《BRAINWASH》16. MENCURI PERHATIAN
Advertisement
Jantungku berdegup lebih kencang sesaat aku berbaring di balik selimut dan menutup mata. Degupannya enggak melambat meski aku sudah meminum segelas air dan menarik napas panjang berulang kali. Padahal saat aku menghapus file naskah cerita Evalia enggak deg-degan begini loh. Kenapa setelah melakukan aksi nekatku malah jadi deg-degan begini.
“Tenang, Maira. Tenang. All is well. All is well,” bisikku menenangkan diri mengikuti perkataan dari film Bollywood favoritku.
Memaksa untuk tidur padahal otak dan mata enggan beristirahat benar-benar membuatku enggak nyaman. Segera kubuka mata lalu kembali meminum seteguk air. Kuambil ponsel untuk mengirim pesan kepada Erlangga. Bagaimanapun aku tetap harus meminta maaf kepadanya.
Maira Zanitha G : Ngga, udah tidur?
Erlangga baru membalas pesanku sepuluh menit setelahnya.
Erlangga Himawan: Emangnya aku bayi jam segini udah tidur.
Maira Zanitha G : Aku mau tidur, aku bayi dong.
Erlangga Himawan: Kan memang bayi, gampang ngambek!
Maira Zanitha G : Enak aja!
Btw, sorry yang tadi, ya.
Erlangga Himawan : Yang mana?
Maira Zanitha G : Aku minta maaf pokoknya. Udah bikin kamu enggak nyaman.
Erlangga Himawan : Santai, Mai.
Semakin Erlangga menganggap kesalahanku kepadanya bukan masalah besar, aku makin enggak enak dibuatnya. Segera aku mengirim pesan lagi dan memberitahu bagaimana hubunganku dengan Evalia.
Maira Zanitha G : Emm, Ngga, sebenarnya hubunganku dengan Evalia itu enggak baik. Evalia itu adik tiriku. Jujur saja, sebenarnya aku hampir lupa kalau dia penulis novel.
Maira Zanitha G : Ada banyak hal yang bikin kita enggak akur. Apa lagi kalau mengingat waktu kecil dulu.
Erlangga Himawan : Emangnya enggak pingin baikan? Kan enak tuh ada teman shopping, masak-masak, sama maskeran.
Aku tersenyum membaca balasan pesan Erlangga. Ada benarnya juga perkataan Erlangga, tapi aku sama sekali enggak berniat melakukan semua itu bersama Evalia. Dia udah jadi musuhku bertahun-tahun lamanya.
Maira Zanitha G : Enggak segampang itu, Ngga. Terlalu banyak rasa sakit yang dibuat. Ini bukan cuma perkara aku dan Evalia saja, tapi juga menyangkut keluarga.
Erlangga Himawan : Kayaknya berat, nih. Mau aku telepon?
Advertisement
Sekali lagi aku tersenyum menanggapi kebaikan Erlangga yang bersedia menjadi tempat curhatku. Akan tetapi aku belum siap menceritakan semuanya. Buat Erlangga, cukup dia tahu kalau hubunganku dengan Evalia enggak baik. Biar dia enggak terlalu berlebihan bila membahas tentang Evalia di depanku.
Maira Zanitha G : Enggak usah, aku mau tidur nih.
Erlangga Himawan : Dasar bayi!
Maira Zanitha G : Biarin!
Kuakhiri perbincanganku dengan membubuhkan emotikon menjulurkan lidah kepada Erlangga. Setelah itu kutaruh ponsel di atas nakas dan kembali memejamkan mata. Enggak lama terdengar suara mobil memasuki garasi. Itu pasti Papa. Setelah itu terdengar suara mobil lain yang turut memasuki garasi. Jantungku kembali berdegup kencang, itu pasti Mama Ambar dan Evalia. Segera kutarik selimut hingga menutup leher. Aku menunggu hingga ada yang memanggil nama atau mengetuk pintu kamarku.
Tok, tok, tok.
“Maira? Maira?” Suara Papa terdengar dari balik pintu.
Tok, tok, tok.
