《Soul In Seoul》#Part 30 (Peninggalan Sang Nenek)
Advertisement
Setelah kepergian Heo Yoon Woo dan Yoon Yeom Mi dari ruang perawatannya, Yong Ri Sa hanya bisa meneteskan airmata dan sempat terisak. Dadanya serasa sangat sesak. Selang oksigen yang masih menancap di hidungnya seakan tidak membantu banyak untuk melegakan pernafasannya. "Jadi eonni benar-benar membenciku. Apa aku melakukan cara yang salah untuk melindunginya?" gumamnya yang tiba-tiba sedikit tersentak ketika mendengar suara pintu ruangan itu kembali terbuka.
"Ri Sa-ya,.. maafkan eonni. Dan,.. maafkan aku juga. Mungkin selama ini aku memiliki banyak salah padamu." Pinta orang yang baru masuk ke ruangan itu yang tak lain adalah Yoon Yeom Mi. Ia berjalan mendekat ke Yong Ri Sa, namun pandangannya ia tundukkan karena saking malu dan rasa bersalahnya.
Yong Ri Sa menghapus airmatanya, "Tak perlu ada yang harus kumaafkan. Kalian tidak salah. Akulah yang salah. Aku adalah penyebab hancurnya persahabatan kita. Keputusanku untuk berubah jadi Yong Ri Sa adalah keputusan yang salah. Seharusnya aku tetap jadi Lee Ri Sa dan bukan Yong Ri Sa." Menunduk lemas.
###
Belum sampai satu minggu setelah Yong Ri Sa bangun dari komanya, ia sudah memaksa untuk pulang. Suasana rumah sakit membuatnya merasa tambah sakit dan juga serasa mati kebosanan. Ia sangat rindu dengan rutinitas padatnya dulu. Sebuah rutinitas harian dari pagi hingga malam hari, mulai sekolah diteruskan kegiatannya sebagai salah satu orang berpengaruh di Cessa hotel. Yahhhh meski itu melelahkan, baginya jauh lebih melelahkan ketika hanya berdiam diri di sebuah ruangan VVIP rumah sakit. Ia terus merengek ingin segera meninggalkan rumah sakit itu meski Yong Ri An dan Kang Jung Tae memintanya untuk mengikuti saran dokter agar tetap stay di rumah sakit itu. Tapi bukan Yong Ri Sa namanya jika permintaannya bisa ditolak. Kekeraskepalaannya yang semakin hari semakin tak dapat dilunakkan itu membuat kakak dan sepupunya terpaksa mengangkat bendera putih untuk memintanya bertahan lebih lama di ruang perawatan itu.
"Ri Sa-ya,.. pulihkan dulu kesehatanmu. Aku nggak mau nanti lukamu akan tambah parah jika tidak mendapatkan perawatan lebih lanjut. Selama ini kamu kurang begitu memperhatikan kesehatanmu. Gimana jadinya kalau kamu memaksa untuk rawat jalan seperti ini? apa kamu ingin membuatku mati cemas gara-gara tingkahmu itu?" ucap Yong Ri An dengan nada memohon sambil duduk di kursi samping tempat tidur pasien, dan tangannya terus menggenggam tangan Yong Ri Sa dengan harapan kekeraskepalaannya akan melunak. Sebelumnya mereka bertiga terus berdebat. Lebih tepatnya dua laki-laki itu melawan kekeraskepalaan satu perempuan. Dan selama hampir satu jam, Yong Ri Sa masih belum bisa dilunakkan.
Yong Ri Sa mendesah pelan tanda ia sebenarnya sudah bosan berdebat dengan dua orang yang di hadapannya. Yong Ri An duduk disampingnya sedangkan Kang Jung Tae berdiri tepat didepannya. Mereka berdua terlihat cukup frustasi menghadapi remaja pemberani dan keras kepala ini. Huhhhh,.. mereka berdua menghela nafas panjang secara bersamaan untuk menenangkan hati dan fikirannya agar tidak mudah terpancing emosi berhadapan dengan si tukang debat ini.
"Terus,.. setelah kamu keluar dari sini, kamu akan langsung maju menghadapi duo 'Heo' itu? dan ditambah lagi mereka sudah dapat satu 'Heo' lagi. Apa kamu sanggup melawan trio 'Heo' dalam keadaan seperti ini?" tanya Kang Jung Tae.
