong Ri An dengan fikiran kosong tanpa memandang lawan bicaranya. Pandangannya mengarah ke lantai karena masih cukup bingung.
"Nampaknya memang seperti itu. Orang pertama yang jadi penerusnya adalah orang yang menempati golden room, selanjutnya silver room dan yang terakhir adalah Bronze room." Ungkap pengacara Do.
Mendengar itu, tangan Kang Jung Tae tiba-tiba mengepal. Ia merasa tidak terima haknya sebagai cucu kandung satu-satunya di keluarga Yong diambil oleh sepupu angkatnya. "Tapi sayangnya,.. saat ini Yong Ri Sa masih koma. Apa itu artinya orang yang maju selanjutnya adalah Yong Ri An yang menempati silver room?" ucapnya dengan nada yang sangat dingin.
Yong Ri An menarik nafas panjang sebelum mengeluarkan kata-kata, "Aku tau apa yang kamu fikirkan saat ini. Kamu pasti merasa hakmu telah benar-benar direbut kan?" dengan mengarahkan matanya ke Kang Jung Tae.
Kang Jung Tae langsung tersentak dan membalas tatapan Yong Ri An dengan tatapan yang sangat tajam.
"Apapun yang kamu fikirkan, itu terserah kamu bagaimana menanggapinya. Tapi, satu hal yang harus kamu tau adalah urutan ini bukan urutan siapa yang memiliki hak yang lebih besar. Melainkan urutan siapa yang harus menanggung beban serangan yang lebih awal. Dengan kata lain, orang yang jadi tumbal pertama adalah adikku, Yong Ri Sa. Dan kamu telah melihat keadaannya sekarang kan? Itulah yang harus dihadapi ketika mendapatkan tanggung jawab ini. Nenekmu bukan menyerahkan hakmu pada kami. Nenekmu ingin menyerahkannya padamu dengan aman, tanpa kamu harus menghadapi orang-orang yang berusaha menyerangmu. Itulah arti pesan ini. Kamu mengerti sekarang?" lanjut Yong Ri An yang terbawa emosi karena merasakan ketidakadilan yang dirasakan oleh adiknya selama ini.
Kang Jung Tae menyeringai. "Apakah benar seperti itu? Apakah ada rubah yang bisa dipercaya? Bisa aja kan, kalian mengkhianatiku sebelum aku menerima hak-hakku." Tersulut emosi.
"Tunggu sebentar. Untuk pembagian hak warisan yang disiapkan oleh direktur Han, akan saya bacakan setelah Yong Ri Sa bangun dari komanya. Karena namanya juga tertera dalam surat wasiat itu. Sementara menunggu dia bangun, kalian lakukan saja seperti pesan dalam surat yang baru kalian baca sebelumnya itu." pengacara Do mencoba menengahi perdebatan Kang Jung Tae dan Yong Ri An.
Alis Kang Jung Tae langsung terangkat mendengar kata-kata yang diucapkan pengacara pribadi neneknya itu. "Apa Halmeoni menyiapkan surat wasiat yang lain? Jadi, surat yang tadi,.." emosi Kang Jung Tae sedikit mereda.
"Surat yang tadi kalian terima itu adalah surat yang harus diserahkan pada kalian jika terjadi sesuatu pada direktur Han dan disaat yang bersamaan keadaan Yong Ri Sa tidak memungkinkan untuk menjalani aktivitas biasanya. Seperti yang terjadi saat ini. Jika Yong Ri Sa tidak koma, surat tadi tak perlu saya serahkan pada kalian. Dan saya bisa langsung menyampaikan surat wasiat yang ditinggalkan oleh direktur Han. Itulah pesan yang disampaikan direktur Han pada saya tiga bulan yang lalu." Jelasnya.
"Jadi begitu rupanya. Dan untuk sementara Yong Ri An yang harus membackup segala tanggung jawab yang biasa dijalani oleh Yong Ri Sa. Sesuai dengan urutan warna kamarnya. Aku mengerti sekarang." Ucap Kang Jung Tae pelan tapi masih terdengar ada nada tak suka di ucapannya itu.