“Maira, kamu sudah tidur? Kok tumben. Maira? Maira?”
Aku sengaja enggak menjawab meski Papa sudah memanggilku sampai lima kali. Karena enggak mendapat jawaban, Papa akhirnya masuk kamar yang sengaja enggak aku kunci.
“Maira, kamu kecapekan ya? Tumben sudah tidur.” Papa mengusap lembut puncak kepalaku.
Aku membuka mata dengan malas. Papa tengah duduk di sisi tempat tidur. Wajah kelelahan tetap terpancar pada Lelaki berusia 48 tahun itu meski kamarku hanya diterangi lampu tidur.
“Papa sudah pulang?” tanyaku sambil berusaha duduk. Karena suara parau yang keluar dari mulut, aku pun mengambil gelas pada nakas. Kuminum seteguk sebelum mengembalikannya lagi.
“Barusan aja. Begitu tahu rumah sepi tapi pintu depan enggak dikunci langsung deh Papa kemari.”
“Aku lupa kunci pintu depan? Astagfirullah! Tapi pintu pagar terkunci kan waktu Papa datang?” tanyaku kaget begitu tahu kecerobohanku.
“Pintu pagar terkunci kok. Pintu depan saja yang lupa kamu kunci.”
“Aduh, maaf ya, Pa. Maira enggak sengaja. Tadi ada Mbak Jum sih, bersih-bersih rumah. Aku enggak tahu kapan Mbak Jum pergi.”
“Sudah, enggak apa-apa. Kamu sakit atau kecapekan?” Papa melihat gelas dan obat yang aku taruh di nakas. “Badan kamu panas ya? Kok ada parasetamol.”
Advertisement
Saat tangan Papa menyentuh keningku, ada rasa rindu yang terobati di sana. Ada rasa nyaman yang membuatku ingin menghentikan waktu beberapa menit agar aku bisa berlama-lama dengan Papa dalam keadaan sedekat ini.
“Udah enggak kok, Pa. Cuma agak pusing,” kataku sambil melempar senyum.
“Sudah makan?” tanya Papa khawatir.
Aku menggelengkan kepala. “Lagi enggak ingin makan.”
“Perut harus tetap diisi biar segera pulih. Sebentar ya, Papa panggilkan Mama Ambar.”
Papa pergi beberapa menit, saat kembali ke kamarku, Mama Ambar mengekor di belakangnya.
“Maira lagi nggak enak badan? Memangnya mana yang sakit? Sudah minum obat?” Mama Ambar bertanya dengan ekspresi penuh khawatir.
“Cuma pusing aja kok. Tante,” jawabku singkat.
“Mama Ambar bikinksn teh hangat dulu, ya. Mau makan apa?”
Aku menggeleng.
“Ada sereal, Ma? Atau sup krim mungkin, ya.” Papa memberi saran.
“Enggak usah, Pa. Aku enggak mau,” tolakku. Sebenarnya aku lumayan lapar sih, tapi enggak mungkin banget untuk meminta makanan porsi normal. “Roti aja deh, Pa.”
“Ada, Ma? Kalau enggak ada, biar Papa belikan di mini market.”
“Ada, kok. Papa ganti baju aja dulu, terus ke kamar mandi, baru deh temenin Maira lagi.”
Saran dari Mama Ambar segera disetujui Papa. Setelah mengusap pundakku, Papa pergi keluar kamar bersama Mama Ambar. Enggak perlu menunggu lama, Mama Ambar datang dengan membawa baki yang terbuat dari kayu. Di atasnya ada segelas teh yang menguarkan asap tipis, juga piring yang berisi beberapa lembar roti.
“Dimakan ya, Maira. Mama bantu mengoles selai cokelat nya, ya?”
Mama Ambar menaruh piring dan teh hangat di nakas. Sedangkan bakinya, Mama Ambar taruh di atas meja belajarku. Wanita yang wajahnya difoto kopi Evalia ini duduk di sisi tempat tidurku. Kedua tangannya sibuk memberi selai cokelat pada roti berbentuk persegi itu. Setelah menangkupkan dengan roti yang lain, diberikannya kepadaku.