"Aku keluar dari sini bukan berarti untuk langsung datang menghadapi mereka. Aku juga tau dengan kondisiku saat ini. Kuserahkan semuanya pada Oppa saja. Sampai aku benar-benar yakin lukaku sudah pulih. Aku kan masih punya kewajiban lain sebagai seorang siswa. Apalagi sekarang aku sudah di kelas 3. Nggak bagus juga kan kalau kelamaan absensi kosong." Desaknya.
"Janji? Keluar dari rumah sakit hanya ingin fokus sekolah dan bukan langsung menghadapi mereka?" tanya Yong Ri An memastikan dan langsung disambut anggukan dari Yong Ri Sa.
Yong Ri An kembali menghela nafas berat. "Ya udah kalau gitu. Aku urus administrasinya dulu." ucapnya pada Yong Ri Sa. Setelah itu perhatiannya beralih ke Kang Jung Tae yang juga masih di ruangan itu. "Kamu bantu bereskan barang-barangnya."
Advertisement
Tanpa menunggu lama, Yong Ri An langsung bangkit dari tempat duduknya dan keluar dari ruangan itu.
Sambil memasukkan barang-barang Yong Ri Sa ke tas hitam berukuran cukup besar, Kang Jung Tae mendumel, "Aigo,.. kamu benar-benar. Huhhh,.. tak bisakah bersantai dulu disini. Lukamu aja masih harus diperiksa dokter setiap hari. Emangnya kamu ingin terjadi sesuatu dengan lukamu?--" dumelnya yang dipotong oleh Yong Ri Sa.
"Lukamu itu bukan luka gores biasa. Itu luka tusukan tepat merobek organ hati dengan lebar 1,5 cm dan kedalaman 1 cm. Jahitannya saja masih belum dilepas. Bisa saja sewaktu-waktu luka itu terbuka lagi jika tidak diawasi dokter. Apalagi kamu keseringan tidak kenal waktu kalau sudah beraktifitas." Potong Yong Ri Sa yang seakan tau betul kata-kata apa yang akan meluncur dari mulut Kang Jung Tae.
Mendengar Yong Ri Sa meneruskan dumelannya yang seakan bisa membaca fikirannya itu, membuat Kang Jung Tae nyengir pahit. "Ya, itu sudah tau. Tapi kenapa juga masih maksa keluar dari rumah sakit lebih cepat."
"Tadi juga sudah kujelaskan alasannya kan?" memicingkan bibir. "Kamu bereskan barang-barangnya aja. Jangan banyak protes." Terusnya.
Mendengar itu, membuat Kang Jung Tae langsung tambah sebal. Yah, memang mau tak mau ia harus menerima keluarga barunya. Masa lalu sebagai musuh namun masa depan sebagai keluarga. Itulah yang harus diterima oleh mereka bertiga.
Setelah segala urusan administrasi sudah selesai dan seluruh barang-barang telah dibawa ke mobil, kini waktunya Yong Ri Sa yang bergegas meninggalkan ruang perawatan yang baginya adalah sebuah penjara menyesakkan. Saat itu ia duduk di kursi roda dan didorong oleh kakaknya. Disampingnya juga masih ada Kang Jung Tae yang berjalan sejajar dengan mereka. Selama mereka berjalan keluar rumah sakit, pemandangan khas rumah sakit tampak menghiasi perjalanan mereka. Lalu lalang dokter, perawat dan beberapa pasien beserta keluarga pasien tak henti-hentinya bolak balik di sekitar mereka. Seakan setiap lorong-lorong itu tak pernah sepi dari orang lalu lalang.
Selama kurang dari 30 menit akhirnya kini mereka telah sampai di White House. Baru sampai, mereka langsung disambut oleh para pelayan dan bodyguard setia keluarga itu. Beberapa dari mereka juga membantu membawakan tas-tas besar yang dibawa oleh mereka bertiga dari rumah sakit. Dan tak disangka, di dalam rumah sudah ada tamu yang menunggu mereka bertiga. Tamu itu saat ini sudah berada di ruang tamu dan langsung berdiri ketika menyadari Yong Ri An, Yong Ri Sa dan Kang Jung Tae telah muncul dari balik pintu utama.
"Pengacara Do? Apa yang membawa anda kemari?" tanya Kang Jung Tae berjalan mendekat ke pengacara Do yang masih berdiri dari tempat duduknya.