Yong Ri An berjalan menuju ruang kerja yang biasa dipakai oleh nenek angkatnya dan telah diserahkan kepada adik kesayangannya. Sepanjang jalan ia menuju ruangan tersebut, semua mata tertuju padanya. Tidak sedikit dari mereka yang memuji sosok Yong Ri An yang terlihat sangat cocok dengan setelah jas warna abu-abu yang ia kenakan dipadukan dengan wajah rupawan serta postur tubuh atletisnya. Lebih tepatnya mereka terpesona dengan pemandangan yang baru saja lewat didepan mereka. Pemandangan dua pemuda tampan berjalan beriringan, seperti idol group yang tengah naik daun.
"Wahhh,... kalau setiap hari ada pemandangan seperti ini, sudah pasti tak ada karyawan yang ingin cepat pulang. Kakak direktur Yong bersama sekertaris Park benar-benar wahhhh,..." histeria seorang karyawan wanita muda yang tengah berdiri tak jauh dari lift yang akan dinaiki oleh Yong Ri An dan sekertaris Park.
"Kakak dari direktur Yong memang sungguh tampan. Ditambah lagi postur atletisnya. Ahhh,.. nggak kebayang gimana bentuk roti sobeknya." Timpal wanita lain yang ada disebelahnya.
"Eh eh,.. kalian sudah dengar tidak? meski seorang atlit, IQ kakak direktur Yong itu hampir setara dengan IQ dari direktur Yong." Bisik wanita yang lain.
Kedua wanita yang disampingnya itu langsung mengangkat alisnya, karena memang mereka belum mengetahui tentang info tersebut. "Benarkah? Berapa IQ-nya?" tanya mereka yang hampir bersamaan.
"186. Hanya sedikit lebih rendah dari adiknya. Tapi tetap saja itu sangat luar biasa, ada orang yang memiliki IQ setinggi itu."
"Wahhhh,.. jadi kedua bersaudara itu benar-benar sama-sama jenius? Daebak. Pantas saja mendiang direktur Han berani mengangkat mereka jadi cucunya dan bahkan mempercayai mereka untuk menggantikannya. Kalau melihat dari tingkat IQ-nya itu, bukan tidak mungkin keadaan manajemen tidak terpengaruh goncangan selama direktur Yong masih koma."
###
Sementara itu di dalam lift, sekertaris Park melihat ekspresi cukup aneh dari Yong Ri An yang berdiri disampingnya. Saat itu Yong Ri An terus menatap pintu lift yang masih tertutup dan sesekali pandangannya beralih ke angka yang muncul di samping pintu itu yang perlahan berubah ke angka-angka berikutnya sesuai dengan lantai berapa mereka berada saat itu.
"Sajangnim, gwaenchasimnikka? (Pak, apakah anda baik-baik saja?)" selidiknya.
"Ne. Gwaenchanh-ayo" jawabnya singkat namun getar suaranya terdengar seperti orang yang sedang gugup. "Emmm,.. jika kita sedang berdua seperti ini, panggil saja dengan nama. Aku tak ingin ada jarak dengan orang-orang yang melayani adikku." Pintanya.
"Ye?" spontannya yang cukup terkejut dengan sikap atasan barunya itu. Bagaimana bisa permintaan orang itu sama seperti permintaan adiknya dulu? Sepertinya memang kedua kakak beradik itu sangat dekat. Banyak sikap dan perilaku mereka yang tak jauh berbeda. Dalam hati, sekertaris Park merasa beruntung bisa melayani dua orang yang hangat seperti kedua kakak beradik itu. Meski di situasi lain mereka berdua akan benar-benar berubah sangat dingin dan mengerikan. Hingga orang-orang bisa langsung bergidik ngeri ketika melihat ekspresi kemarahannya. "Eeeeem,... Maaf sebelumnya. Apakah anda merasa gugup? Dari tadi saya perhatikan anda tidak terlihat seperti biasanya."
Mendengar pertanyaan itu, Yong Ri An langsung menolehkan kepalanya ke sekertaris Park dan tersenyum. "Ternyata anda benar-benar memiliki rasa peka yang tinggi. Sejujurnya saya memang merasa gugup. Apakah saya bisa bertindak seperti dia? Dia memiliki keberanian yang sangat besar. Sedangkan saya,.. saya sering lebih memilih untuk menahan diri."