“Maira kecapekan ini, sampai drop begini badannya. Masih semester awal udah banyak tugas ya?” Mama Ambar mencoba mencairkan suasana kamar yang tiba-tiba terasa canggung.
“Lumayan sih, Tante.” Lagi-lagi jawaban singkat yang kuberikan.
Saat Mama Ambar kembali mengoleskan selai cokelat pada roti, Papa datang. Papa sudah mengganti kemeja kantornya dengan t-shirt dan celana selutut. Papa duduk di dekat kakiku. Tangan kanannya memijit-mijit kaki kananku. Aku tersipu dibuatnya, karena perhatian Papa yang terlalu berlebihan.
“Kakiku enggak sakit, Pa. Aku sudah lumayan baikan juga kok,” tolakku saat Papa beranjak memijit kaki kiriku.
“Udah, biarin aja, Mai. Mumpung papamu ini lagi enggak sibuk. Biasanya pulang ke rumah juga masih sibuk sama kerjaan kantor,” tukas Mama Ambar.
Aku tersenyum menanggapi perkataan Mama Ambar.
“Maira butuh motor? Papa bisa belikan biar Maira enggak kecapekan begini.” Perkataan Papa membuatku tersentak.
“Bukannya kalau bawa motor sendiri malah capek, Pa?”
“Kalau Maira bawa motor sendiri, bisa pulang kapan saja. Enggak perlu nunggu temannya itu. Siapa namanya? Erlangga ya? Menunggu kan juga bikin capek, Ma.” Papa memberi penjelasan panjang lebar.
“Enggak usah, Pa. Aku belum butuh. Lagian kalau mau pulang tanpa nebeng Erlangga bisa naik ojek kok,” tolakku. “Akhir-akhir ini tugas memang lagi banyak sih, Pa. Kadang sampai begadang ngerjainnya.”
“Nanti Mama Ambar belikan vitamin biar badannya Maira selalu fit, ya. Suka susu? Mama sediakan susu buat sarapan kalau gitu. Atau Maira mau bawa bekal susu ke kampus?”
“Aduh, enggak usah Tante. Mungkin mulai besok, Maira bawa bekal roti aja. Biar kalau lagi malas ke kantin atau tugas kagi banyak, ada roti buat mengganjal perut sementara.”
“Ya sudah, Maira istirahat saja kalau gitu. Papa sama Mama Ambar mau ....”
Belum selesai Papa berbicara, kami mendengar suara teriakan Evalia memanggil mamanya dari kamarnya. Papa dan Mama Ambar sempat saling pandang sebelum keluar kamarku tanpa berpamitan. Setelah Papa menutup pintu kamar, aku tersenyum penuh kemenangan.
Advertisement
- In Serial225 Chapters
The Royal Contract
A one-night stand was all she wanted. A one-night stand was not his style. Still, they ended up together in a night of passion. No names, no feelings, and no complications.