"Sebenarnya saya ingin menjenguk nona Yong, tapi saya dengar nona Yong sudah akan meninggalkan rumah sakit. Maka dari itu saya langsung saja kesini." Jelasnya. "Ah,.. bagaimana dengan keadaan anda Yong Ri Sa-ssi?" tanyanya pada Yong Ri Sa yang masih setia duduk di kursi roda.
"Saya sudah lebih baik dari sebelumnya. Terima kasih telah menyempatkan waktu anda datang kemari. Emmm,.. silakan duduk kembali."
Pengacara Do kembali duduk. "Sebenarnya saya datang kemari ada sesuatu yang saya ingin sampaikan pada kalian bertiga."
Saat itu mereka berempat telah duduk berhadapan. Tiga laki-laki itu duduk di sofa, sedangkan Yong Ri Sa masih duduk di kursi roda.
"Untuk kami bertiga? Apa itu?" tanya Yong Ri Sa.
"Apa ini tentang wasiat dari Halmeoni yang sempat anda singgung sebelumnya?" tanya Kang Jung Tae.
"Ne, Bajja-yo. Ini memang tentang surat wasiat yang sempat saya singgung dulu." jawab pengacara Do diikuti membuka tas kerjanya dan mengambil sebuah map yang langsung diletakkan di meja.
Yong Ri An yang duduk paling dekat dengan map itu langsung mengambilnya dan membaca dengan seksama. Matanya langsung membola dan mulutnya sempat ternganga ketika membaca poin penting dalam surat wasiat itu.
Advertisement
"Apa ini benar, Pengacara Do?" tanyanya yang masih dengan raut muka penuh keterkejutan.
"Iya. Surat wasiat itu ditulis langsung oleh mendiang Direktur Han. Seperti yang anda telah baca, sebagian besar harta kekayaan mendiang Direktur Han diserahkan kepada nona Yong. Termasuk semua kedudukannya di Cessa Hotel, yayasan Jinhyang dan di restaurant Hong Diamond. Direktur Han mempercayakan semua tanggung jawab itu pada nona Yong."
Yong Ri Sa tak kalah terkejut mendengarnya. "Bagaimana bisa seperti ini? disini ada cucu kandungnya, tapi kenapa semuanya dilimpahkan padaku? Apa ini masuk akal?"
"Saya juga tidak tau alasan pasti, mengapa Direktur Han menulis surat wasiatnya seperti ini. Namun, saat itu beliau mengatakan pada saya, bahwa kedepannya anda bisa menyerahkan kedudukan itu pada orang yang anda percaya bisa mengelolanya. Saya rasa, beliau sangat mempercayai anda dan mendukung apapun keputusan yang akan anda pilih."
Yong Ri Sa menutup matanya dan menghela nafas panjang untuk mengatur detak jantungnya yang tak karuan. Dia masih sangat terkejut atas hal yang baru saja ia dengar.
Kang Jung Tae yang juga mendengar itu langsung merasakan panas di dadanya. Ia sangat kecewa dengan kenyataan bahwa neneknya lebih mempercayai cucu angkatnya dibanding cucu kandungnya. "Jadi,.. apa keputusanmu Yong Ri Sa? Apa kamu benar-benar akan mencuri hak-hakku di keluarga ini?" ucapnya sangat dingin.
Perlahan Yong Ri Sa kembali membuka matanya. "Baiklah. Aku akan menerima tanggung jawab ini. Aku akan mengelolanya sendiri."
Yong Ri An dan Kang Jung Tae langsung mengarahkan matanya ke Yong Ri Sa.
"Mwo? Jadi kamu benar-benar ingin merebutnya?" Kang Jung Tae cukup emosi.
"Ri Sa-ya,.. mengelolanya sendiri? Kondisimu masih belum memungkinkan." Tegur Yong Ri An.
"Oppa,.. geogjeonghajima (Jangan khawatir),.. aku bisa melakukannya. Halmeoni mempercayakannya padaku." Ucap Yong Ri Sa pada kakaknya. Kemudian perhatiannya beralih pada Kang Jung Tae, "Buatlah aku mempercayaimu, maka aku akan menyerahkannya padamu."
"Maksud kamu?" Kang Jung Tae menyipitkan matanya penuh selidik.