"Adik anda memang sangat pemberani dan sangat aktif. Tapi adakalanya menahan diri itu akan jauh lebih baik. Karena menahan diri itu juga sebuah keberanian, keberanian untuk tidak menambah masalah dan musuh. Emmm saya tidak mengatakan bahwa adik anda salah telah memiliki keberanian yang sangat besar. Tapi adakalanya memang harus ada yang mengimbanginya seperti anda, yang lebih memilih menahan diri." Komentarnya.
"Ya, anda benar. Setidaknya saya masih tetap harus bisa menahan diri agar tidak menambah musuh dan beban untuknya. Akan lebih baik jika hal itu bisa mengurangi beban-beban yang dirasakannya selama ini."
Sekertaris Park hanya tersenyum mendengar sedikit curhatan atasan barunya, dan ia membatin. "Pantas saja selama ini musuh-musuh direktur Yong menggunakan kakaknya untuk melemahkan keberaniannya. Mereka berdua memang sangat dekat. Mereka juga berusaha saling melindungi. Terkadang memang hubungan yang terlalu dekat jadi sebuah kelemahan yang cukup besar. Itulah yang kuperhatikan dari kedua bersaudara ini."
###
Yong Ri An tengah duduk di ruang kebesaran milik adiknya. Ia tengah sibuk dengan tugas barunya sebagai pengganti sementara adiknya selama koma. Sesekali tangannya beralih dari map-map di meja itu ke ujung kedua alis dan memijatnya. Nampaknya pekerjaan barunya memang benar-benar melelahkan. Ini baru 2 minggu sejak ia resmi menggantikan adiknya selama koma. Ia merasa semakin kasihan pada adiknya yang melakoni kegiatan melelahkan ini setiap hari di usianya yang bisa dibilang, seharusnya masih fokus dalam kegiatan sekolah dan bermainnya.
Di tengah-tengah kegiatan itu, tiba-tiba telepon yang ada di meja kerja itu berbunyi. Cepat-cepat ia memencet sebuah tombol untuk menerima panggilan itu. "Ada apa, sekertaris Park?"
"Ada yang ingin bertemu dengan anda. Apa dia boleh masuk?"
"Siapa?" tanya Yong Ri An dan tiba-tiba ia tersentak ketika mendengar suara pintu itu dibuka seseorang, bahkan sebelum sekertaris Park memberitahukan siapa yang ingin bertemu dengannya.
"Apakah aku tidak boleh bertemu denganmu, direktur baru?" ucap orang yang baru masuk itu dengan tatapan cukup dingin.
Melihat orang itu sudah berdiri didepannya, Yong Ri An hanya bisa terdiam dalam keterkejutannya.
"Apakah kamu menikmati kegiatan barumu ini? hingga telah mampu melupakan lompat tinggi dan kekasihmu?" ucapnya lagi dengan nada yang masih cukup dingin.
"Yoon Woo-ya,.. apa yang kamu lakukan disini?" berdiri dari tempat duduknya. Ia masih terkejut melihat kekasihnya berdiri di tempat itu dengan masih menggunakan seragam SMA Dongjo.
Advertisement
- In Serial49 Chapters
Dungeon Engineer
Engineer reborn as a dungeon core in a fantasy world. Ike was a hobbyist clockmaker and former aerospace engineer enjoying his retirement on a habitat station orbiting Saturn. Unfortunately, his hard-earned peace was disturbed by a rapid decompression event and his resulting death. Contrary to his expectations, Ike found himself reincarnated as a handicapped and supposedly-man-eating dungeon core in a fantastic realm of wonder, magic, dragons, and wizards! Faced with a luckless start in this hostile new world, Ike will have to employ his new-found near-perfect recall of his past life experiences along with ingenuity to survive and manifest his ambitions while struggling with morality. IMPORTANT DISCLAIMER: This is my first time ever writing fiction. Don't expect quality.