8 1289 - In Serial59 Chapters
ETHEREAL, georgenotfound ✓
completed! (georgenotfound x fem!oc)ANGEL was a fitting name for someone like Aspyn - possibly one of the only names that were perfect for her. George found himself entranced by her presence, in a daze whenever she was there.Aspyn and George both grew up in a love-deprived childhood, but somehow, they manage to find it in each other.disclaimers !- i don't own any of the mcyts- i don't own any of the pictures used- strong language is used frequently
8 278 - In Serial48 Chapters
her dark lycan
| complete & edited |"screw, screw this, I'm rejecting you," she hissed through clenched teeth.Her hands clenching to fists by her side, her chocolate brown eyes flashing with anger.His eyes darkened upon her outburst, the ocean blue of his left eye turning black, while simultaneously the green of his right eye that had gold specks surrounding the pupil started to dim, the darkness taking over, both orbs turning black.His Lycan was trying to push through, her announcement of rejecting him didn't sit well with his Lycan, who was trying to take control and mark her, to make her his. Forever."I Venus Harrison, reject you Dante En-" her statement got cut off by a pair of warm and firm lips over hers.Sparks flew upon their touch, as he moved his lips against hers, growling when she wouldn't open her mouth for him, he squeezed her derrière in his rough hands and forcefully pushed his tongue into her mouth for it to clash with hers.--------------------------------------------------------------Venus Harrison was on the run, trying to find a pack to settle into after her old pack Blood Moon was destroyed by the Dark Crescent pack. She only wanted to live as a normal werewolf and escape her abusive past.Dante Enzo Salvatore is the only lycan left and the Alpha of the biggest and fiercest pack ever known. Cold and ruthless, Dante had no intentions of ever finding his mate, he didn't want one.But the plans of both change when Venus stumbles into Dantes pack, only to find they both were mates.Despite the shadows lurking in the corners, will they learn to accept and love each other?Or will they go up in flames?#1 in dominion 10/4/19#1 in family secrets 22/9/19mature content and swearing, read at your own risk
8 406 - In Serial42 Chapters
Secondhand Memories (Pioneer English Cell Phone Novel)
[Coming-of-age, Romance, Existential, Japan]Seiji and Aoi have been inseparable childhood friends and eventually, high school sweethearts. Believing in naive dreams and love, all seems well until a tragedy separates them with a chasm of frozen time. As one struggles with the aftermath, the world moves on, while the other remains still.Battered by temptation and the pressure to grow up, he discovers that life is more complicated than he thought - and that the heart and mind is quite vulnerable to change. Secondhand Memories is an emotional young adult coming-of-age story: a journey about the meaning of growing up, love, loss and sacrifice.---Originally serialized online in 2008 (Textnovel), Secondhand Memories pioneered the Japanese cell phone novel phenomenon in the English-speaking world, marking a moment in history of a new literary movement among thousands of young writers and readers globally. The remarkably unique fusion of simple haiku-like poetic technique and prose narrative has re-envisioned technology, youth culture, community and literature. This is the Wattpad version of the first draft, where each chapter is originally on separate pages, it is now compiled together for technical reasons.The pioneer English cell phone novel from 2008 is finally published in print and released as a beautiful 6" x 9" 558 page book with stunning illustrations, interior formatting and graphic design on Valentine's Day 2015 by Sakura Publishing, eagerly anticipated by fans and fellow cell phone novelists as a keepsake, fond memories, collector's item and inspirational reading pleasure. Order online via Amazon, Sakura Publishing, and more locations coming soon.More info, links, products, events and previews:http://secondhandmemories.net-From the early writing days of the featured award-winning author of visionary literary novel, "Espresso Love".
8 182 - In Serial74 Chapters
The Guy Next Door (COMPLETED)
"Every good girl wants a bad boy who is good only for her." "Every bad boy wants a good girl who is bad only for him." "Whenever you are looking for love don't look too far he might be right next door." Clara Wilson is your typical clichéd teen fiction protagonist with exactly two friends, no social life and a 4.0 GPA. She has been in love with Alec Evans, the unattainabley popular football quarterback and her next door neighbour forever. She thinks she's in for a quiet senior year until Jake Henderson arrives. Bad boy extraordinaire, he's arrogant, rude, undeniably gorgeous and shares a past with Clara that she wants to do nothing more than to forget.Caught between two boys, her life is turned upside down in the most ridiculous of ways. But maybe in the midst of all the confusion and chaos she finds not only love but also herself. Romance #2
8 94 - In Serial29 Chapters
Unrequited Love
Zara Ahmed Khan is a eighteen year old, a beautiful and innocent soul. Born in Pakistan to Ahmed Khan and shereen ahmed khan. Her father is pathan and her mother is a punjabi. She is the youngest child in her family with four older brothers and one sister. Her family moved to New York when she was just seven years old. She is currently in her second year of college. She is very ambitious, wants to make a future for herself and wants to be independent. Daniel Venttali is a thirty year old, he is a well know and respected businessman with multiple different companies, hotel chains, and media outlets. He is a ruthless billionaire with so much money that he can buy anything with just a swipe on his card. Although he is a smart and successful businessman, but nobody knows that he runs the biggest underground mafia. Read more to find out to see how two people come together. Both have their own wars to fight and let's see if they win.
8 123