"Bukankah ini sangat menguntungkan buatmu? Aku akan membereskan masalah-masalah yang ditinggalkan oleh nenekmu. Dan nanti ketika aku sudah mempercayaimu, kamu akan mendapatkan hakmu di keluarga ini tanpa harus berhadapan dengan orang-orang itu. Jadi buatlah aku bisa percaya padamu, Kang Jung Tae." Tegasnya.
"Apa kamu akan menepatinya?" tanyanya lagi.
"Aku memang sudah terkenal licik, tapi aku bukanlah orang yang akan mengingkari janji." Tegasnya kembali.
"Benarkah?" lagi-lagi Kang Jung Tae masih belum bisa mempercayainya.
Yong Ri Sa kembali menegaskan, "Jika aku tipe orang yang suka ingkar janji, sudah pasti aku tidak disini, melainkan sudah kembali ke Indonesia sebelum waktunya. Terserah kamu mau percaya atau tidak, tapi itulah keputusanku."
###
Setelah pertemuan itu, Yong Ri Sa langsung menuju ke Golden Room dibantu oleh kakaknya. Ia berbaring di tempat tidurnya, sedangkan Yong Ri An duduk di bibir ranjang tempat tidur itu.
"Apa kamu yakin dengan keputusanmu? Tadi pagi kamu bilang akan beristirahat dulu dari urusan peninggalan Direktur Han, tapi barusan kamu bilang lagi, akan mengelolanya sendiri? Apa kamu benar-benar bersedia jadi pion di keluarga ini?"
"Ya, aku yakin. Sekolahku dan tanggung jawab yang dilimpahkan kepadaku harus berjalan beriringan. Sepertinya aku memang tak boleh mengacuhkan salah satunya."
Yong Ri An menghela nafas panjang. "Ri Sa-ya,.. sekarang kondisimu masih tak sebugar dulu. Terus,.. apa kamu yakin, setelah kamu yang bekerja keras kemudian Kang Jung Tae yang menikmatinya nanti? Kamu yang jatuh bangun, dia tinggal enaknya aja."
"Ini sudah keputusanku. Jadi percayalah padaku, Oppa,.."
Yong Ri An kembali harus mengatur nafasnya dan diiringi suguhan tatapan cemas, "Sekali lagi aku tanya, apa kamu yakin akan menyerahkannya pada Kang Jung Tae kelak?"
"Aku yakin. Tapi itu terjadi ketika jika aku sudah bisa mempercayainya. Dan saat itu juga aku merasa yakin, dia sudah siap mengelola aset-aset keluarganya." Yakinnya.
"Lalu setelah itu?"
"Aku akan pergi dari keluarga ini."
Yong Ri An langsung mengernyit. Bagaimana bisa adiknya berfikiran seperti itu? kenapa dia rela berkorban pada keluarga yang baru kurang dari dua tahun dikenalnya? Dan apalagi setelah berkorban seperti itu, dia akan menyerahkannya begitu saja, pada orang yang bahkan sempat jadi rivalnya dulu.
Melihat kegundahan tampak dari wajah kakaknya, akhirnya Yong Ri Sa berkata lagi, "Bukankah,.. perjanjiannya, kita hanya tidak boleh kembali ke Indonesia dalam sepuluh tahun? lalu setelah itu kita boleh kan, kembali kesana? Yah,.. aku tidak ingin menyia-nyiakan masa pelarianku. Aku harus memanfaatkannya sebaik mungkin. Salah satunya membantu keluarga ini, meski aku tau, aku hanyalah sebagai pion baja."
Yong Ri An hanya diam mengela nafas panjang.
"Setelah masa komaku yang ketiga ini, aku jadi sadar. Korea hanyalah tempat pelarian. Dan disaat tiba waktunya nanti, aku harus kembali ke tempat asalku." Lanjutnya kembali.
"Lalu,.. jika sampai masa pelarian kita berakhir, sedangkan Kang Jung Tae masih belum bisa kamu percaya, apa yang akan kamu lakukan selanjutnya?" tanyanya.
"Jika memang dia menginginkan hak-haknya kembali, bukankah seharusnya dia berusaha untuk bisa kupercaya? 6 atau 7 tahun,.. jika memang dia benar-benar bertekad, itu adalah waktu lebih dari cukup baginya untuk bisa mendapatkan kepercayaan dariku. Ya,.. setidaknya aku sudah memberikan kesempatan kan buat dia untuk menentukan masa depannya? Cukup membuatku mempercayainya, maka dia akan kembali mendapatkan hak-haknya yang menurutnya telah kurebut."