8 251 - In Serial24 Chapters
Magriculture
When Aurum Industries announced the first Full Immersion Virtual Reality Massive Multiplayer Online Role Playing Game (FIVRMMORPG if you're hip) Limitless Online, most people saw it as an opportunity to live out their sword and sorcery fantasies. John, however, saw it as the opening of a new and as of yet uncrowded job market. One he was willing, and eager, to exploit. Determined to make money through virtual hard work and effort, John sets his sights not on the heights of magic or the perfection of the sword, but instead upon the tilling of the soil and the sowing of seeds as he explores the wide and wonderful world of magical agriculture all from the comfort of his own bed. Disclaimer: This is, at best, a very rough draft. I have already had to do one major rewrite and several minor rewrites of entire sections of the story, and it is a virtual certainty I will have to do re-writes again. Such changes may be as small as editing a few numbers (such as going back and changing how much mana an object holds) or it may force me to re-write entire chapters (this has happened once already, and I'm really hoping it doesn't happen again, but... life). Minor re-writes will probably never be posted here. Major rewrites probably will.Anyway, what this boils down to is: If you're looking for a fully cohesive story with few to no errors and publisher level editing, this is not the story for you. If your looking for a cohesive plot that's more than "Man farms, man farms, man farms well, man maybe makes money" you're probably also in the wrong place, but I will attempt to entertain you anyway.
8 149 - In Serial23 Chapters
A D&D Gamer in Garweeze Wurld
He doesn't know how he got here, and while the trappings are familiar, he doesn't actually know where he is, either. From the perspective of those around him, Duromar is a half-ogre barbarian, an uncivilized brute by any standard you care to use. But from his perspective, he's a character created in a gaming system. From either one, he must live within the rules of that system. This is the story of a gamer who ends up in a game that's just a bit off from what he knows. ---- I wanted to write something a little bit old-school. Most of the LitRPG I've found seems to be based on computer RPG styled stories. Progression through levels is fast, and depending on the game, skills and even attributes can be trained with or without class levels. This wasn't true with the older pen and paper games, and that's the style of leveling I wanted to write.
8 189 - In Serial16 Chapters
The First Adventure - GameLit Portal Fantasy (prequel to the Feyland Series)
High-tech gaming and ancient magic collide when a computer game opens a gateway to the treacherous Realm of Faerie.Jennet Carter never thought hacking into her dad's new epic-fantasy sim-game would be so exciting... or dangerous. Behind the interface, dark forces lie in wait, leading her toward a battle that will test her to her limits and cost her more than she ever imagined. (This complete novella is free at all retailers! Find more info HERE)
8 153 - In Serial13 Chapters
The Misadventures of Ray in an Alternate Universe
Ray, a strategy game nut, self-proclaimed master of the genre was offered a chance to play in a new VRMMO game known as War of Aetheria. A game based around grand war in an RPG setting, with the laws of war being changed through magic and different races. Along the way Ray will gather companions, get hurt, abused and get cursed by gods. Why does he suffer so much? The author likes it, don't ask me. Authors Note: I like it. Will Ray be able to survive? Maybe. Enjoy your read. (Discontinued until whenever I wanna torture this version of Ray. Currently torturing second Ray in my other weird story.)
8 150 - In Serial33 Chapters
Wooing the Ex-Wife
Liza was finally happy. She had a great family, a job she loved and she was finally free of all the pain. What will happen when she will come face to face with Jonathan, the man who had broken her heart, the man she loved and had left behind ? Liza claims to have forgiven him but can you ever truly forgive someone who has broken your heart? Jonathan had made a grave mistake four years ago. A mistake that had costed him the love of his life. When he comes face to face with Liza four years later, will he try to win her back or will he let her go, just like he did years ago ?Can Liza and Jonathan find a way to be together again or are they be fated to be apart forever? Find out all this in this sequel to 'Letters from an Ex- Wife'IMPORTANT NOTICE: This book will be removed from Wattpad except a few sample chapters on 21st March 2021Cover credit: @damn-danielp.s. If you are not a fan of Liza + Jonathan, you might want to skip the book, and if you are okay with it, then read on :)P.s. This is going to be a book where they get their happy ending together, so if you are looking for some other storyline then I sincerely request you to ignore this book and consider the last book as a stand alone. Don't get me wrong, Liza won't be running into Jonathan's arms and will be giving shit for all that he has done to her but it will end with them making up.
8 186