###
Yong Ri Sa duduk di ruang kerja yang dulunya digunakan oleh Han Seo Jin. Ruang kerja yang merupakan saksi bisu perjanjiannya dengan Han Seo Jin tentang pengangkatannya sebagai cucu keluarga Yong dan apa yang harus dilakukannya setelah diangkat di keluarga itu. Ia menautkan kedua tangannya diatas meja. Matanya berkeliling ke segala penjuru ruangan yang dikelilingi oleh rak-rak buku dan dokumen penting. Di sudut ruangan itu juga berdiri dengan gagah sebuah brankas warna merah berukuran 60x60cm dengan tinggi 1 meter. Ia berjalan perlahan mendekati brankas itu. Apa isi brankas ini? itulah yang terbersit diotaknya. Selain itu, bagaimana dia bisa membukanya, sedangkan dia tak tau password brankas itu. "Apa aku harus memanggil ahli brankas untuk membukanya? Ah,.. tidak tidak. Aku harus coba dulu. Orang serumit Direktur Han, pasti akan memilih kombinasi angka yang tidak akan diketahui dan disangka orang lain, sekaligus memiliki arti yang sangat berharga. Apa mungkin tanggal kematian suaminya?" gumamnya sambil memencet kombinasi enam angka yang merupakan tanggal kematian Yong Jae Suk. Namun ternyata itu gagal. "Tanggal kematian suaminya mungkin akan banyak orang yang tau. Emmm,.. apa mungkin tanggal kelahiran anak pertamanya?" jarinya kembali memencet kombinasi enam angka dan ternyata kembali gagal. "Mungkinkah tanggal lahir cucu satu-satunya?" mencoba lagi dan ternyata gagal. "Ahhh,.. meskipun itu tak banyak yang tau, tapi itu terlalu sederhana bagi seorang Direktur Han."
Yong Ri Sa kembali berfikir, mencoba mengingat-ngingat momen yang ia ketahui dan kemungkinan itu adalah momen yang berharga bagi nenek angkatnya. Tak lama kemudian ia tiba-tiba tersentak, "Mungkinkah,.." tangannya kembali memencet kombinasi angka dan ternyata berhasil. Melihat ia telah berhasil membuka brankas itu, senyumnya semakin lebar. "Jadi tanggal perjanjian itu sangat berarti untuknya." Ya. Kombinasi angka yang merupakan password brankas itu adalah tanggal perjanjian pengangkatannya sebagai cucu keluarga Yong sekaligus menanggalkan marga 'Lee' yang melekat pada namanya dan juga merupakan awal kehancuran persahabatannya bersama Heo Yoon Woo.
Setelah brankas itu terbuka, ia membongkar satu per satu berkas yang berada didalamnya dan menumpukkannya di lantai tepat disampingnya. Di dalam brankas itu ternyata sangat banyak dokumen yang berhubungan dengan yayasan Jinhyang dan Cessa Hotel. Hingga di map terakhir, ia tidak menemukan sesuatu yang aneh. "Orang serumit Direktur Han, tak mungkin hanya memiliki 1 brankas. Apalagi brankasnya ditempatkan di tempat sangat mencolok seperti ini. Apa mungkin brankas lain itu ada di ruangan ini juga?" ia menyebarkan pandangannya kembali ke segala penjuru ruangan. Sepintas tak ada yang aneh dengan dekorasi ruangan itu. Namun ketika ia lebih memfokuskan penglihatannya, ia melihat sesuatu benda kecil menempel di dinding sebelah kanan dari meja kerja ruangan itu. Perlahan ia mendekati benda kecil itu. Ketika sudah tepat didepan benda itu, ia langsung membuka penutupnya. Dan ternyata benda kecil itu seperti sebuah alat pembaca sidik jari. "Tak salah lagi. Ini pasti kunci pembuka brankas rahasia itu. Tapi,.. jika itu benar, sudah pasti hanya Direktur Han yang bisa membukanya." Yong Ri Sa merasa sedikit pesimis. "Kecuali,.. Direktur Han sudah memasukkan sidik jariku di sistemnya." Keoptimisannya kembali membuncah. Ia langsung menempelkan ibu jari kanannya di alat kecil itu dan langsung disambut dengan menggesernya sebuah lukisan naga disamping alat kecil itu.
Yong Ri Sa langsung mengernyit melihat sebuah brankas dilengkapi dengan tombol-tombol angka, tersembunyi dibalik lukisan naga tersebut "Password lagi?" dan sekali lagi dia harus memecahkan teka-teki password untuk membukanya. Ia mencoba memasukkan kombinasi angka yang sama dengan kombinasi angka di brankas sebelumnya. Namun, ternyata itu tidak berhasil. Kemudian dia mencoba memasukkan kombinasi-kombinasi angka yang sebelumnya gagal untuk membuka brankas yang lain. Dan ternyata berlaku juga dengan brankas itu. Kombinasi-kombinasi angka tersebut tidak ada satupun yang bisa digunakan untuk membuka brankas warna emas itu. Yong Ri Sa sudah mulai merasa frustasi meladeni kerumitan nenek angkatnya untuk menyembunyikan benda-benda berharga miliknya.
"Jika brankas yang itu passwordnya tanggal pernjanjianku dengannya, mungkinkah password brankas ini tanggal pertemuan pertamaku dengannya? Saat aku menolongnya dari gangster." Melirik lemas bekas luka yang ada di lengan kanannya yang merupakan bekas luka akibat ia menolong Han Seo Jin dari gerombolan gangster.
Ia mengarahkan jarinyauntuk menekan kombinasi angka yang tak lain adalah kombinasi tanggal pertemuanpertamanya dengan Han Seo Jin. Karena ia sudah tak terlalu berharap percobaanini akan berhasil, alhasil dia menekannya dengan sangat lemah. Berhasilkah dia?
>> Part 31
By the way,ending
Advertisement
- In Serial260 Chapters
The boy who fell in love with a tree
This is a story about a boy who fell in love with a tree… A story about powerful people changing the rulebook to stack the odds and line their pockets… I aim to create a story that will transport us so we get a glimpse of what that boy felt. The first 4 Chapters might be classified as a prologue depending on how you look at it. The boy quickly grows and the story really starts when the System arrives on Earth. I’m trying to achieve a relatively slow power progression and guide what we learn at a pace following the people in the story. There will be fighting but It’s more focused on base building. The MC is not all-powerful and all-knowing but he has some significant advantages. I’m trying to create a universe that makes sense in its own context. Much of what you will find, are my own world views, in a magnified way, as to make it for interesting fiction. The story took a life of its own when I started to write and I’m really happy with it. Not all of the tags I have marked will immediately be applied. There is stuff planned for far in the future such as the Sci-fi tag. There might be some cursing and gore but it is not very often. -------------- English is not my primary language, so I ask everyone to be forgiving. If you see a glaring error I would appreciate a msg but it is not feasible to fix everything. And if the story offends you, I wish you happiness, reading what you enjoy. ------------- Img link: https://unsplash.com/photos/EwKXn5CapA4
8 283 - In Serial21 Chapters
Luck And Chronomancy
Time Magic is the best magic as everyone knows, although there are lots of unique Talents in the world. Most people only remember Haste because it is hard to get to higher Phases of Chronomancy. That is still enough to make the Talent iconic. A lucky enough Aleatory Talent can position you for greatness or leave you languishing in obscurity. The only true equality in the world is when that glowing message pops up at 8 years old. Even if it doesn't activate until you are an adult at 16 you still know. Sure you can find a new dungeon spawn and get another chance at a rare Talent, even this one, but you have to already be ready to delve into the *Far Wilds*, which is far easier with wealth or family power. This is the story of where my good fortune took me and the difference it made, even among a party of 7 others including an Arcanist. It is a journey of magic and monsters but also math, which some think is actually worse. Luckily I was born with Intelligence and Focus as my personal traits, and my parents were scholars. Of course Chronomancy can also be a frontline combat talent. Versitility well beyond other Elder Talents like Gravity, Abstraction, or Arcana. Might could have worked for me, too. I also met a runaway princess. All the best adventures have a princess. She hated being a noble and we didn't get married but it still counts. Besides she really filled out our front line. All that Leadership training came in handy. I still don't know where she's from. Who cares? How well Haste goes with giant hammers is what's important. I never learned much about anyone in the party, except the one I grew up with. I'm not a people person. I just wanted to optimize dungeon clearing time. *******Story Details******* No romance, politics, or traumatizing content, slice of life, or even dialogue. 1st person narration, like a guide/adventure log. 2000-7000 words a day, maybe 40-60% rpgish combat log with some reasoning on combat decisions, with the rest character Talent discussion and progression stuff. 8 person party with a decent variety in roles. Party members usually have 2 primary functions. Told from the support/control Chronomancer's perspective. Each party member will have 6 Basic/Background Traits, then 3 actual Talents with abilities. Capstone from their Educational Institution, Arbritrary as a gift from the temples, and Aleatory which is decided at birth, revealed at 8, and activated after adulthood at 16. Aleatory Traits ignore requirements and are random why is why they are so important. They'll gain new Talents from finding Dungeons to consume in the *Wilds*. Mature dungeons in cities can provide *Challenges* to raise the Phase of a Talent, up to 3 times from 1 to 4. Each character will get to roughly 8 non-Trait Talents. Attributes come exclusive from Talents, are required by Talents, and provide various effects as well. I designed about 220 Talents with abilities, 4 in each of 4 phases. "Traits" are just Attribute stuff. I'm not sure how many will be detailed in the story, more than 100 for sure. I used Talents because I want to be free of the legacy of tabletop. Half those rules are just because of the limitations inherent in a pre-computer ttrpg. This story mostly uses combat Talents, although like 1/3 of the 220 are for crafting and other society and economy stuff. If you really wanted to be a Thief you might take Intuition, Awarness, and Might for Basic Traits and Deftness, Manipulation, and Trickery for Family/Education. Then you'd pick Acrobatics, and Climbing for Educational Capstone and Arbitrary traits. You Aleatory Trait might be Shadow(Light/Dark) Magic, Umbramancy. A Bard might swap Dexterity for Charisma, Music for Acrobatics, and have gotten Illusion(Shadow/Sound(Air/Force)) for their Aleatory Trait.
8 193 - In Serial6 Chapters
Odd Jobs for a Occult Handyman
Winston Shady is the Occult Handyman. Using batteries to power his spells, he does the jobs no one else can. Poltergeist haunting your garbage disposal he gots you but if your roof needs to be reshingled call someone else. I will post complete job stories once a month. I will attempt to connect each story sequentially into Winston's life by using interludes introducing more characters and issues during these.
8 191 - In Serial15 Chapters
Zoomchard: A Journey of War
In a world where the galaxy is dominated by Cybertronians and Earthians and both are in an endless war of immigration. One other robotic organism species are living in the same destroyed galaxy far away and are called Mechanians. One mechan named Zoomchard works in a convenience shop daily, the job does financially well but Zoomchard is tired of working near dead bodies and near the warzone that has taken the planet by the storm and is entering its thousandth year. On one eventful greeting, Zoomchard was walking back home when he gets a call from his best friend, with who he immediately spent a lot of time talking right after meeting each other again. His friend goes by the name "Jasmette" and she was planning on surprising her husband, Zoomchard obliged and planned it out until the moment came. It was a night of his nation's celebration and his best friend's reunion celebration. It was the beginning of new memories, but when Zoomchard woke up the next day, he noticed Jasmette has gone missing from a night stealth bombing. This led Zoomchard to join the Conhuy Army and avenge his fallen friends and parents.
8 175 - In Serial19 Chapters
The United Miracles of America (And Texas)
Every state is granted a special power upon joining the American nation. This power is a part of them, a fragment of their very soul, and they have to vow to use it only for the good of their nation. From elemental to straight up mystical, us states have it all. Every state has their own unique ability...Every state, except me.Howdy, my name is Texas, the lone star, the only state who didn't get sh*t.I'm not an indestructible diamond like Arkansas, or part animal like Florida, or a perfect little golden child like señor perfecto California who can just turn anything he wants to into pure gold.There has to be a reason I'm like this... right? There has to...And by god I'm gonna find out what that reason is
8 137 - In Serial20 Chapters
Devastation ○Finney Blake○
You're just a normal girl. Pretty outgoing and loud, but still successful in making others laugh and enjoy your company. Living in Denver these past months have been strange though. Slowly kids go missing, making you wonder if you're gonna be the one to help stop it or be the next one taken. After all this trauma, can love still blossom? ♡♡♡
8 203

